DI MASA silam, saat dunia terbagi dalam kerajaan-kerajaan, hiduplah seorang penguasa bernama Raja Tega. Namanya tercatat melintasi benua dan samudra sebagai lambang ambisi yang membakar segalanya.
Ia meyakini kekuasaan adalah satu-satunya kebenaran abadi, sejalan dengan sejarah banyak penguasa dunia: kaisar Tiongkok yang menumpas kerabat demi takhta, raja Eropa yang menikah atau berperang demi wilayah, hingga sultan Timur Tengah yang menyingkirkan orang terdekat demi mahkota. Bagi mereka, kedudukan adalah segalanya, dan apa pun boleh dikorbankan demi kekuasaan mutlak.
Raja Tega memerintah negeri yang subur dan makmur. Ia cerdas, pandai berdiplomasi, serta tajam naluri politiknya. Namun di balik senyum ramah, hatinya sedingin batu dan ambisinya tak pernah puas. Baginya, politik adalah permainan strategi: pemenang mengambil segalanya, yang kalah musnah dari sejarah.
Dulu, ia memiliki permaisuri yang dicintainya, ibu dari anak-anaknya dan calon penerus kerajaan. Namun saat wanita itu terjerat kasus hukum, yang sebenarnya mudah dibela dengan kekuasaannya, Raja Tega justru berpaling. Kabar bahkan menyebutkan peristiwa itu diduga merupakan skema politik yang ia susun sendiri.
“Permaisuri hanyalah pendamping,” ujarnya dingin pada penasihat. “Kekuasaanlah pendamping sejati raja. Jika membelanya merugikan posisi atau sekutu, untuk apa dilakukan? Bahkan jika anak-anakku pun terancam, akan kukorbankan demi kekuasaan yang lebih tinggi.”
Ia membiarkan mantan istrinya berjuang sendiri, seolah tak pernah ada kasih sayang atau janji setia. Cinta dianggapnya kelemahan yang harus dibuang saat menapaki puncak kekuasaan. Ia membiarkan keluarganya menderita, demi menjaga hubungan baik dengan sekutu politiknya.
Sesuai namanya, Raja Tega nyaris tak mengenal belas kasihan. Ia bercita-cita menyatukan seluruh wilayah di bawah satu mahkota, menjadi penguasa tunggal yang ditakuti dan dihormati sepanjang masa. Baginya, tak ada cara yang terlarang demi tujuan itu; apa pun akan ia ambil asalkan mendekatkannya ke puncak.
Suatu hari, ia ingin meluaskan kekuasaan ke kerajaan tetangga yang kuat dan sulit ditaklukkan lewat militer. Ia sadar, satu-satunya jalan adalah ikatan darah dan pernikahan. Ia punya putra yang sangat dicintainya, namun demi rencana besar, anak itu berubah menjadi sekadar bidak catur. Ia menikahkan putranya dengan Ratu yang jauh lebih tua.
“Kau darah dagingku dan kucintaimu,” katanya saat melepas keberangkatan. “Tapi di atas kasih ayah-anak, ada nama besar keluarga dan kekuasaan yang harus diraih. Jika nyawamu pun harus melayang demi ambisi ini, terimalah sebagai pengorbanan mulia demi kejayaan takhta.”
Prinsip ini berlaku bagi semua anaknya. Jika ada yang menghalangi jalan atau dianggap ancaman, ia akan membuangnya seolah barang tak berguna. Seperti raja-raja sejarah yang mengirim anak ke medan perang atau membiarkan mereka ditawan demi kepentingan politik, baginya ikatan darah tak lebih berharga daripada jabatan dan kekuasaan yang ia genggam.
“Banyak orang keliru menganggap cinta, keluarga, atau kehormatan sebagai harta paling berharga,” ujarnya dengan penuh percaya diri. “Namun sejarah membuktikan: raja yang dikuasai perasaan akan jatuh hancur. Kaisar, penakluk, penguasa legendaris, semua tahu satu kebenaran mutlak: kekuasaan adalah segalanya.”
Ia tersenyum lebar, matanya berkilat penuh keyakinan. “Mantan istriku, anak-anakku, rakyatku, semua bernilai hanya karena aku berkuasa. Jika aku kehilangan kekuasaan, mereka pun binasa bersamaku.
Mengapa aku ragu mengorbankan mereka demi memperkuat posisi? Aku akan melakukan apa saja: merayu, menipu, atau berperang, asalkan terus naik ke tingkat lebih tinggi. Takhta yang mulia dan kekuasaan mutlak adalah satu-satunya tujuan hidup raja sejati.”
Namun di balik kekejaman itu, tersimpan rahasia. Di malam sunyi, saat sendirian, ia teringat masa lalu: saat mantan permaisuri masih kekasih hatinya, saat mereka berjalan bahagia di taman istana tanpa beban ambisi.
Ada rasa sakit dan rasa bersalah yang selalu ia tekan dalam-dalam. Ia menatap kursi kosong di sebelahnya, terbayang wajah putrinya yang menangis saat berpisah demi politik. Ia sadar, perlahan jiwanya mati dan terkikis oleh ambisi yang tak pernah puas.
Seperti pola sejarah yang berulang, hal yang sama terjadi padanya: mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai tuhan, akhirnya hidup dalam kesepian abadi. Ia memenangkan takhta, namun kehilangan hati dan kemanusiaan. Ia memerintah jutaan orang, namun tak dicintai siapa pun. Ia mencapai puncak dunia, namun berdiri sendirian di sana, dingin, sepi, dan kosong, seolah kemegahannya hanyalah bayangan tanpa makna.
Namun bagi Raja Tega dan sejenisnya, kesepian itu adalah harga yang pantas dibayar. Sebab bagi mereka, politik dan kekuasaan adalah satu-satunya kisah cinta sejati: yang memakan habis segala yang ada di dekatnya, namun tak pernah membalas dengan kasih yang tulus.*
Yuslipar
Penulis adalah Wartawan di Purwakarta.
DISCLAIMER: Tulisan ini hanya cerita fiksi. Jika terjadi kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, maupun peristiwa di dalamnya hanyalah kebetulan.



Tinggalkan Balasan