GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Optimisme pasar didorong oleh keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market, sehingga meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan sentimen tersebut berpeluang membawa IHSG menguji level resistance di kisaran 6.200–6.250.
“IHSG berpotensi naik untuk menguji resistance di 6.200–6.250 seiring FTSE mempertahankan secondary emerging status Indonesia. Namun, jika gagal menembus level 6.250, indeks berpotensi kembali terkoreksi,” kata Fanny dalam riset hariannya, Rabu (7/10/2026).
BNI Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 6.070–6.150.
Sementara itu, MNC Sekuritas menilai penguatan IHSG masih didukung oleh meningkatnya volume pembelian setelah indeks ditutup naik 1,21% ke level 6.192 pada perdagangan sebelumnya.
Secara teknikal, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki ruang penguatan untuk menguji area 6.227–6.231. Namun, investor tetap diminta mewaspadai potensi koreksi apabila momentum penguatan mulai melemah.
MNC Sekuritas menempatkan level support pada 6.091 dan 5.973, sedangkan resistance berada di 6.297 dan 6.376.
Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Sementara BNI Sekuritas memasukkan saham PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI), serta PT Era Digital Media Tbk (DOOH) ke dalam daftar trading ideas.
FTSE Pertahankan Status Indonesia
Keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai secondary emerging market menjadi sentimen positif bagi pasar modal domestik. Status tersebut dinilai penting karena menjadi salah satu acuan investor global dalam menempatkan dana di pasar saham Indonesia.
Dalam tinjauan tahunannya, FTSE Russell menyebut Indonesia telah melakukan sejumlah reformasi pasar, antara lain peningkatan transparansi kepada pemegang saham, perluasan klasifikasi investor, penyesuaian ketentuan free float, serta penguatan sistem pengawasan pasar.
Meski mempertahankan status Indonesia, FTSE Russell menyatakan akan terus memantau efektivitas reformasi yang dilakukan otoritas pasar modal.
Bagi pelaku pasar, keputusan ini memberi sinyal bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia tetap terjaga. Namun, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi sentimen global, arus dana asing, serta kinerja emiten pada musim laporan keuangan kuartal III.***





Tinggalkan Balasan