GUGAH.CO – Di Kampung Citapen, Desa Sukaratu, Kecamatan Bojongpicung, Cianjur, seorang lansia berusia 63 tahun bernama Abah Ayi harus menghabiskan masa tuanya di dalam kandang domba. Sudah tiga tahun ia tinggal sebatang kara di sana, berbagi tempat dengan hewan ternak yang ia urus.
Kambing-kambing yang menemaninya setiap hari itu pun bukan miliknya, melainkan titipan orang lain yang memercayakan perawatannya kepada Abah Ayi. Di tengah keterbatasan hidup, ia bertahan di tempat yang jauh dari kata layak.
Kondisi keprihatinan yang menimpa Abah Ayi ini mendapat perhatian serius dari aktivis Revolusi Kaum Marjinal (RKM), Khoerul Fikri (Pipik). Menurutnya, fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas dan ketepatan sasaran dari berbagai program bantuan hunian pemerintah, seperti Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) maupun Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)/bedah rumah.
“Apakah program-program tersebut sudah benar-benar tepat sasaran, atau masih ada warga miskin yang luput dari pendataan?” ungkapnya.
Lebih lanjut, Pipik menyampaikan bahwa potret kehidupan Abah Ayi di Bojongpicung harus menjadi catatan penting bagi evaluasi bantuan sosial di lapangan. Hal ini krusial agar setiap bantuan yang dialokasikan benar-benar menjangkau warga yang paling membutuhkan.***



Tinggalkan Balasan