Dari Rijsttafel ke Meja Makan, Jejak Kolonial Perkedel

|

 

Perkedel kentang selama ini identik dengan lauk sederhana yang mudah ditemukan di meja makan keluarga Indonesia, warung makan hingga berbagai sajian rumahan. Namun di balik bentuknya yang sederhana, makanan ini menyimpan perjalanan sejarah yang mempertemukan tradisi kuliner Eropa dengan kreativitas masyarakat bumiputra pada masa kolonial.

Jejak tersebut berkaitan dengan frikadel, olahan berbahan daging giling yang berkembang dalam tradisi kuliner Eropa dan kemudian hadir dalam lingkungan Hindia Belanda. Dalam budaya makan rijsttafel, hidangan bergaya Eropa dan masakan lokal disajikan dalam satu rangkaian jamuan yang juga menjadi bagian dari penanda identitas sosial kalangan elite kolonial.

Baca Juga:  Lomba Hadroh dan Qasidah HSN 2026 Jadi Upaya Cetak Generasi Muda Berkarakter dan Lestarikan Seni Budaya Islam

Penyebaran pengetahuan memasak berlangsung melalui berbagai ruang sosial, termasuk rumah tangga kolonial, sekolah rumah tangga perempuan, buku resep serta warung makan. Para juru masak bumiputra yang berinteraksi langsung dengan hidangan Eropa kemudian memiliki peran dalam membawa teknik dan pengetahuan tersebut ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Ketika resep tersebut berhadapan dengan kondisi ekonomi dan ketersediaan bahan di masyarakat, bentuknya mengalami perubahan. Daging yang menjadi bahan utama frikadel kemudian dalam banyak olahan digantikan kentang yang ditumbuk, dibumbui, dibentuk dan dicampur telur sebelum digoreng, sehingga lahirlah bentuk perkedel yang jauh lebih dekat dengan selera dan keseharian masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Rais Syuriyah PWNU Jateng Minta Aparatur Negara Tak Intervensi Muktamar NU

Perubahan itu sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan sebuah makanan tidak berhenti pada resep aslinya. Pelafalan *frikadel* berkembang menjadi “perkedel”, sementara teknik dan bahan mengalami penyesuaian hingga hidangan tersebut tidak lagi dipandang sebagai sajian asing, melainkan bagian dari kebiasaan makan masyarakat.

Proses pribumisasi itu kemudian terekam dalam literatur kuliner Indonesia. Buku resep berbahasa Sunda Masakan djeung Amis-Amis yang terbit pada 1951 memasukkan makanan bercorak Eropa seperti semur dan perkedel ke dalam kategori “masakan kita”, sementara Mustika Rasa yang terbit pada 1967 turut mendokumentasikan beragam resep dari berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga:  Persib Bandung Makin Sulit Ditebak, Igor Tolic Ungkap Kekuatan Sebenarnya Maung Bandung

Dengan demikian, perkedel bukan hanya cerita tentang kentang yang digoreng hingga kecokelatan. Ia menjadi contoh bagaimana sebuah resep dapat mengalami perubahan bahan, teknik, nama dan makna sosial ketika berpindah dari satu lingkungan budaya ke lingkungan lainnya hingga akhirnya melekat dalam identitas kuliner Indonesia.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara tidak sekadar menerima pengaruh kuliner asing, tetapi juga mengolahnya kembali sesuai bahan pangan, selera, kemampuan ekonomi dan kebiasaan setempat. Dari proses panjang itulah perkedel kemudian hadir sebagai salah satu makanan yang begitu akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia hingga sekarang.

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran