Sikapi Peringatan PBB soal El Nino, LAK2PB MUI Jabar: Mitigasi Harus Dimulai Sebelum Krisis Terjadi

|

GUGAH – Peringatan Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) mengenai ancaman krisis pangan akibat fenomena El Nino hingga 2027 mendapat perhatian berbagai pihak.

Lembaga Advokasi dan Kordinasi Kesehatan dan Penanggulangan Bencana (LAK2PB) MUI Jawa Barat menilai Indonesia perlu memperkuat langkah mitigasi sejak dini agar dampak terhadap masyarakat dapat ditekan.

WFP sebelumnya memproyeksikan fenomena El Nino periode 2026–2027 berpotensi memperburuk ketahanan pangan dunia.

Dalam analisis terbarunya, badan PBB tersebut memperkirakan sedikitnya 49 juta orang dapat mengalami kerawanan pangan akut hingga akhir 2027 akibat perubahan pola hujan, kenaikan suhu, serta meningkatnya risiko kekeringan dan banjir.

Baca Juga:  205 Ribu Warga Jabar Terdampak Kekeringan, Bekasi, Bogor, dan Karawang Terparah

“El Nino periode 2015-2016 berdampak pada ketahanan pangan 60-100 juta orang. Analisis awal WFP memproyeksikan bahwa El Nino periode 2026-2027 ini bisa menyebabkan sedikitnya 49 juta orang lainnya mengalami kerawanan pangan akut pada akhir 2027,” kata WFP, dikutip pada Kamis (6/8/2026).

Kajian tersebut mencakup 45 negara yang telah menghadapi persoalan ketahanan pangan. WFP menyebut perubahan iklim yang dipicu El Nino berpotensi memperparah kondisi di negara-negara tersebut.

Badan PBB itu juga menilai suhu permukaan laut yang mencetak rekor tertinggi meningkatkan peluang terjadinya El Nino berkekuatan sangat besar.

Baca Juga:  Dari Plered, Ajakan Berhaji Dimulai: KBIHU Al-Muthohar Dorong Warga Mulai Menabung

Jika ancaman tersebut terjadi, fenomena kali ini berpotensi menjadi yang terkuat sejak pencatatan modern dimulai pada 1950.

Puncak El Nino diperkirakan berlangsung pada September hingga Desember 2026, sedangkan dampaknya diprediksi masih akan dirasakan sepanjang 2027.

Amerika Tengah dan Afrika bagian selatan diperkirakan menjadi wilayah yang menerima dampak paling berat, disusul Afrika Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Menanggapi ancaman tersebut, Ketua LAK2PB MUI Jawa Barat, KH. Ahmad Anwar Nasihin mengingatkan bahwa ancaman krisis pangan tidak boleh dipandang sebagai persoalan global semata.

“Potensi kekeringan, penurunan produksi pertanian, hingga gangguan distribusi pangan perlu diantisipasi melalui langkah mitigasi yang terukur oleh pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan,” kata Kiyai Anwar saat dihubungi.

Baca Juga:  Debu Proyek Jalan Dikeluhkan Ganggu Belajar, SDN 1 Jagabaya Minta Pengendalian Polusi

LAK2PB MUI Jawa Barat juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, menghemat penggunaan air, menjaga kawasan resapan, serta mendukung upaya penguatan ketahanan pangan berbasis masyarakat sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim.

Meski demikian, laporan PBB yang dirilis pada Juli lalu menunjukkan perkembangan positif.

Angka kelaparan global tercatat menurun selama tiga tahun berturut-turut pada 2025. Namun, diperkirakan masih terdapat 608 juta hingga 696 juta penduduk dunia yang masih menghadapi krisis pangan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran