GUGAH.CO — Di tengah menguatnya narasi yang cenderung memandang persoalan di Cikopo semata-mata sebagai konflik keagamaan, GUSDURIAN Purwakarta mengingatkan pentingnya melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih luas.
Bagi komunitas ini, isu yang menyangkut kehidupan beragama tidak hanya berbicara soal perbedaan keyakinan, tetapi juga menyangkut kemanusiaan, relasi sosial, dan kemampuan masyarakat menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.
GUSDURIAN Purwakarta menilai bahwa ketika suatu persoalan langsung ditempatkan dalam bingkai “agama versus agama”, ruang dialog sering kali menyempit dan perhatian terhadap nilai-nilai kemanusiaan menjadi terpinggirkan.
Padahal, kehidupan bermasyarakat menuntut penyelesaian yang tidak hanya berpijak pada identitas, tetapi juga pada rasa saling menghormati dan keadilan.
“Ketika melihat persoalan seperti yang terjadi di Cikopo, kita perlu kembali mengingat pesan-pesan Gus Dur. Beliau pernah mengatakan, ‘Tuhan tidak perlu dibela.’ Pesan itu mengingatkan bahwa jangan sampai atas nama agama kita justru kehilangan rasa kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan kepada sesama,” ujar Dion Murdiono selaku Kordinator GUSDURIAN Purwakarta, Kamis (24/9/2026).
Bagi GUSDURIAN Purwakarta, pernyataan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengecilkan arti agama, melainkan mengajak masyarakat memahami bahwa nilai-nilai agama semestinya menghadirkan kedamaian dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memandang kelompok lain sebagai ancaman ataupun memperlebar jarak sosial.
Komunitas ini juga menekankan bahwa setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat perlu diselesaikan melalui dialog, musyawarah, tabayun, serta penghormatan terhadap hukum dan mekanisme yang berlaku.
Penyelesaian yang mengedepankan komunikasi dinilai lebih mampu menjaga harmoni sosial dibanding pendekatan yang mengedepankan polarisasi.
Pandangan tersebut, menurut GUSDURIAN Purwakarta, telah mereka praktikkan dalam peringatan Harlah Gus Dur 2026 di Rest Area 72A Purwakarta.
Kegiatan itu mempertemukan berbagai elemen lintas iman dalam semangat gotong royong sebagai bukti bahwa kerja sama antarkelompok dapat terbangun tanpa harus menghapus perbedaan identitas.
“Di Harlah Gus Dur, kita belajar bahwa orang dengan latar belakang agama yang berbeda dapat duduk bersama, bergotong royong, dan melakukan kebaikan bersama. Ketika berbicara tentang kemanusiaan, kita memiliki ruang yang sama untuk berbuat baik,” katanya.
Melalui pernyataan ini, GUSDURIAN Purwakarta berharap peristiwa di Cikopo tidak berhenti sebagai polemik yang mempertegas sekat identitas, melainkan menjadi bahan refleksi bersama mengenai bagaimana masyarakat Indonesia merawat keberagaman.
“Boleh jadi yang sedang diuji bukan hanya toleransi kita terhadap perbedaan agama, tetapi juga sejauh mana kita mampu melihat manusia di balik identitasnya. Sebab, berbeda keyakinan tidak berarti berbeda kemanusiaan,” ungkapnya.
Di tengah masyarakat yang majemuk, GUSDURIAN Purwakarta mengajak seluruh elemen menjadikan kemanusiaan sebagai titik temu, sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, penghormatan terhadap hukum, dan semangat persaudaraan, bukan melalui narasi yang semakin mempertajam perbedaan.
Beredar kabar sebelumnya, masyarakat Cikopo melakukan penolakan terhadap rencana pembangunan Rumah Ibadah yang bertempat di Desa Cikopo, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta. Persoalan itu mencuat dalam musyawarah yang digelar di Aula Desa Cikopo, Senin (21/9/2026)
Warga mempertanyakan proses musyawarah dan dasar dukungan masyarakat terhadap rencana pembangunan rumah ibadah tersebut.
Pertemuan yang melibatkan warga, pemerintah desa, Kecamatan Bungursari, aparat TNI-Polri, serta Komisi IV DPRD Purwakarta berlangsung panas dan belum menghasilkan kesepakatan.***



Tinggalkan Balasan