Pas Kopi Lapas Garut Bidik Pasar Nasional, Kopi Warga Binaan Siap Tembus Jaringan Pemasyarakatan

|

GUGAH — Pas Kopi yang dikembangkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut mulai naik kelas. Setelah satu tahun berjalan, produk kopi yang melibatkan warga binaan itu kini diarahkan untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk jaringan pemasyarakatan di sejumlah daerah hingga pasar umum.

Pas Kopi genap dikembangkan selama satu tahun pada Agustus 2026. Di bawah manajemen PT Kans Agri Indonesia, produk tersebut memadukan program pembinaan kemandirian warga binaan dengan potensi kopi lokal Kabupaten Garut.

Yang menjadi pembeda, bahan baku Pas Kopi menggunakan 100 persen kopi dari petani lokal Garut. Dengan begitu, pengembangan produk tidak hanya menyentuh aspek pembinaan di dalam lapas, tetapi juga membuka ruang keterhubungan antara warga binaan, petani dan pasar.

Owner Pas Kopi, Amirullah Kandu, mengatakan pengembangan produk tersebut mendapat dukungan dari Kepala Lapas Kelas IIA Garut. Pas Kopi sejak awal diarahkan sebagai kegiatan produktif yang dapat memberikan pengalaman kerja kepada warga binaan.

“Pas Kopi adalah produksi asli Lapas Garut yang memberdayakan warga binaan melalui program kemandirian. Bahan bakunya 100 persen menggunakan kopi Garut yang dihasilkan petani lokal,” kata Amirullah.

Mulai Menyasar Lapas di Luar Garut

Setelah melewati satu tahun pengembangan, Pas Kopi mulai memperluas distribusi. Produk tersebut telah dipasarkan ke sejumlah lapas di wilayah Priangan Timur.

Baca Juga:  IHSG Berpeluang Lanjut Koreksi ke Area 6.200, Pasar Dibayangi Kenaikan Harga Minyak

Pemasaran juga mulai memanfaatkan platform digital dan layanan pesan-antar. Perluasan kanal tersebut menjadi langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar internal sekaligus mengenalkan Pas Kopi kepada konsumen yang lebih luas.

Amirullah mengatakan, pengembangan berikutnya akan diarahkan pada dua jalur utama.

Jalur pertama adalah memperbesar produksi kopi saset untuk memenuhi kebutuhan lembaga pemasyarakatan. Pasar awal yang dibidik mencakup jaringan pemasyarakatan di Jawa Barat, Banten dan Jakarta.

Jika kapasitas dan distribusi semakin kuat, jaringan tersebut akan diperluas secara bertahap ke wilayah lain di Indonesia.

Sementara jalur kedua menyasar pasar umum melalui pengembangan outlet dan kafe di Kabupaten Garut.

Konsepnya bukan sekadar menjual kopi kemasan. Pas Kopi juga disiapkan untuk menghadirkan kopi seduh atau kopi press dengan bahan baku kopi lokal Garut.

Dari Program Pembinaan Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Pengembangan Pas Kopi memperlihatkan bagaimana program kemandirian warga binaan dapat diarahkan ke kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.

Warga binaan tidak hanya dilibatkan dalam aktivitas produksi, tetapi juga berkesempatan mengenal proses kerja, kedisiplinan, pelayanan dan pengelolaan usaha.

Di sisi lain, penggunaan kopi lokal membuat ekspansi Pas Kopi berpotensi menciptakan permintaan tambahan terhadap hasil perkebunan kopi petani Garut.

Baca Juga:  Santri Garut Dicabuli Oknum Ustadz, KNPI Desak Hukum Tanpa Kompromi dan Perlindungan Korban

Artinya, semakin luas pasar yang dibangun, semakin besar pula peluang terbentuknya rantai ekonomi dari petani hingga produk olahan.

Namun, ekspansi pasar tentu tidak cukup hanya mengandalkan identitas sebagai produk pembinaan.

Konsistensi rasa dan mutu, kapasitas produksi, kontinuitas pasokan bahan baku, kemasan, legalitas serta distribusi menjadi pekerjaan penting jika Pas Kopi ingin bersaing di pasar yang lebih luas.

Identitas sebagai produk hasil pembinaan bisa menjadi nilai pembeda. Tetapi pada akhirnya, kualitas dan konsistensi produk tetap menjadi penentu kepercayaan konsumen.

Tak Hanya Kopi

Program kemandirian di Lapas Kelas IIA Garut juga dikembangkan melalui sejumlah kegiatan lain.

Di antaranya Kejo Comot Cafe Integrasi, Koperasi Merah Putih Warga Binaan, galeri UMKM, Rumah Pangan Kita dan layanan agen BRILink.

Sektor pangan dan budidaya juga menjadi bagian dari pengembangan keterampilan warga binaan. Kegiatannya antara lain budidaya ikan lele dan domba serta produksi tahu.

Menurut Amirullah, terdapat peluang untuk mengembangkan hasil produksi pangan tersebut agar ke depan dapat memenuhi kebutuhan lembaga pemasyarakatan.

Komoditas seperti tahu, tempe dan telur dinilai memiliki peluang pasar, sepanjang kapasitas produksi, kualitas, legalitas dan kontinuitas pasokan dapat dipenuhi.

Baca Juga:  Al-Ulfah Perluas Kiprah Pendidikan, Resmikan STAI di Tengah Haflah Akhirussanah

Dengan pola tersebut, pembinaan kemandirian tidak berhenti pada pemberian aktivitas kepada warga binaan. Program diarahkan menjadi proses pembelajaran yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pasar.

Pas Kopi dan Masa Depan Kopi Garut

Lapas Kelas IIA Garut di Jalan KH Hasan Arif Nomor 9, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, kini menjadi salah satu titik pengembangan kegiatan produktif warga binaan.

Kolaborasi antara pihak lapas, mitra usaha, warga binaan dan petani lokal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.

Bagi Pas Kopi, target pengembangan ke depan bukan sekadar mengejar jumlah penjualan.

Ada misi yang lebih panjang: membangun sebuah produk yang mampu memberi pengalaman kerja bagi warga binaan, menciptakan pasar bagi kopi petani Garut dan pada saat yang sama memiliki daya saing di pasar umum.

Jika strategi tersebut berjalan konsisten, Pas Kopi berpeluang membangun identitas yang cukup kuat—kopi lokal Garut yang lahir dari program pembinaan warga binaan, tumbuh bersama petani dan perlahan diarahkan menuju pasar nasional.

Sumber: Wawancara Amirullah Kanduh, Owner Pas Kopi di bawah manajemen PT Kans Agri Indonesia, serta informasi pengembangan program kemandirian warga binaan Lapas Kelas IIA Garut.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran