Dalam Sehari 31 Orang Tewas Akibat Serangan Israel di Lebanon

BEIRUT – Gelombang serangan militer Israel di wilayah selatan Lebanon kembali menelan banyak korban jiwa. Sedikitnya 31 orang dilaporkan meninggal dunia hanya dalam satu hari serangan yang berlangsung pada Jumat (8/5/2026) kemarin, termasuk seorang petugas penyelamat sipil.

Serangan tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan sejak pertempuran antara militer Israel dan kelompok Hezbollah kembali meningkat pada awal Maret lalu.

Berdasarkan laporan media nasional Lebanon, sejumlah wilayah di Lebanon selatan menjadi sasaran serangan udara dan serangan drone Israel. Kota Toura di Distrik Tyre termasuk wilayah yang mengalami kerusakan parah setelah dihantam dua serangan udara yang menewaskan sedikitnya lima orang. Tim penyelamat hingga kini masih melakukan pencarian terhadap seorang anak perempuan yang dilaporkan hilang di bawah reruntuhan bangunan.

Baca Juga:  Israel Kembali Lancakan Serangan Udara ke Lebanon, 16 Warga Sipil Tewas

Serangan lain juga terjadi di kawasan Hasbaiyya. Sebuah drone Israel menargetkan kendaraan sipil di jalur antara Kfarchouba dan Kfarhamam yang mengakibatkan seorang anggota pertahanan sipil Lebanon tewas di lokasi kejadian.

Di Distrik Bint Jbeil dan Nabatieh, sedikitnya lima warga lainnya meninggal dunia akibat rentetan serangan udara yang menghantam sejumlah desa. Empat korban tambahan dilaporkan tewas di Kota as-Sultaniyah setelah kawasan tersebut kembali digempur militer Israel.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, serangan Israel dilaporkan terus berlangsung hampir setiap hari di wilayah Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon bahkan menyebut total korban tewas akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir mencapai 60 orang.

Baca Juga:  Israel Tahan Dua Aktivis Kemanusiaan GSF, Spanyol dan Brazil Protes Keras

Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, sebelumnya mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di sejumlah kota dan desa di Lebanon selatan, termasuk Nmairiyeh, Tayr Felsay, Hallousiyyeh, Toura, dan Maarakeh.

Di tengah meningkatnya eskalasi, pembicaraan tahap kedua antara Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Washington pada 14–15 Mei mendatang dengan mediasi Amerika Serikat. Pertemuan tersebut disebut akan membahas kerangka perdamaian jangka panjang, keamanan perbatasan, serta akses bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi di Lebanon.

Baca Juga:  Krisis Kesehatan Memburuk di Gaza, Pasien Jantung Terancam Kehilangan Nyawa

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, telah bertemu delegasi diplomatik yang akan berangkat ke Washington untuk mengikuti perundingan tersebut. Sementara Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan pemerintah Lebanon ingin memperkuat gencatan senjata sekaligus mendorong penghentian serangan Israel, pembebasan tahanan, dan penarikan pasukan dari wilayah Lebanon.

Konflik berkepanjangan antara Israel dan Hezbollah terus meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi perang regional yang lebih luas di Timur Tengah. Ribuan warga sipil di Lebanon selatan hingga kini masih hidup dalam ancaman serangan udara dan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat eskalasi konflik yang terus berlanjut.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *