Sebuah gelombang dukungan dari 28 PCNU se-Jawa Tengah menegaskan kembali supremasi pesantren sebagai benteng moral dan akar rumput Nahdlatul Ulama.
Di bawah langit Jawa Tengah yang beranjak hangat pertengahan Juni 2026, sebuah poros spiritual dan struktural sedang meneguhkan arah jalannya. Bukan sekadar kesepakatan birokratis di atas kertas berstempel resmi, melainkan sebuah maklumat kultural yang bergetar dari bilik-bilik pesantren hingga ke ruang-ruang rapat perkotaan.
Sebanyak 28 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah melahirkan suara yang bulat, jernih, dan kokoh, yaitu membawa pulang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama ke rahim sejatinya, yakni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Gerakan kolektif ini bukanlah riak kecil dalam politik keagamaan. Dipelopori oleh tokoh-tokoh kunci seperti Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I (Ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen) dan Kiai Abu Joharudin Bahry, M.Hum (Ketua Tanfidziyah PCNU Pemalang), suara dari 28 cabang ini menjelma menjadi sebuah maklumat tebal yang dikirimkan langsung melalui sistem DIGDAYA kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Di balik daftar panjang wilayah, mulai dari pesisir Rembang, perbukitan Wonosobo, hingga ketukan urban Solo dan sekitarnya, terdapat sebuah keyakinan bahwa masa depan jam’iyah harus dijaga oleh kesucian atmosfer kepesantrenan.
Kedaulatan Kultural
Mengapa Lirboyo? Pertanyaan ini dijawab oleh para kiai dengan sebuah perspektif yang melampaui urusan logistik dan geografi. Lirboyo di mata akar rumput Jawa Tengah adalah sebuah personifikasi dari keberhasilan luhur pendidikan tradisional NU.
Pesantren ini berdiri bukan sekadar sebagai tempat belajar, melainkan sebagai sebuah metafora hidup tentang bagaimana tradisi mampu bertahan, beradaptasi, dan memimpin di tengah gempuran modernitas.
Menjadikan Lirboyo sebagai tuan rumah adalah upaya menghadirkan best practice, sebuah cermin besar bagi ribuan pesantren di seluruh penjuru negeri untuk berkaca pada tata kelola kemajuan spiritual dan material yang seimbang.
Pilihan terhadap Lirboyo adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap peran strategis pesantren dalam menjaga marwah, ukhuwah, dan kemaslahatan jam’iyah Nahdlatul Ulama secara luas.
Lebih dari itu, dukungan ini bersandar pada fondasi kerelaan yang tulus (keikhlasan) yang telah dinyatakan secara resmi oleh Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo melalui surat mereka pada 19 Mei 2026.
Ketika sebuah pesantren besar menyatakan kesiapannya untuk berkhidmat menjadi pelayan bagi para ulama se-Indonesia, maka wilayah-wilayah di sekitarnya menyambutnya bukan dengan kecurigaan, melainkan dengan gotong royong kosmik.
Ini adalah pertautan antara kesiapan infrastruktur modern yang memadai dengan jejaring emosional pesantren-pesantren besar NU lainnya yang siap menyokong tanpa pamrih.
Perisai Spiritual di Tengah Pusaran Zaman
Surat Pernyataan Resmi PCNU Kebumen No: 278/PC.01/A.II.07.99/1420/06/2026 (tangkapan layar / SM / benny benke)
Muktamar selalu menjadi panggung besar di mana gagasan, struktur, dan terkadang gesekan kepentingan bertemu. Di sinilah letak kecerdasan intuitif para kiai di Jawa Tengah. Mereka memahami bahwa riuh rendah muktamar membutuhkan sebuah “jangkar moral”.
Iklim kepesantrenan Lirboyo yang pekat, suci, dan disiplin diyakini akan menjadi perisai spiritual yang ampuh untuk menjaga perhelatan agung ini dari hal-hal profan yang dapat mencederai muruah organisasi.
Di bawah teduhnya asrama dan gema zikir Lirboyo, setiap keputusan kepemimpinan diharapkan lahir dari kejernihan hati, bukan dari kalkulasi politik sesaat. Apalagi niat jahat berselimut amanat.
Sikap solid 28 PCNU ini dikonfirmasi bukan sebagai gerakan elitis, melainkan getaran murni dari akar rumput. Di era di mana keputusan sering kali ditarik dari atas ke bawah, Jawa Tengah membalikkan arus tersebut. Mereka menyuarakan apa yang dirasakan oleh umat di tingkat bawah.
Mereka menginginkan sebuah muktamar yang adil, bermartabat, dan kondusif. Sebuah perhelatan yang setelah usai, tidak meninggalkan luka, melainkan berkah.
Kini, menjelang pembukaan yang dijadwalkan pada 1–5 Agustus 2026, peta aspirasi telah terbentang jelas. Soliditas struktur cabang di Jawa Tengah telah menjadi episentrum perbincangan hangat di seantero negeri.
Mereka tidak hanya sedang memilih sebuah tempat di peta; mereka sedang menegaskan kembali identitas hakiki Nahdlatul Ulama. Bahwa dari pesantrenlah ia lahir, dan ke pesantrenlah ia harus selalu pulang untuk merawat jagat dan membangun peradaban.
Oleh: Benny Bengke



Tinggalkan Balasan