Kita, Tembok dan Bunga-bunga – Seri 1

Apakah kau tahu dik? Ada semacam tembok yang begitu besar dan begitu kokoh yang tidak pernah mengizinkan apapun tumbuh pada dirinya, ia akan membunuh setiap bunga cantik yang mekar dan mewangi, ia tidak akan membiarkan kesadaran para bunga pada kesombongannya, ia juga tidak mengizinkan cinta tumbuh tanpa biaya. Di hadapan tembok besar itu kita hanyalah alat produksi sekaligus objek konsumsi. Dan anehnya, kita merasa bangga setiap kali kita diobjektifikasi olehnya, ada semacam pembalikan kesadaran, padahal jelas-jelas dia hanyalah objek fana dan kita yang seharusnya menjadi subjek merdeka.

Duh bahagia sekali nenek moyang kita, yang menjadi bebas dan merdeka, hidup tanpa terbelenggu oleh kepongahan tembok-tembok itu. Kau tahu?, jauh sebelum tembok itu tercipta, nenek moyang kita mampu menumbuhkan pohon dan bunga dari taman surga, memperoleh daging, air dan kehidupan harmonis yang tak perlu ditukar oleh angka-angka. Tapi, semuanya berubah setelah sebagian dari golongan nenek moyang kita memilih untuk tidak lagi hidup selaras dengan semesta, mereka mempunyai ketakutan pada kekhawatiran, sehingga mereka bergotong-royong menciptakan tembok-tembok itu selama berabad-abad lamanya, dengan modal tenaga, pikiran, darah dan air mata. Semua itu dilakukan hanya untuk mencapai satu tujuan, yakni untuk menghilangkan ketakutan pada kekhawatiran.

Dan sejak saat itu tembok itu tidak lagi hanya berdiri di luar diri kita, ia diwariskan, dilestarikan oleh generasi berikutnya dan perlahan-lahan tumbuh di dalam kepala kita, mengakar di dalam pikiran kita dan menjalar ke dalam cara kita memandang dunia, ia tidak lagi membutuhkan batu dan semen, sebab hari ini ia telah menjelma menjadi keyakinan yang kita peluk erat setiap hari.

Setiap hari kita mendengar tembok itu berkata bahwa hidup adalah perlombaan, bahwa siapapun yang paling cepat dan paling yang  kuat dialah yang berhak hidup lebih lama, dan kita mempercayainya tanpa banyak bertanya, kita mulai berlari tanpa tahu ke mana tujuan, hanya karena takut tertinggal oleh bayangan kita sendiri.

Kita mulai mengukur langkah kaki kita dengan angka-angka, mengukur waktu dengan keuntungannya dan mengukur manusia dengan manfaatnya, seolah-olah nilai hidup kita dapat ditimbang selayaknya pahala dan dosa-dosa.

Dan bunga-bunga itu, yang dahulu tumbuh liar, kini harus meminta restu hanya untuk sekadar mekar, mereka harus tunduk pada aturan yang dibuat oleh tembok-tembok itu, atau mereka akan layu sebelum sempat mengenal dunia. Kita kemudian menyebutnya sebagai kemajuan peradaban, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah upaya penjinakan, kita tidak lagi liar, tidak lagi bebas, kita telah menjadi jinak dan patuh, bahkan merasa aman dalam kepatuhan itu.

Baca Juga:  Kita, Tembok dan Bunga-bunga – Seri 2

Aneh sekali rasanya, ketika sebuah rantai berkarat yang mengikat kaki dan tangan kita justru dianggap sebagai perhiasan, memar dan luka yang ditorehkan olehnya dianggap sebagai tanda kehormatan yang begitu mulia, kita merayakan keterikatan itu seperti sebuah kemenangan.

Setiap kali kita memejamkan mata, tembok-tembok akan tertawa, melihat kita di siang hari saling berlomba untuk menjadi bagian darinya, saling mendorong untuk lebih dalam masuk ke dalam ruang sempit yang ia ciptakan. Ia tidak perlu memaksa, sebab kita dengan sukarela menyerahkan diri, kita menyusun batu demi batu untuk mempertebalnya, dengan harapan suatu hari ia akan melindungi kita dari segala bentuk ketakutan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Namun semakin tinggi tembok itu, semakin sempit langit yang bisa kita lihat, menjadikan semakin kecil ruang untuk bernapas, dan semakin jauh pula kita dari tanah tempat bunga-bunga yang dahulu tumbuh, mekar dan mewangi dengan bahagia. Seolah-olah kita sengaja dibuat lupa bagaimana nikmatnya berdiam diri tanpa dihantui keharusan, lupa bagaimana rasanya merenungi hidup tanpa kecemasan untuk selalu mengulanginya, kita dibuat lupa bagaimana rasanya mencintai tanpa menghitung kerugian, dan lupa bagaimana rasanya hidup tanpa harus menjadi apa-apa.

Tapi terlepas dari semua ocehanku itu dik, nyata-nyatanya tembok itu tetap berdiri dengan melipatkan kedua tangannya di dada, seolah-olah ia adalah satu-satunya kebenaran yang tidak boleh digugat, padahal ia hanyalah hasil dari ketakutan yang kita warisi dan kita pelihara. Dan setiap kali ada yang berupaya untuk merobohkannya, kita justru menganggapnya sebagai ancaman, kita menertawakan mereka, mencemooh mereka, bahkan menghukum mereka, seolah-olah kebebasan adalah dosa yang tidak bisa dimaafkan. Barangkali kita terlalu lama hidup di dalamnya, sehingga kita lupa bahwa dahulu dunia kita tidak membutuhkan tembok itu untuk tetap berotasi mengelilingi matahari setiap hari.

Barangkali kita terlalu takut untuk kembali, sebab di luar sana tidak ada jaminan, tidak ada kepastian, hanya ada kemungkinan yang luas dan tidak terukur. Dan manusia memang sering kali lebih memilih kepastian yang mengekang daripada kebebasan yang membingungkan, sebab kebebasan menuntut keberanian yang tidak semua orang miliki. Maka dengan begitu tembok itu terus tumbuh setiap pagi, karena kita terus memberinya kekuatan dengan ketakutan yang kita sembunyikan di balik senyuman, hasrat, ambisi dan penerimaan.

Baca Juga:  Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ironi Sistem Pendidikan di Cianjur

Namun kadang kala ada retakan kecil di sela-sela tembok itu, yang kadang-kadang muncul satu, dua bunga yang berani mekar, mereka bertumbuh diam-diam, menantang kepongahan tembok itu dengan keharuman yang tidak bisa dihentikan.

Dan mungkin, hanya mungkin, dari bunga-bunga kecil yang dianggap tidak berarti itu, tembok besar itu perlahan akan runtuh, sebab pada akhirnya, tembok itu tidak pernah benar-benar kokoh, ia hanya berdiri selama kita percaya bahwa ia harus ada, dan runtuh seketika kita menyadari bahwa kita sebetulnya tidak pernah membutuhkannya.

Namun, sebagian dari kita justru akan mencabut bunga-bunga itu dengan tangan mereka, sebelum sempat ia tumbuh lebih tinggi, kita takut keharumannya akan mengganggu keharmonisan yang telah lama kita jaga, kita takut keindahannya akan mengingatkan kita pada sesuatu yang telah lama kita lupakan, telah lama kita hilangkan.

Kau tahu dik, sejak lahir kita diajarkan untuk curiga pada segala hal yang tumbuh tanpa ada yang mengizinkan, kita diajarkan untuk mencurigai keindahan, dan kita diajarkan untuk meragukan kebebasan yang tidak dapat dikendalikan, seolah-olah segala yang tidak tunduk pada tembok adalah ancaman yang harus segera disingkirkan. Dan lambat laun kita menjadi penjaga tembok itu sendiri, bahkan tanpa pernah benar-benar diminta, kita berdiri di atasnya, mengawasi, menilai dan menghakimi, memastikan tidak ada satu pun bunga yang tumbuh terlalu tinggi.

Kita lupa bahwa dahulu kita adalah bunga-bunga itu, tembok itu tidak lagi membutuhkan penguasa, sebab kita telah menjadi penguasa sekaligus korbannya, kita menjaga sesuatu yang pada saat yang sama menahan diri kita, kita memelihara sesuatu yang menggerogoti kehidupan kita sendiri.

Ironisnya, kita tetap melanjutkan hidup, bekerja, mencintai, bermimpi, seakan-akan semuanya baik-baik saja, padahal di dalam diri kita ada kehampaan yang tidak akan pernah benar-benar terisi, selama tembok itu masih berdiri. Kadang kita merasakannya di malam hari, saat dunia menjadi sunyi, ada semacam kegelisahan yang tidak dapat dijelaskan, ada sejenis kerinduan yang tidak tahu harus kita tujukan ke siapa.

Baca Juga:  Menelisik Tiga Kunci Sukses Pendidikan Menurut Burhanuddin al-Zarnuji

Benar seperti katamu dik, hidup di dalam tembok memang melelahkan, tetapi membayangkan hidup di luar tembok terasa lebih menakutkan, di sana tidak ada batas yang jelas, tidak ada petunjuk yang pasti, hanya ada kebebasan yang menuntut kita untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Dan tidak semua orang siap untuk itu, tidak semua orang berani untuk itu, maka kita memilih untuk tetap tinggal dan tetap melanjutkan permainan yang telah lama kita pahami aturan mainnya.

Tapi hati kecil kita tidak bisa dibohongi, ada suara kecil yang terus berkata, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, bahwa ada sesuatu yang hilang, bahwa hidup seharusnya tidak sesempit ini. Suara itu mungkin sering kita abaikan, tetapi ia tidak pernah benar-benar hilang, ia terus hidup di sela-sela kesibukan dan kepura-puraan yang kita bangun setiap hari. Dan barangkali ketika suara itu semakin menggema kuat, rasanya akan ada satu bunga yang berhasil membuat retakan besar dan lebar, kita akan berhenti sejenak, menatap celah besar pada tembok itu dengan cara yang berbeda.

Apakah kau percaya dik?, suatu hari nanti kita semua tidak lagi melihat tembok-tembok itu sebagai pelindung, tetapi sebagai jeruji sistemik yang selama ini menahan hidup kita, kita tidak lagi melihatnya sebagai sebuah kebenaran, tetapi sebagai sifat keserakahan kuno yang diwariskan tanpa pernah benar-benar dipertanyakan.

Dan jika kemungkinan itu terjadi, mungkin kita tidak langsung merobohkannya, rasa-rasanya kita semua hanya akan duduk diam di depannya, menikmati ketakutan yang selama ini kita hindari.

Mungkin tembok itu tidak runtuh dalam satu malam, mungkin ia akan tetap berdiri untuk waktu yang lama, tetapi selama kita tidak lagi mempercayainya, selama kita tidak lagi memberinya kekuatan, ia akan kehilangan maknanya. Dan ketika makna itu hilang, tembok itu tidak lebih dari sekadar bayangan, sesuatu yang dahulu tampak begitu besar dan menakutkan, kini perlahan-lahan memudar, memberi ruang bagi bunga-bunga untuk kembali tumbuh, mekar dan mewangi, seperti dahulu kala.

Oleh: Muhammad Salaf

DisclaimerArtikel ini bukan Karya Jurnalistik dari Gugah.co. Suara Pinggiran merupakan wadah bagi para akademisi, aktivis atau analis yang ingin menyuarakan gagasan, opini atau pemikirannya.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *