GUGAH – Pelatihan barista di Kabupaten Garut mulai diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, bukan sekadar memberikan keterampilan teknis. Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan barista yang digelar PT. Kans Agro Indonesia yang bekerjasama dengan BPVP Bandung Barat di Kafe Paskopi, Pandawa Food Center, Jalan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.
Hari pertama pelatihan turut mendapat kunjungan langsung dari Kepala Bidang Pelatihan dan Peningkatan Produktivitas Disnakertrans Kabupaten Garut, Tita Puspitasari. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau sekaligus mengevaluasi pelaksanaan pelatihan agar memiliki keterkaitan nyata dengan kebutuhan tenaga kerja di daerah.
Tita mengatakan Disnakertrans Garut menyambut baik pelaksanaan pelatihan yang diberikan BPVP Bandung Barat kepada masyarakat Garut. Menurutnya, program tersebut memiliki nilai strategis karena menggunakan pola berbasis penempatan, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga diarahkan untuk bekerja setelah menyelesaikan proses pembelajaran.
“Dengan adanya pelatihan barista dari BPVP Bandung Barat, Disnakertrans sangat bahagia bisa melatih masyarakat Kabupaten Garut karena pelatihan ini berbasis penempatan,” ujar Tita Puspitasari saat melakukan monitoring.
Melalui skema tersebut, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus pengalaman praktik mengenai pekerjaan barista. Kompetensi yang mereka dapatkan diharapkan menjadi bekal untuk memasuki lingkungan kerja profesional, khususnya pada sektor kafe dan usaha minuman.
Sebanyak 16 peserta mengikuti rangkaian pembelajaran yang memadukan teori dengan praktik langsung meracik kopi. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada teknik penyajian minuman, tetapi juga mendapatkan pengalaman bekerja dalam suasana usaha yang menjadi bagian dari kebutuhan industri.
Paskopi menjadi salah satu bagian penting dalam skema tersebut. Selain menjadi lokasi pelatihan, peserta juga diarahkan untuk mendapatkan peluang penempatan kerja di Paskopi setelah memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Keterlibatan dunia usaha dinilai menjadi bagian penting dalam mempertemukan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan pencari kerja. Pola kolaborasi antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan pelaku usaha ini diharapkan dapat memperpendek jarak antara pelatihan dan kesempatan kerja.
Tita berharap program pelatihan berbasis penempatan tidak berhenti pada 2026. Tingginya antusiasme masyarakat mengikuti pelatihan barista menjadi salah satu alasan agar program serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapan saya tidak hanya tahun 2026 pelatihan dari BPVP Bandung Barat, tetapi di tahun berikutnya menerima pelatihan berbasis penempatan seperti ini karena masyarakat sangat antusias mengikuti pelatihan barista,” katanya.
Menurut Tita, keberlanjutan program juga penting untuk menyesuaikan kompetensi pencari kerja dengan perkembangan kebutuhan dunia usaha. Dengan pelatihan yang berbasis kebutuhan industri, masyarakat diharapkan memiliki keterampilan yang lebih relevan ketika memasuki pasar kerja.
Sementara itu, Owner Paskopi, Amirullah Kandu, menyambut positif pelaksanaan pelatihan barista tersebut. Ia berharap perkembangan usaha Paskopi ke depan dapat berjalan beriringan dengan terbukanya lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat yang telah memiliki kompetensi.
“Harapannya semoga bisa membuka cabang Paskopi selanjutnya untuk menyerap tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja,” ujar Amirullah Kandu.
Bagi Paskopi, keberadaan peserta pelatihan juga menjadi bagian dari proses menyiapkan sumber daya manusia yang memahami kebutuhan pekerjaan di sektor kedai kopi. Pengalaman praktik secara langsung di lingkungan usaha diharapkan membuat peserta lebih siap menghadapi tuntutan pekerjaan setelah pelatihan.
Pelatihan barista tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai keterampilan meracik kopi. Program ini membawa tujuan yang lebih luas, yakni mempertemukan masyarakat yang membutuhkan pekerjaan dengan dunia usaha yang membutuhkan tenaga kerja kompeten.
Disnakertrans Garut menyatakan dukungannya terhadap pola pelatihan yang memiliki hubungan langsung dengan penempatan kerja. Sementara Paskopi membuka ruang bagi pengembangan kompetensi sekaligus peluang penyerapan tenaga kerja yang telah memenuhi kebutuhan usaha.
Kolaborasi semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Garut. Ketika pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan industri dan dilanjutkan dengan peluang penempatan, manfaat program diharapkan dapat dirasakan langsung oleh peserta dan keluarganya.
Dari ruang pelatihan di Paskopi, 16 peserta kini mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi sekaligus mengenal lebih dekat dunia kerja barista. Keberlanjutan program berbasis penempatan diharapkan dapat membuka lebih banyak akses kerja dan mendukung penguatan ekonomi masyarakat Garut.***



Tinggalkan Balasan