REFLEKSI Satu Tahun Pendidikan Karakter Melesat Pangandaran: Saatnya Beranjak dari Pembiasaan Menuju Budaya Karakter

|

Program Pendidikan Karakter Melesat yang digagas Pemerintah Kabupaten Pangandaran di bawah kepemimpinan Bupati Hj. Citra Pitriyami dan Wakil Bupati H. Ino Darsono patut diapresiasi sebagai ikhtiar strategis membangun generasi Pangandaran yang religius, berakhlak, dan memiliki semangat kebangsaan.

Program yang diluncurkan pada Juni 2025 tersebut telah memperkenalkan sejumlah pembiasaan di lingkungan sekolah, antara lain salat berjamaah, pembelajaran tata cara salat dan baca tulis Al-Qur’an, pembacaan doa atau surat pendek sebelum pembelajaran, kegiatan kebangsaan, kerja bakti, serta makan bersama.

Pemerintah Kabupaten Pangandaran menyatakan program tersebut diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki budi pekerti, disiplin, dan nasionalisme. Kebijakan tersebut juga memiliki landasan visi pembangunan daerah yang kuat. Visi Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran periode 2025–2030 menempatkan pendidikan agama dan karakter sebagai salah satu titik tekan pembangunan daerah. Bahkan, pendidikan agama menjadi salah satu misi pembangunan untuk memperkuat kualitas keimanan dan ketakwaan masyarakat.

Namun, setelah berjalan lebih dari satu tahun, Program Pendidikan Karakter Melesat perlu memasuki tahap penguatan. Melesat jangan berhenti pada pertanyaan, “Apakah kegiatan karakter sudah dilaksanakan?”, tetapi harus bergerak kepada pertanyaan yang lebih substantif, “Apakah karakter peserta didik benar-benar berubah?”

Pertanyaan tersebut penting karena pendidikan karakter bukan sekadar rutinitas. Salat berjamaah merupakan pembiasaan yang baik, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar kehadiran anak di masjid. Tujuan akhirnya adalah lahirnya pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran moral.

Baca Juga:  Bersama Gubernur Tinjau SPMB, Maryono Tegaskan Komitmen Pendidikan Berkualitas untuk Semua

Demikian pula kegiatan kerja bakti tidak cukup dinilai dari terlaksananya kegiatan membersihkan sekolah. Yang lebih penting adalah apakah anak menjadi pribadi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Dengan demikian, Melesat perlu dikembangkan dari program kegiatan menjadi sistem budaya karakter.

Jangan Lupakan Fondasi Kebijakan yang Sudah Ada

Pangandaran sebenarnya telah memiliki fondasi kebijakan pendidikan karakter yang cukup kuat. Peraturan Bupati Pangandaran Nomor 58 Tahun 2017 tentang Pendidikan Karakter kemudian diperbarui melalui Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2019. Regulasi tersebut masih berstatus berlaku dan telah memuat nilai karakter yang luas, mulai dari religius, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokrasi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, kepedulian sosial dan lingkungan, hingga tanggung jawab. Pendidikan antikorupsi juga secara eksplisit dimasukkan sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Karena itu, Program Melesat sebaiknya tidak diposisikan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai revitalisasi dan akselerasi pendidikan karakter Pangandaran. Dengan pendekatan tersebut, Melesat tidak hanya melanjutkan program yang sudah ada, tetapi menyatukan berbagai kebijakan karakter dalam satu sistem yang terukur.

Melesat Harus Menjawab Tantangan Generasi Digital

Karakter anak Pangandaran hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Anak-anak tumbuh bersama media sosial, video pendek, game online, kecerdasan buatan, budaya konsumtif, hoaks, cyberbullying, dan berbagai persoalan sosial digital.

Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya menghasilkan anak yang religius dan nasionalis, tetapi juga harus melahirkan anak yang mampu menggunakan teknologi secara bijak, memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu mengendalikan diri, anti-perundungan, antikorupsi, peduli lingkungan, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. Melesat harus mampu menjawab kebutuhan tersebut.

Baca Juga:  Menelisik Tiga Kunci Sukses Pendidikan Menurut Burhanuddin al-Zarnuji

Dari Kegiatan Menuju Indikator Karakter

Pemerintah Kabupaten Pangandaran juga perlu menyusun indikator keberhasilan Melesat. Jangan sampai keberhasilan program hanya diukur dari jumlah sekolah yang melaksanakan salat berjamaah, upacara, membaca Al-Qur’an, atau kerja bakti.

Yang harus diukur adalah perubahan perilaku peserta didik. Misalnya, pembiasaan salat diarahkan pada indikator kedisiplinan dan tanggung jawab. Pendidikan Al-Qur’an diarahkan pada kemampuan membaca sekaligus pengamalan nilai akhlak. Kerja bakti diarahkan pada kepedulian lingkungan. Pendidikan kebangsaan diarahkan pada toleransi dan kecintaan terhadap bangsa. Pendidikan antikorupsi diarahkan pada kejujuran dan integritas.

Dengan demikian, Melesat memiliki tiga tingkatan indikator, yaitu aktivitas, perubahan perilaku, dan dampak.

Sekolah Tidak Bisa Bekerja Sendiri

Pendidikan karakter juga tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Karakter anak terbentuk melalui tiga lingkungan utama, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Karena itu, diperlukan gerakan Melesat Parenting, yakni penguatan kapasitas orang tua dalam mendampingi pendidikan karakter anak. Orang tua perlu diberikan panduan tentang pendampingan penggunaan gawai, budaya membaca, ibadah keluarga, komunikasi dengan anak, pencegahan bullying, literasi digital, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tingkat masyarakat, pemerintah dapat membangun kolaborasi dengan madrasah diniyyah dan pondok pesantren, MUI, organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, dunia usaha, komunitas, pemerintah desa, dan berbagai unsur lainnya. Dengan demikian, sekolah bukan satu-satunya tempat anak belajar karakter.

Baca Juga:  Menyoal Lonjakan Ekstrem Tunjangan DPRD Purwakarta: Dari 16 Juta hingga Tembus 72 Juta Per Bulan

Melesat 2.0

Karena itu, sudah waktunya Pemerintah Kabupaten Pangandaran mengembangkan Melesat 2.0: Dari Pembiasaan Menuju Budaya Karakter.

Melesat 2.0 dapat dibangun melalui tujuh karakter utama, yaitu religius, jujur dan berintegritas, disiplin dan bertanggung jawab, mandiri dan pekerja keras, nasionalis dan toleran, peduli sosial dan lingkungan, serta cakap digital dan kritis.

Program tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pembiasaan, pembelajaran, keteladanan guru, penguatan keluarga, kegiatan masyarakat, dan asesmen karakter.

Pada akhirnya, keberhasilan Melesat bukan ketika seluruh sekolah Pangandaran memiliki jadwal kegiatan karakter yang sama. Keberhasilannya adalah ketika masyarakat mulai melihat perubahan pada anak-anak Pangandaran.

Anak yang lebih santun kepada guru. Anak yang lebih jujur. Anak yang mampu menghormati perbedaan. Anak yang tidak melakukan perundungan. Anak yang peduli terhadap lingkungan. Anak yang mampu menggunakan teknologi dengan bijak. Anak yang memiliki semangat belajar. Dan tentu saja, anak yang memiliki keimanan serta akhlak yang baik.

Inilah saatnya Pangandaran tidak hanya memiliki Program Pendidikan Karakter Melesat, tetapi memiliki Budaya Karakter Melesat. Karena Pangandaran yang benar-benar “melesat” bukan hanya daerah yang infrastrukturnya berkembang atau pariwisatanya maju, tetapi daerah yang mampu menyiapkan generasi yang beriman, berakhlak, cerdas, berintegritas, mandiri, dan cinta tanah air.

Dan pada titik itulah pendidikan karakter benar-benar menjadi investasi pembangunan Pangandaran untuk masa depan.

Oleh: Jenal Abidin, S.Pd.I., M.Pd.Penulis adalah Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Pangandaran

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran