Rivqy Dukung Pembentukan DSI, Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Komoditas

JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto membentuk BUMN ekspor khusus bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Menurut Rivqy, pembentukan DSI dapat menjadi instrumen strategis negara untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas sumber daya alam di pasar global.

Meski demikian, Rivqy mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat. Ia menilai gejolak harga, seperti yang terjadi pada buah tandan segar (BTS) sawit dan sejumlah komoditas lainnya, harus menjadi perhatian serius pemerintah.

“Jangan sampai negara memperkuat ekspor, tetapi petani dan pelaku usaha di daerah justru tidak menikmati dampaknya. Pemerintah harus hadir mengintervensi ketika harga komoditas anjlok. Bahkan ketika DSI berjalan, nilai komoditas seharusnya bisa lebih tinggi dan lebih menguntungkan masyarakat,” ujar Rivqy di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Baca Juga:  Harga Pangan Nasional dan Jawa Barat: Lonjakan Harga Cabai Merah Besar di Tengah Stabilitas Beras

Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PKB di Komisi VI DPR RI itu juga menilai pola satu atap dalam tata kelola ekspor komoditas SDA merupakan langkah positif apabila dijalankan secara konsisten, profesional, dan transparan.

“Konsep satu atap ekspor SDA ini konstruktif untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar internasional. Tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, tata kelola yang transparan, serta pengawasan yang ketat agar tidak menimbulkan monopoli maupun praktik rente baru,” tegasnya.

Baca Juga:  Istana Buka Suara soal Polemik Presiden Prabowo Berkurban Gunakan APBN

Rivqy berharap kehadiran DSI tidak hanya menjadi instrumen bisnis negara, tetapi juga mampu menciptakan stabilitas harga, memperluas nilai tambah komoditas nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha dalam negeri.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap alasan Presiden Prabowo membentuk BUMN ekspor baru bernama DSI. Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menemukan praktik under-invoicing atau manipulasi nilai ekspor oleh sejumlah eksportir.

Prabowo mengambil langkah itu setelah menerima laporan adanya eksportir yang menjual barang ke luar negeri dengan harga lebih rendah dari nilai sebenarnya. Praktik tersebut ditemukan pada sejumlah komoditas strategis, seperti batu bara dan crude palm oil (CPO).

Baca Juga:  Unpad Jadi Tuan Rumah, 12 Nama Lolos ke Pilmapres Nasional 2026

“Langkah itu keluar ketika Bapak Presiden mendapatkan informasi bahwa ada banyak under-invoicing. Artinya kita atau para pengusaha ngirim barang ke luar negeri, entah batu bara, entah CPO, harganya dimainin lebih rendah dibanding harga yang dijual di luar, atau kadang-kadang volumenya diturunkan. Jadi mereka boleh dibilang sebagian diselundupkan lah,” ujar Purbaya dalam acara Jogja Financial Festival, Jumat (22/5/2026).***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran