Di usia ke-27, Kota Depok tidak lagi berada pada fase mencari bentuk. Depok sudah tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian penting dari denyut kawasan penyangga ibu kota. Namun satu pertanyaan mendasar harus dijawab bersama: apakah Depok sudah benar-benar melompat maju, atau masih berjalan di tempat dengan ritme yang itu-itu saja?
Momentum hari jadi seharusnya bukan sekadar seremoni. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi jujur—apa yang sudah berhasil, dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Salah satu tantangan utama Depok hari ini adalah kualitas pelayanan publik. Di era digital, masyarakat menuntut kecepatan dan kepastian. Sudah saatnya layanan administrasi di tingkat kelurahan hingga kota bisa diselesaikan dalam hitungan jam, bukan hari. Pemerintahan yang responsif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Di sisi lain, persoalan klasik perkotaan seperti kemacetan dan banjir serta Sampah masih menjadi keluhan utama warga. Ini tidak bisa ditangani dengan pendekatan rutinitas tahunan. Dibutuhkan keberanian mengambil langkah berbasis data, fokus pada titik prioritas, dan konsisten dalam eksekusi.
Kemajuan kota juga tidak akan berarti tanpa kemandirian ekonomi warganya. Program pemberdayaan UMKM harus naik kelas—bukan sekadar pelatihan, tetapi pendampingan hingga produk benar-benar masuk pasar. Konsep “satu RW satu produk unggulan” bisa menjadi langkah konkret yang berdampak langsung dan ini dapat di kolaborasikan dengan program Dana RW.
Namun, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Di sinilah peran pemuda, termasuk kader Ansor, menjadi sangat penting. Ansor harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan hanya penonton.
Melalui gerakan sosial, pendampingan masyarakat, hingga penguatan ekonomi kader, Ansor dapat mengambil peran nyata di tengah masyarakat. Kader Ansor dan Banser juga memiliki tanggung jawab menjaga kondusivitas kota—karena keamanan dan persatuan adalah fondasi dari setiap kemajuan.
Lebih dari itu, Ansor harus terus merawat nilai-nilai keislaman yang moderat dan semangat kebangsaan. Di tengah derasnya arus informasi dan potensi perpecahan, kehadiran Ansor sebagai penjaga harmoni sosial menjadi semakin relevan.
Depok ke depan membutuhkan kolaborasi, bukan sekat. Pemerintah, masyarakat, dan elemen kepemudaan harus berjalan dalam satu visi besar: menjadikan Depok sebagai kota yang maju, inklusif, dan berdaya saing.
Di usia ke-27 ini, harapan kita sederhana namun tegas: Depok tidak hanya tumbuh, tetapi berani melompat. Tidak hanya membangun fisik kota, tetapi juga memperkuat karakter warganya.
Oleh: HM. Kahfi, S.Pd., M.Pd – Ketua GP Ansor Kota Depok
Disclaimer: Artikel ini bukan Karya Jurnalistik dari Gugah.co. Suara Pinggiran merupakan wadah bagi para akademisi, aktivis atau analis yang ingin menyuarakan gagasan, opini atau pemikirannya.




Tinggalkan Balasan