GUGAH — Ada pencapaian yang dirayakan bukan semata karena gelar yang disematkan di belakang nama, tetapi karena perjalanan panjang di baliknya. Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin, kabar tersebut datang dari pengasuh Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, yang resmi meraih gelar Doktor Pendidikan Islam dengan predikat Cum Laude.
Gelar doktor itu diraih setelah KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Islam di Aula Selatan Gedung Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (13/8/2026).
Di hadapan tim penguji dan promotor, ia mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Materi Ajar Mata Kuliah Hadits Tarbawi Berdasarkan Kitab Al-‘Ilmi dalam Kutubus Sittah (Penelitian di STAI DR. KH. EZ. Muttaqien Purwakarta dan STAI Al-Muhajirin Purwakarta)”.
Disertasi tersebut tidak berhenti pada kajian akademik semata. Penelitian KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas berangkat dari kebutuhan untuk memperkuat pembelajaran Hadits Tarbawi melalui pengembangan materi ajar yang bersumber dari Kitab Al-‘Ilmi dalam Kutubus Sittah.
Kajian itu diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran hadis, khususnya dalam menghadirkan materi perkuliahan yang lebih sistematis, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam.
Dari Pesantren, Kembali ke Khazanah Keilmuan
Perjalanan akademik KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas menjadi bagian dari ikhtiar panjang Al-Muhajirin dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus merespons perkembangan pendidikan Islam.
Gelar doktor yang diraihnya bukan sekadar pencapaian personal. Di lingkungan pesantren, capaian tersebut menjadi tambahan energi untuk memperkuat sumber daya akademik dan memperluas kontribusi Al-Muhajirin dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu keislaman.
Terlebih, kajian yang diangkat dalam disertasinya memiliki keterkaitan erat dengan dunia pendidikan Islam dan perguruan tinggi. Penelitian tersebut mempertemukan khazanah hadis dengan kebutuhan pembelajaran di ruang akademik.
Di titik inilah perjalanan akademik seorang pengasuh pesantren menemukan maknanya: ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi dikembangkan, diuji, lalu diupayakan agar kembali memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Disaksikan Keluarga dan Keluarga Besar Al-Muhajirin
Momentum akademik tersebut turut disaksikan langsung Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., bersama Ibunda Dra. Hj. Euis Marfuah, M.A.
Hadir pula Ketua Yayasan Al-Muhajirin yang juga istri KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., serta sejumlah anggota keluarga dan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin.
Kehadiran mereka memberi warna tersendiri dalam prosesi tersebut. Di balik capaian akademik seorang doktor, ada dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan yang turut mengiringi perjalanan panjangnya.
Sidang terbuka itu dipimpin Prof. Dr. H. Aden Rosadi, M.Ag., dengan Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag. sebagai ketua promotor. Sementara anggota promotor terdiri atas Prof. Dr. H. Badrudin, M.Ag. dan Dr. Nurhamzah, M.Ag.
Gelar Baru, Pengabdian yang Berlanjut
Predikat Cum Laude menjadi penanda atas keberhasilan akademik KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas. Namun, bagi lingkungan Al-Muhajirin, gelar tersebut justru membuka babak baru dalam perjalanan pengabdian.
Selama ini, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas dikenal sebagai bagian dari perjalanan pendidikan, dakwah, dan pengasuhan santri di lingkungan Al-Muhajirin. Kini, bekal akademik yang semakin lengkap diharapkan dapat memperkuat perannya dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Keberhasilannya juga menambah jajaran doktor di lingkungan Al-Muhajirin. Hal tersebut sekaligus mempertegas komitmen pesantren dalam membangun tradisi pendidikan yang tidak hanya kuat dalam penguasaan khazanah keislaman, tetapi juga terbuka terhadap penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Bagi sebuah pesantren, lahirnya seorang doktor bukan sekadar bertambahnya gelar akademik. Ia adalah tambahan amunisi keilmuan—agar tradisi yang diwariskan para ulama tetap hidup, berdialog dengan zaman, dan mampu menjawab kebutuhan generasi yang terus berubah.
Kini, setelah prosesi promosi doktor itu usai, perjalanan KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas belum selesai. Justru, gelar doktor menjadi bekal baru untuk melanjutkan pengabdian: dari ruang akademik, kembali ke pesantren, dan dari pesantren memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Ilmu yang ditempuh dengan perjalanan panjang, pada akhirnya menemukan maknanya ketika kembali menjadi manfaat.***



Tinggalkan Balasan