Ketua PWNU Jabar Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah

|

GUGAH – Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat, KH Juhadi Muhammad, berharap pemerintah mengambil langkah maksimal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan mata uang nasional.

Menurutnya, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada indikator makroekonomi, tetapi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat serta aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

“Bagaimanapun ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan, tentu akan berpengaruh terhadap perekonomian, terhadap daya beli masyarakat, dan berbagai sektor lainnya. Karena itu, pemerintah harus berusaha semaksimal mungkin menstabilkan nilai tukar rupiah agar tidak mengganggu perekonomian,” kata KH Juhadi Muhammad saat dihubungi awak media, Minggu (7/6).

Baca Juga:  Lindungi Industri dan Daya Beli, Pemerintah Bebaskan Bea Masuk LPG serta Bahan Baku Plastik

Ia juga menyoroti potensi tekanan terhadap anggaran subsidi pemerintah apabila nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

“Termasuk juga soal subsidi, terutama subsidi BBM. Ketika nilai tukar rupiah sudah berada di angka Rp18.000 per dolar AS, tentu dampaknya sangat besar. Kalau berpengaruh kepada negara, pasti pada akhirnya juga akan berpengaruh kepada masyarakat,” ujarnya.

Menanggapi kemungkinan dampak terhadap aktivitas ekonomi yang dijalankan lembaga-lembaga perekonomian NU di Jawa Barat, KH Juhadi Muhammad menilai pelemahan rupiah tetap akan memberikan pengaruh, meskipun sejauh ini masih dapat diredam oleh kebijakan subsidi pemerintah.

Baca Juga:  Belajar Memimpin Sejak Muda: Makesta IPNU-IPPNU Tanjungsari Tanamkan Jiwa Organisasi pada Pelajar

“Pasti ada imbasnya. Ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai Rp18.000, tentu akan memengaruhi kinerja perekonomian. Untungnya sampai saat ini pemerintah masih mampu mempertahankan berbagai subsidi. Bayangkan jika subsidi itu sudah tidak berlaku, dampaknya akan jauh lebih berat bagi masyarakat,” katanya.

Sebagai informasi, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah pada perdagangan hari ini berada di level Rp18.095,70 per dolar AS. Meski demikian, para ekonom umumnya menilai pergerakan kurs dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebijakan suku bunga global, kondisi ekonomi domestik, arus modal internasional, hingga sentimen pasar keuangan.

Baca Juga:  Kunjungan Prabowo ke Paris Disorot di Tengah Pelemahan Rupiah, Publik Terbelah

Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor. Sejumlah pelaku usaha berorientasi ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari meningkatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Namun bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin usaha.

Karena itu, PWNU Jawa Barat berharap pemerintah terus mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari dampak gejolak nilai tukar dan tekanan ekonomi global.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran