GUGAH – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tasikmalaya mengaku tidak diundang dalam peringatan Hari Santri Nasional yang digelar Pemerintah Kota Tasikmalaya. Kondisi itu menuai kritik dari organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.
Bendahara PC GP Ansor Kota Tasikmalaya, Habib Qosim Nurwahab, menilai absennya GP Ansor dalam agenda resmi Hari Santri menjadi ironi. Menurutnya, organisasi yang lahir dari rahim NU memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya Hari Santri Nasional.
“Kami ini santri KH. Hasyim Asy’ari, bukan santri Pemkot Tasik. Jangan sampai peringatan Hari Santri justru membuat organisasi dan kalangan santri yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan keumatan merasa diabaikan,” kata Habib, Rabu (21/10/2026).
Habib menegaskan Hari Santri tidak semestinya dipandang sebagai agenda seremonial pemerintah semata. Momentum tersebut, kata dia, merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga keutuhan bangsa.
Karena itu, ia menilai penyelenggaraan Hari Santri seharusnya melibatkan seluruh elemen pesantren dan organisasi keagamaan, termasuk GP Ansor, tanpa membedakan kedekatan dengan pemerintah.
Menurutnya, semangat Hari Santri akan kehilangan makna apabila peringatannya tidak mencerminkan nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap seluruh komunitas santri.
GP Ansor berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi agar pelaksanaan Hari Santri pada tahun-tahun berikutnya lebih inklusif dan mampu mengakomodasi seluruh unsur pesantren serta organisasi keagamaan di Kota Tasikmalaya.
“Jangan sampai Hari Santri hanya menjadi kegiatan seremonial. Semangatnya harus mencerminkan penghormatan kepada para ulama, pesantren, dan seluruh santri yang selama ini ikut menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.***





Tinggalkan Balasan