GUGAH – Ikhtiar mengantarkan nama KH Abbas Abdul Jamil (1883–1947) ke jajaran Pahlawan Nasional memasuki babak baru. Melalui Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH Abbas Abdul Jamil yang digelar di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Minggu (9/8/2026), para ulama, akademisi, sejarawan, dan pemerintah daerah memperkuat dasar akademik serta bukti historis yang menjadi fondasi pengusulan tokoh besar asal Pesantren Buntet Cirebon tersebut.
Seminar ini bukan sekadar forum mengenang jasa seorang ulama, melainkan ruang ilmiah untuk menegaskan kembali kontribusi KH Abbas Abdul Jamil dalam perjuangan kemerdekaan, pengembangan pendidikan pesantren, serta penguatan jaringan ulama Nusantara. Seluruh temuan yang dipaparkan diarahkan untuk memperkokoh argumentasi bahwa kiprah KH Abbas memiliki signifikansi nasional.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum PP PERGUNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Abdul Chalim, Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP) Prof. Usep Abdul Matin, Bupati Majalengka Eman Suherman, Rais PCNU Majalengka KH Anwar Sulaeman, Ketua PCNU Majalengka KH Muhammad Umar, Ketua PERGUNU Jawa Barat Saepuloh, serta para ulama, akademisi, santri, dan tokoh masyarakat.
Empat Fakta Penting Perjuangan KH Abbas
Salah satu materi utama seminar berasal dari buku Keperintisan, Keperjuangan dan Kepahlawanan KH Abbas Abdul Jamil (1883–1947) yang memuat hasil penelitian terbaru mengenai peran historis sang ulama.
Penelitian tersebut mengungkap sedikitnya empat temuan penting.
Pertama, KH Abbas Abdul Jamil disebut memiliki peran strategis dalam momentum menjelang Pertempuran Surabaya 10 November 1945, termasuk dalam proses yang berkaitan dengan penentuan waktu perlawanan terhadap pasukan Inggris dan Sekutu.
Kedua, perjuangan mempertahankan Surabaya tidak hanya berlangsung di pusat kota, tetapi juga melibatkan sistem pertahanan di berbagai wilayah penyangga. Hal itu menunjukkan adanya strategi militer dan konsolidasi yang lebih luas dibanding narasi sejarah yang selama ini berkembang.
Ketiga, sebelum pecahnya pertempuran, telah berlangsung konsolidasi para ulama Nahdlatul Ulama yang melahirkan semangat jihad mempertahankan kemerdekaan. Resolusi tersebut menjadi landasan moral yang menggerakkan santri dan umat Islam untuk mempertahankan Republik Indonesia.
Keempat, keberhasilan mempertahankan Surabaya merupakan hasil sinergi antara pemerintah Republik, para ulama, santri, dan pejuang. Dalam konteks itulah nama KH Abbas Abdul Jamil dinilai memiliki kontribusi penting yang layak memperoleh pengakuan negara.
Dari Ditunda Hingga Dinyatakan Memenuhi Syarat
Perjalanan pengusulan KH Abbas Abdul Jamil tidak berlangsung mudah. Pada 2023, usulan tersebut sempat ditunda setelah melalui penelaahan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP).
Kala itu, salah satu catatan utama adalah belum kuatnya dukungan sumber primer yang dapat membuktikan secara komprehensif kiprah historis KH Abbas.
Temuan tersebut kemudian menjadi titik awal dilakukannya riset lanjutan secara lebih mendalam.
Prof. Usep Abdul Matin bersama Budi Sujati menjelaskan, penelitian awal memanfaatkan puluhan sumber primer dan sekunder. Setelah proses verifikasi lapangan di sejumlah lokasi, termasuk Cirebon dan Surabaya, jumlah dokumen utama yang berhasil dihimpun meningkat menjadi 74 dokumen yang diperkuat dengan berbagai referensi pendukung.
Penguatan bukti sejarah itu membuahkan hasil. Dalam pengantar buku disebutkan bahwa pada 2025 profil pengusulan KH Abbas Abdul Jamil memperoleh status “Memenuhi Syarat (MS)” dari TP2GP.
Penilaian tersebut menjadi tonggak penting yang memperkuat peluang pengusulan menuju tahap berikutnya.
Warisan yang Melampaui Perjuangan Fisik
Seminar juga menegaskan bahwa jasa KH Abbas Abdul Jamil tidak hanya tercermin dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Ia dikenal sebagai ulama yang berperan besar dalam pengembangan sistem pendidikan pesantren, pembinaan kader ulama, penguatan jaringan antarpesantren, pengembangan tarekat, hingga pembentukan karakter kebangsaan di kalangan santri.
Jejak pengabdiannya turut mewarnai perkembangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat serta melahirkan generasi penerus yang berkiprah di berbagai bidang.
Karena itu, kontribusi KH Abbas dipandang memiliki dimensi yang utuh, mencakup aspek pendidikan, keagamaan, sosial, dan perjuangan kebangsaan.
PERGUNU: Sejarah Ulama Harus Ditempatkan Secara Adil
Ketua PERGUNU Jawa Barat, Saepuloh, menegaskan bahwa pengusulan KH Abbas Abdul Jamil memiliki makna lebih luas daripada sekadar pemberian gelar kehormatan.
“Pengusulan K.H. Abbas Abdul Jamil bukan semata-mata tentang pemberian gelar, tetapi tentang menghadirkan kembali fakta sejarah mengenai kontribusi ulama, pesantren dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, sejarah perjuangan ulama harus disusun secara utuh melalui riset akademik yang kuat, pengumpulan sumber primer, dokumentasi sejarah, verifikasi lapangan, serta kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Seminar Nasional di Pondok Pesantren Amanatul Ummah menjadi bagian dari ikhtiar kolektif untuk memastikan rekam jejak para ulama pejuang memperoleh tempat yang layak dalam historiografi nasional.
Menjaga Memori Bangsa
Para peserta seminar sepakat bahwa perjuangan KH Abbas Abdul Jamil merupakan bagian tak terpisahkan dari mata rantai perjuangan ulama Nusantara dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, pengusulan gelar Pahlawan Nasional tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata, tetapi harus menjadi gerakan akademik dan kebudayaan untuk menggali, mendokumentasikan, serta mewariskan sejarah perjuangan ulama kepada generasi mendatang.
Seminar di Majalengka menjadi penegasan bahwa perjuangan menghadirkan nama KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia terus dikawal melalui pendekatan ilmiah, historis, dan kebangsaan, dengan bukti yang semakin kuat dan argumentasi yang semakin kokoh.***



Tinggalkan Balasan