Efek Domino Pelemahan Rupiah: Bengkel Motor di Tasikmalaya Terjepit Kenaikan Harga Sparepart

|

GUGAH – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada pasar keuangan atau dunia usaha berskala besar. Di tingkat akar rumput, gejolak kurs juga mulai dirasakan para pelaku usaha bengkel motor yang harus menghadapi lonjakan harga suku cadang, oli, hingga ban kendaraan.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Azzam Muslim, pemilik Bengkel Rahayu Motor yang berlokasi di Jalan Banjar-Cilangkap, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Dalam tiga bulan terakhir, ia mengaku harus menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan bengkel yang terus terjadi secara bertahap.

“Sejak April hingga Juni, harga sparepart, oli, dan ban motor mengalami kenaikan cukup signifikan. Kenaikannya berkisar antara 15 hingga 25 persen,” ujar Azzam.

Menurutnya, tidak semua komponen mengalami kenaikan dengan tingkat yang sama. Beberapa jenis kebutuhan bengkel masih relatif stabil, sementara lainnya mengalami lonjakan harga yang cukup tajam.

Komponen baut dan mur misalnya, hingga saat ini masih berada pada harga yang relatif stabil. Sementara itu, sektor pengapian dan kelistrikan mengalami kenaikan namun masih dalam batas yang dapat diterima konsumen.

Baca Juga:  Berlomba Wujudkan Kemandirian Ekonomi, GP ANSOR Cianjur Kembangkan Program AGRO

Kenaikan paling terasa terjadi pada produk ban dan oli mesin. Dalam kurun tiga bulan terakhir, kedua komoditas tersebut telah mengalami kenaikan harga hingga tiga kali.

Sebagai contoh, ban motor yang sebelumnya dijual sekitar Rp150 ribu kini naik menjadi Rp165 ribu hingga Rp180 ribu, tergantung merek dan spesifikasi. Untuk merek premium, harga bahkan telah menembus lebih dari Rp250 ribu per unit.

Ojol Jadi Kelompok yang Paling Terdampak

Lonjakan biaya perawatan kendaraan turut dirasakan para pengemudi ojek online yang menggantungkan penghasilan harian dari kendaraan roda dua.

Azzam menuturkan, oli mesin yang sebelumnya dijual sekitar Rp50 ribu kini sudah mencapai Rp80 ribu per botol. Kondisi ini membuat banyak pelanggan, khususnya pengemudi ojol, mengeluhkan meningkatnya biaya operasional.

Baca Juga:  Dolar AS Hantam Rupiah hingga Babak Belur, Mata Uang Garuda Nyungsep ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah

“Banyak pengemudi ojol yang mengeluh karena pendapatan mereka tidak bertambah, sementara biaya perawatan motor terus naik,” katanya.

Menurut Azzam, kenaikan harga komponen kendaraan menjadi tantangan tersendiri karena motor merupakan alat utama untuk mencari nafkah bagi sebagian besar pelanggan bengkelnya.

Waspadai Maraknya Oli Palsu

Di tengah tingginya harga oli asli, Azzam juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap maraknya peredaran oli palsu yang beredar di pasaran.

Menurutnya, kemasan produk palsu kini semakin sulit dibedakan karena dibuat menyerupai merek-merek terkenal seperti AHM Oil maupun Yamalube.

Ia mengaku pernah menerima keluhan dari pelanggan yang mengalami masalah pada mesin kendaraan setelah menggunakan oli yang diduga tidak asli.

Beruntung, saat ini sejumlah produsen telah melengkapi produknya dengan teknologi QR Code atau barcode yang dapat digunakan konsumen untuk memverifikasi keaslian produk.

Baca Juga:  PGM Kota Tasikmalaya Pertanyakan Keseriusan Pemkot Bentuk Dewan Pendidikan

“Oli itu ibarat darah bagi mesin motor. Kalau kualitasnya buruk atau palsu, dampaknya bisa sangat merugikan karena berpengaruh terhadap umur mesin,” tegasnya.

Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Meski menghadapi tekanan biaya operasional yang terus meningkat, Azzam tetap berusaha mempertahankan usahanya. Selain mengelola Bengkel Rahayu Motor, ia juga menjalankan Ramo Garage, sebuah usaha yang bergerak di bidang jual beli dan perawatan Vespa, mulai dari model klasik hingga Vespa matic modern.

Baginya, tantangan ekonomi saat ini harus dihadapi dengan inovasi dan kemampuan beradaptasi.

Azzam berharap kondisi ekonomi nasional segera membaik, terutama dengan menguatnya nilai tukar rupiah sehingga harga-harga kebutuhan usaha dapat kembali stabil.

“Kami para pelaku usaha kecil hanya berharap kondisi ekonomi segera pulih. Kalau rupiah menguat dan harga kembali stabil, roda usaha bisa berjalan lebih sehat dan masyarakat juga tidak terlalu terbebani,” pungkasnya.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran