Pemuda Desa dan Avengers yang Terlupakan

|

Banyak dari kita mungkin akrab dengan waralaba film The Avengers, kisah sekelompok pahlawan dengan kemampuan dan latar belakang berbeda yang bersatu demi satu tujuan: menyelamatkan dunia dari ancaman yang tak bisa dihadapi sendirian. Film ini bukan sekadar hiburan layar lebar. Ada pelajaran di dalamnya yang, jika direnungkan, ternyata cukup relevan dengan persoalan riil yang dihadapi desa-desa di Indonesia hari ini.

Setiap tahun, ribuan pemuda meninggalkan kampung halaman menuju kota, mengejar peluang yang tidak lagi tersedia di tempat mereka dibesarkan. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi dampaknya kini mulai terasa nyata: desa perlahan kehilangan generasi yang seharusnya melanjutkan roda ekonomi dan kepemimpinannya sendiri—layaknya sebuah tim tanpa cukup jagoan untuk menghadapi ancaman yang datang silih berganti.

Pertanyaannya sederhana namun mengkhawatirkan: jika tren ini terus berlangsung, siapa yang akan melanjutkan estafet pembangunan desa sepuluh tahun mendatang, ketika aset paling berharga—pemuda usia produktif—justru memilih pergi mencari penghidupan di kota?

Ketika Data Bicara Lebih Jujur

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat, salah satu akar krisis regenerasi di sektor pertanian adalah persepsi bahwa profesi ini tidak menjanjikan masa depan yang layak bagi generasi muda. Padahal, dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman—teknologi pertanian, akses pasar digital, atau pengolahan hasil bernilai tambah—sektor ini sesungguhnya berpotensi menjadi jalan baru bagi pemuda desa untuk membangun kehidupan yang lebih baik tanpa harus merantau.

Kekhawatiran itu semakin nyata jika ditelusuri lebih jauh lewat Indeks Pembangunan Pemuda 2024, yang mencatat skor keseluruhan 58,33. Dua sektor menunjukkan capaian relatif baik, yakni pendidikan dan kesehatan, yang masing-masing berada di angka 70,00. Namun skor jauh lebih rendah muncul di bidang kesempatan kerja (45,00) serta partisipasi dan kepemimpinan (50,00)—dua faktor yang justru paling menentukan apakah pemuda desa memilih bertahan atau pergi.

Baca Juga:  Catatan Kritis Satu Tahun Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

Kesenjangan ini diperparah kenyataan bahwa di banyak desa, mayoritas pemuda hanya menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah dasar, akibat terbatasnya akses dan dukungan pendidikan lanjutan. Dengan bekal pendidikan yang minim, sulit bagi mereka bersaing menghadapi tantangan ekonomi yang kian kompleks—baik di desa maupun ketika mengadu nasib di kota.

Dari Pahlawan Tunggal Menuju Kolaborasi

Selama ini, pembangunan desa kerap bergantung pada sosok sentral—tokoh lokal berpengaruh atau kepala desa yang dianggap penggerak utama, semacam pahlawan tunggal yang diharapkan menyelesaikan semua persoalan sendirian. Padahal, semangat kolaborasi sesungguhnya bukan konsep asing bagi masyarakat desa. Ia telah lama diwariskan leluhur dalam bentuk gotong royong, jauh sebelum istilah kepemimpinan kolaboratif populer di ruang-ruang diskusi kebijakan.

Pemerintah, melalui Bappenas, telah meluncurkan Indeks Desa Membangun sebagai instrumen pemetaan capaian pembangunan desa, dengan tujuan pemerataan dan penghapusan kemiskinan ekstrem. Namun, kebijakan sebaik apa pun akan kehilangan daya ungkitnya jika tidak diimbangi pelibatan aktor yang tepat: pemuda sebagai subjek yang aktif merancang perubahan, bukan sekadar objek yang menerima program pembangunan dari atas.

Tokoh pergerakan Tan Malaka pernah menulis, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Kalimat ini mengingatkan bahwa di tengah keterbatasan sumber daya dan infrastruktur desa, modal yang justru dimiliki pemuda—idealisme, keberanian mencoba hal baru, kepekaan terhadap perubahan zaman—adalah aset yang tidak bisa digantikan oleh anggaran atau kebijakan semata.

Baca Juga:  Jangan Jadikan MBG ATM Yayasan

Superhero yang Lahir dari Desa

Dalam narasi The Avengers, kekuatan sesungguhnya bukan terletak pada satu pahlawan super, melainkan pada kemampuan mereka berkolaborasi meski berbeda latar belakang dan cara pandang. Iron Man dengan teknologinya, Captain America dengan kepemimpinannya, Thor dengan kekuatan fisiknya—semua melebur menjadi kekuatan kolektif yang jauh lebih besar dari jumlah individunya.

Desa, pada dasarnya, memiliki modal sosial yang serupa. Yang dibutuhkan bukan menunggu lahirnya satu tokoh penyelamat, melainkan mendorong lahirnya kolaborasi lintas pemuda dengan keahlian dan minat berbeda, yang bersama-sama menghadapi ancaman ekonomi, sosial, dan politik yang mengintai keberlangsungan desa mereka sendiri.

Bung Hatta pernah mengingatkan, Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar dari Jakarta, melainkan karena lilin-lilin kecil yang menyala di desa. Pesan ini menegaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak semata bergantung pada pusat kekuasaan, tetapi pada kontribusi kecil yang tersebar merata hingga ke pelosok negeri—dan pemuda desa adalah salah satu penyumbang cahaya itu.

Mengukur Batas Sebuah Analogi

Tentu, analogi superhero ini punya keterbatasan yang perlu diakui. Berbeda dengan Avengers yang menghadapi ancaman tunggal dan terdefinisi jelas, persoalan desa jauh lebih kompleks: kemiskinan struktural, minimnya akses pendidikan, infrastruktur yang belum merata, hingga migrasi tenaga kerja yang didorong kebutuhan ekonomi mendesak, bukan sekadar pilihan gaya hidup semata.

Baca Juga:  GP Ansor Kota Bandung Sinergi dengan BNN, Lakukan Ini

Mengharapkan pemuda desa tampil sebagai pahlawan penyelamat tanpa dukungan struktural yang memadai justru berisiko membebani mereka dengan ekspektasi yang tidak realistis. Idealisme dan semangat kolaborasi memang penting, tetapi tanpa akses pendidikan yang layak, permodalan usaha, dan kebijakan afirmatif dari pemerintah, semangat itu bisa layu sebelum sempat berkembang.

Karena itu, narasi pemuda sebagai Avengers desa barangkali lebih tepat dipahami sebagai ajakan berpikir kolaboratif, bukan solusi tunggal yang menyederhanakan persoalan struktural yang jauh lebih rumit. Peran pemerintah tetap menjadi prasyarat—sebagai penyedia panggung sekaligus mitra, bukan sekadar penonton dari inisiatif pemuda yang bekerja sendirian tanpa dukungan.

Menyalakan Lilin yang Nyaris Padam

Pada akhirnya, masa depan desa barangkali tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran pembangunan yang dikucurkan, melainkan seberapa besar ruang yang diberikan kepada pemuda untuk benar-benar berperan sebagai subjek perubahan. Banyak tokoh bangsa besar justru lahir dari pemuda desa yang awalnya hanya berjuang memperbaiki kondisi kampung halamannya sendiri, sebelum tumbuh menjadi versi kecil dari pahlawan yang mereka kagumi.

Boleh jadi, Captain America atau Iron Man versi Indonesia sesungguhnya sedang tumbuh di sebuah desa yang jarang disorot media—menunggu kesempatan, dukungan, dan kepercayaan untuk benar-benar berperan. Pertanyaannya kini kembali kepada kita bersama: sejauh mana kita bersedia memberi ruang itu, sebelum desa kehilangan lebih banyak lagi generasi yang seharusnya menjadi penerusnya?

Oleh : Dede SumarsahPenulis adalah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Bandung

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran