Membangkitkan Jiwa Tjokroaminoto: Api Sosialisme Islam PKB melawan Oligarki

|

LANGKAH Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menghidupkan kembali wacana sosialisme Islam lewat pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syariati patut dibaca sebagai angin segar di tengah gurun kering politik kontemporer.

Di saat ruang publik tereduksi menjadi kalkulasi elektoral yang transaksional dan pembagian rente kekuasaan, upaya memanggil kembali ide besar ke gelanggang politik adalah bentuk keberanian intelektual.

Wacana ini patut diapresiasi karena mengembalikan fungsi dasar politik sebagai arena pergulatan gagasan demi kemaslahatan bersama, alih-alih sekadar manajemen citra. Tjokroaminoto dan Syariati mengajarkan bahwa Islam tidak boleh berhenti pada simbol kesalehan privat, melainkan harus hadir sebagai pisau analisis untuk membongkar struktur penindasan.

Diterjemahkan ke lanskap hari ini—di tengah cengkeraman kapitalisme digital, gig economy yang menindas pekerja lepas, serta konsentrasi modal di tangan segelintir oligarki, semangat pembebasan kaum tertindas menemukan resonansinya yang paling otentik.

Baca Juga:  Habib Syarief: Jangan Ubah Perguruan Tinggi Menjadi Pabrik Sertifikat

Jauh sebelum sosialisme modern merumuskan kritik atas ketimpangan pasar, akar etika keadilan ekonomi telah ditegakkan para nabi. Kisah Nabi Syu’aib di Madyan adalah manifesto profetik paling purba terhadap kejahatan ekonomi struktural.

Syu’aib tidak hanya menyeru penduduk Madyan bertauhid, tetapi secara frontal menggugat praktik kecurangan timbangan, manipulasi pasar, dan perampasan hak-hak ekonomi rakyat oleh saudagar kaya.

Bagi Syu’aib, korupsi penimbangan dan monopoli kekayaan adalah kezaliman sosial yang mengancam kehancuran peradaban. Pesan ini menegaskan bahwa ketertiban teologis dan keadilan distributif adalah dua sisi mata uang yang sama.

Baca Juga:  Menjadi Nakhoda di Tengah Badai

Namun, apresiasi dan napas profetik ini harus dibarengi kritik tajam. Tantangan terbesar kebangkitan wacana tersebut adalah risiko merosotnya gagasan luhur menjadi sekadar gimmick retorika untuk mendongkrak elektabilitas tanpa substansi.

Jika sosialisme Islam tidak dilekatkan secara radikal dengan pembongkaran praktik oligarki internal partai dan ketergantungan pada pemodal besar, ia hanya akan menjadi romantisme sejarah yang hampa. Keadilan sosial tidak bisa diperjuangkan jika struktur politik partai itu sendiri masih hierarkis dan jauh dari partisipasi akar rumput.

Di sinilah pentingnya mempertemukan sosialisme Islam dengan tradisi sosialisme kiri serta gagasan sosialisme profetik. Dari sosialisme kiri, gerakan ini dapat menyerap pembacaan yang ketat terhadap relasi produksi dan kelas untuk menguliti eksploitasi modern.

Baca Juga:  Kita, Tembok dan Bunga-bunga – Seri 2

Sementara itu, sosialisme profetik melengkapinya melalui sintesis humanisasi, liberasi, dan transendensi—menghubungkan kembali risalah pembebasan kaum lemah ala Nabi Syu’aib dengan problem kontemporer.

Menghidupkan kembali sosialisme Islam dan profetik bukanlah ikhtiar menengok ke belakang, melainkan upaya merancang masa depan politik yang berpihak kepada kaum marjinal.

Jika gagasan ini benar-benar menjelma menjadi laku politik konkret, membela buruh, memperkuat koperasi, dan meredistribusi akses ekonomi, harapan bahwa politik masih dapat memperbaiki kehidupan bersama bukanlah ilusi.

Oleh : Akhmad Rifai

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran