GUGAH – Upaya pelestarian situs bersejarah tidak selalu membutuhkan proyek besar. Langkah sederhana seperti pemasangan papan nama dan petunjuk arah justru menjadi bagian penting untuk menjaga identitas sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat.
Semangat itu diwujudkan Keluarga Mahasiswa Ciamis (KMC) Galuh Taruna–Bandung melalui program pemasangan papan nama dan pemeliharaan situs keramat dalam rangka Bakti Sosial Kemasyarakatan (BSK) 2026 di Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.
Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Desa Utama, juru pelihara situs, masyarakat setempat, serta pembina KMC Galuh Taruna, Johan J. Anwari. Selain membersihkan area situs dan menata lingkungan, mahasiswa juga memasang papan nama serta petunjuk arah tanpa mengubah keaslian maupun nilai historis setiap situs.
Pada pelaksanaan tahun ini, KMC Galuh Taruna memasang identitas pada empat situs, yakni Situs Gunung Jati, Situs Ciawitali, Situs Samboja Tugaran, dan Situs Tenjo Laut.
Keberadaan papan nama tersebut diharapkan memudahkan masyarakat maupun pengunjung mengenali lokasi situs, sekaligus menjadi langkah awal dalam mendukung pelestarian warisan budaya di kawasan Tatar Galuh.
Ketua Umum KMC Galuh Taruna–Bandung, Banni Anggarisy atau yang akrab disapa Obet, mengatakan pelestarian situs sejarah merupakan bentuk kepedulian generasi muda terhadap akar peradaban Ciamis.
“Kami ingin menjaga makna julukan Ciamis sebagai Kota Seribu Situs. Tidak mungkin ada Ciamis hari ini tanpa sejarah yang dibangun oleh para pendahulu. Karena itu, memperkenalkan sekaligus menjaga situs-situs bersejarah menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya, (5/8/2026).
Obet mengungkapkan, masih terdapat sekitar 10 situs di Desa Utama yang belum memiliki papan nama maupun penunjuk arah. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemasangan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Menurutnya, seluruh biaya program berasal dari swadaya mahasiswa.
“Kami patungan sesuai kemampuan. Semangatnya sederhana, yakni guyub ngawangun Galuh,” katanya.
Meski demikian, KMC Galuh Taruna memastikan program tersebut akan terus dilanjutkan secara bertahap melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya.
Sementara itu, Kepala Desa Utama, Aep Djam’an Sholih, mengapresiasi inisiatif para mahasiswa. Ia menilai pemasangan papan nama tidak hanya memperjelas identitas situs, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenali sejarah desanya.
“Keberadaan papan nama akan membantu masyarakat maupun generasi muda mengetahui keberadaan situs-situs bersejarah yang selama ini belum banyak dikenal,” ujarnya.
Melalui program ini, KMC Galuh Taruna berharap kepedulian terhadap pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurut mereka, menjaga situs sejarah berarti menjaga jejak peradaban Tatar Galuh agar tetap dikenali, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Ciamis.***



Tinggalkan Balasan