Fatayat NU Cigugur Dorong Perempuan Perkuat Peran sebagai Pilar Keluarga

|

GUGAH – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, mendorong perempuan untuk memperkuat peran dalam keluarga sekaligus aktif memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua PAC Fatayat NU Cigugur, Nurfi Nurfajriyah, dalam kegiatan Triwulan PAC Fatayat NU Cigugur yang digelar di Pesantren Nurul Huda, Campaka, Sabtu (26/9/2026).

Nurfi mengatakan, perempuan memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan keluarga, tetapi juga mencakup pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, lingkungan, hingga pembangunan daerah.

“Perempuan bukan sekadar objek pembangunan, tetapi juga subjek yang memiliki kemampuan, ide, gagasan, pengalaman dan kepemimpinan untuk ikut menentukan arah kehidupan masyarakat,” kata Nurfi.

Menurut dia, kemajuan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari sejauh mana perempuan diberikan ruang untuk berkembang, berpartisipasi dan memberikan kontribusi.

Karena itu, Fatayat NU mengajak seluruh kader dan anggotanya untuk mengambil peran mulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga.

Perempuan sebagai Pilar Keluarga

Nurfi menekankan, keaktifan perempuan dalam organisasi hendaknya memberikan manfaat yang juga dirasakan oleh keluarga.

“Dengan bermodalkan izin suami untuk sahabat-sahabat ber-Fatayat, setelah manfaat ber-Fatayat dirasakan oleh pribadi, manfaatnya juga harus dirasakan oleh suami dan anak-anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu bentuknya adalah memperkuat posisi perempuan sebagai salah satu pilar keluarga.

Menurut Nurfi, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi setiap manusia. Dalam lingkungan tersebut, perempuan memiliki peran besar dalam menanamkan nilai moral dan agama kepada anak.

Baca Juga:  PKD Ke-4 Ansor Indramayu: Kader Baru Disiapkan Jadi Benteng Aswaja, Ulama, dan NKRI

Pendidikan agama, kata dia, tidak cukup hanya diberikan melalui perintah dan nasihat. Pendidikan harus diwujudkan dalam bentuk kebiasaan dan keteladanan orang tua.

“Bukan hanya menyuruh anak salat, tetapi orang tua memperlihatkan bahwa salat merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Anak diajak salat bersama, mengaji dan berdoa,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan moral anak pada era digital harus menyentuh aktivitas mereka di dunia internet.

Anak perlu dibiasakan untuk tidak menghina orang lain, tidak menyebarkan informasi bohong, tidak melakukan perundungan, serta berpikir sebelum mengunggah sesuatu di media sosial.

Sikap Ibu Menjadi Pelajaran bagi Anak

Nurfi menilai, sikap orang tua ketika menghadapi persoalan juga menjadi bagian penting dari pendidikan anak.

Menurutnya, anak merupakan peniru yang kuat. Mereka tidak hanya mendengarkan nasihat, tetapi juga mengamati bagaimana orang tuanya menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Ketika ibu menghadapi persoalan dengan tenang, anak belajar tentang ketenangan. Ketika ibu terbiasa bermusyawarah, anak belajar menyelesaikan masalah melalui komunikasi,” tuturnya.

Sebaliknya, kata dia, kebiasaan mudah marah dan menyalahkan orang lain juga berpotensi ditiru oleh anak.

Begitu pula ketika seorang ibu berani meminta maaf saat melakukan kesalahan. Sikap tersebut mengajarkan anak tentang kerendahan hati dan tanggung jawab.

Namun, Nurfi menegaskan bahwa penguatan keluarga bukan berarti seluruh tanggung jawab dibebankan kepada perempuan.

“Tanggung jawab keluarga merupakan tanggung jawab bersama antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak seharusnya dibebani seluruh tanggung jawab domestik seorang diri,” ujarnya.

Baca Juga:  Gotong Royong Warga Rawasalak Bangun Jalan Lintas Antar Kecamatan

Ia mengatakan, keluarga yang kuat dibangun melalui kerja sama, saling menghormati dan pembagian peran yang adil.

Dorong Ranting Gelar Pengajian Sebulan Sekali

Dalam kegiatan tersebut, PAC Fatayat NU Cigugur juga mendorong seluruh ranting untuk menyelenggarakan pengajian rutin minimal satu kali dalam sebulan.

Nurfi mengatakan, PAC Fatayat NU Cigugur telah memberikan contoh pelaksanaan kegiatan tersebut.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tahlil, tawasul dan istighosah, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi keagamaan oleh kader Fatayat.

Menurut Nurfi, pembacaan tahlil menjadi salah satu tradisi penting untuk mendoakan para pendahulu, termasuk pendiri dan pejuang NU serta Fatayat, orang tua, keluarga, guru, sahabat dan umat Islam yang telah meninggal dunia.

Ia mengutip Al Quran Surat Al-Hasyr ayat 10 yang berisi doa generasi setelahnya kepada orang-orang beriman yang telah mendahului mereka.

“Ini menjadi pengingat bahwa generasi sekarang tidak boleh melupakan jasa dan perjuangan para pendahulu,” katanya.

Sementara itu, kegiatan tawasul dan istighosah ditempatkan sebagai bagian dari tradisi keagamaan yang hidup di kalangan warga Nahdlatul Ulama.

Nurfi menjelaskan, istighosah yang diamalkan warga NU antara lain merujuk pada susunan istighosah yang disusun KH Romli Tamim.

Tangkal Gaya Hidup Materialistik di Era Digital

Nurfi juga mengingatkan kader Fatayat NU mengenai tantangan kehidupan di era media sosial.

Menurutnya, media sosial sering menampilkan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola pikir dan gaya hidup, termasuk mendorong kecenderungan hidup konsumtif, glamor dan materialistik.

Baca Juga:  Kebakaran Lahan di Kampung Sukatani Berhasil Dipadamkan, Warga Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan Saat Musim Kemarau

“Sedikit banyak hal ini berdampak pada pergeseran pola hidup yang cenderung hedonis dan materialistik,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak kader Fatayat untuk memperkuat spiritualitas dan nilai-nilai keagamaan agar tidak mudah terbawa oleh ukuran kesuksesan yang semata-mata didasarkan pada materi.

Istighosah, menurut dia, dapat menjadi salah satu media untuk memperkuat ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kader Fatayat Didorong Menjadi Mubalig

Selain pengajian rutin, PAC Fatayat NU Cigugur mendorong kader perempuan untuk mengambil peran sebagai mubalig dalam kegiatan di tingkat ranting.

Materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari fikih dan fikih perempuan berdasarkan empat mazhab fikih Ahlussunnah wal Jamaah, akidah dan tasawuf, Islam Nusantara, penguatan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan, hingga materi keorganisasian.

“Kita bersama-sama belajar dan bertumbuh di Fatayat. Ikuti kegiatannya, solidkan barisannya, perkuat loyalitas dan kecintaan kepada organisasi Fatayat,” kata Nurfi.

Ia berharap kegiatan rutin tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi ruang kaderisasi, pembelajaran dan penguatan hubungan antaranggota.

Nurfi juga mengajak seluruh anggota Fatayat NU untuk hadir dan terlibat dalam setiap kegiatan organisasi sehingga keberadaan Fatayat dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat.

“Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keberkahan, rahmat dan rida Allah SWT,” pungkasnya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran