GUGAH – Empat hari belajar meracik kopi di Kafe Paskopi, Pandawa Food Center, Jalan Pakuwon, Garut Kota, tidak menjadi akhir bagi 16 peserta pelatihan barista. Selasa (6/10/2026), mereka justru menghadapi tahap penting berupa Uji Kompetensi (UJK) untuk mengukur kemampuan yang telah diperoleh selama mengikuti pelatihan.
UJK tersebut menjadi evaluasi terhadap pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah kopi. Materi pengujian mencakup pemahaman bahan baku, penggunaan peralatan, hingga teknik peracikan yang menjadi dasar pekerjaan seorang barista.
Owner Paskopi, Amirullah Kandu, mengatakan pelatihan sengaja tidak berhenti pada pemberian materi dan praktik. Menurutnya, peserta perlu melewati pengujian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.
“Pelatihan barista sudah selesai selama empat hari, dan sekarang ditutup melalui UJK. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kompetensi peserta selama empat hari tentang peracikan kopi,” ujar Amirullah saat ditemui usai pelaksanaan UJK di Kafe Paskopi, Selasa (6/10/2026).
Kompetensi menjadi tolok ukur.
Amirullah menjelaskan peserta yang memenuhi standar dalam proses tersebut nantinya berpeluang memperoleh sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikat itu diharapkan menjadi modal bagi peserta ketika mencari pekerjaan maupun mengembangkan usaha di sektor kopi.
“Yang lulus nanti akan mendapatkan sertifikat BNSP. Jadi mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman pelatihan, tetapi juga memiliki sertifikasi sebagai bagian dari pengakuan kompetensinya,” katanya.
Dalam UJK, peserta dihadapkan pada sejumlah materi dasar yang berkaitan langsung dengan pekerjaan barista. Penguji melihat pemahaman peserta terhadap karakter bahan baku, kemampuan menggunakan alat peracikan, serta ketepatan menerapkan teknik dalam menghasilkan minuman kopi.
Rangkaian tersebut penting karena industri kopi tidak hanya membutuhkan orang yang mampu membuat minuman. Pelaku usaha juga membutuhkan tenaga kerja yang memahami standar kerja, mampu menggunakan peralatan dengan benar, serta memiliki keterampilan yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
Instruktur pelatihan, Ardiansyah Al Rasyid, mengapresiasi antusiasme peserta selama mengikuti kegiatan. Ia menilai keterlibatan aktif peserta menjadi modal penting untuk melanjutkan kemampuan yang telah dipelajari ke dunia kerja maupun usaha.
Ardiansyah juga berharap peserta tidak berhenti belajar setelah pelatihan dan UJK selesai. Kemampuan meracik kopi, menurutnya, membutuhkan latihan berkelanjutan agar keterampilan teknis dan pengalaman peserta terus berkembang.
Bagi Paskopi, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia di sektor kopi. Pemilik usaha tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk, tetapi juga didorong memiliki tenaga kerja yang siap menghadapi kebutuhan industri.
Menariknya, pengembangan kompetensi kopi tidak berhenti pada keterampilan barista. Pada hari yang sama, Paskopi juga melanjutkan kegiatan pelatihan budidaya kopi dan pengolahan biji kopi pascapanen atau agropreneur yang berlangsung hingga 9 Oktober 2026 di Kampung Cisagu, Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, Garut.
Pelatihan kedua tersebut membawa peserta melihat kopi dari sisi yang berbeda. Jika barista berada pada tahap hilir dalam mengolah kopi menjadi sajian, pelatihan budidaya dan pascapanen memperkenalkan proses dari sisi hulu, mulai dari tanaman hingga pengolahan biji sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan budidaya dan pengolahan pascapanen tersebut. Jika digabungkan dengan 16 peserta pelatihan barista, sedikitnya 32 peserta mengikuti dua program pengembangan kompetensi di bidang kopi yang digelar Paskopi.
Pola pelatihan itu memperlihatkan bahwa industri kopi memiliki rantai kegiatan yang panjang. Ada kebutuhan terhadap tenaga barista di kafe, tetapi pada saat yang sama terdapat peluang ekonomi dalam budidaya, pengolahan pascapanen, hingga pengembangan produk kopi.
Amirullah mengatakan Paskopi ingin kegiatan pelatihan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi peserta. Ia berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat menjadi bekal untuk bekerja, membuka usaha, atau mengembangkan potensi ekonomi di daerah masing-masing.
“Harapannya tentu ilmu yang didapat bisa dimanfaatkan. Peserta bisa bekerja sesuai kompetensinya, atau kalau memiliki peluang dan kemampuan, bisa mengembangkan usaha sendiri di bidang kopi,” tutur Amirullah.
Bagi 16 peserta barista, UJK menjadi momen untuk membuktikan hasil belajar selama empat hari. Setelah ujian selesai, tantangan berikutnya adalah membawa keterampilan tersebut keluar dari ruang pelatihan dan mengubahnya menjadi kompetensi yang bernilai di dunia kerja.
Paskopi pun mencoba memperluas pendekatan tersebut melalui pelatihan yang menyentuh berbagai tahapan dalam ekosistem kopi. Dari secangkir kopi yang tersaji di meja pelanggan, ada pengetahuan panjang tentang bahan baku, teknik pengolahan, sumber daya manusia, hingga proses pascapanen yang menentukan kualitas produk.***





Tinggalkan Balasan