Tidak satu pun negara maju di dunia ini yang tidak unggul dalam pendidikan dan riset STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Mari kita bahas.
Korea Selatan adalah contoh paling ekstrem. Negara dengan luas daratan yang hanya sekitar 78 persen Pulau Jawa atau sekitar 5 persen dari luas daratan Indonesia itu mampu memimpin dunia dalam berbagai sektor, mulai dari manufaktur berteknologi tinggi, industri otomotif, perkapalan, kimia dan petrokimia, hingga jasa dan teknologi digital.
Nama-nama seperti Hyundai, Samsung, dan LG tentu sudah sangat akrab. Di sektor yang lebih khusus terdapat Daewoo serta KAI (Korea Aerospace Industries), yang baru saja berhasil memproduksi jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae. Indonesia sebenarnya sempat terlibat dalam riset bersama proyek tersebut, namun pada bulan ini memutuskan untuk mengakhiri kerja sama riset itu.
Di bidang pertahanan, Korea Selatan memiliki Hanwha Ocean (sebelumnya Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering/DSME), yang memproduksi kapal selam kelas Dosan Ahn Changho (KSS-III) dengan teknologi Air-Independent Propulsion (AIP), kemampuan peluncuran rudal balistik, serta sistem tempur yang terintegrasi dengan AEGIS Amerika Serikat. Produk Hanwha Ocean juga digunakan Indonesia melalui kapal selam kelas Nagapasa, termasuk KRI Alugoro yang diproduksi bersama PT PAL.
Tidak hanya itu, melalui Samsung dan SK Hynix, Korea Selatan kini menguasai mayoritas pasar dunia untuk High Bandwidth Memory (HBM). Dalam arsitektur komputer kecerdasan buatan (AI) modern, GPU secepat apa pun, termasuk Nvidia, tidak akan optimal tanpa memori berkecepatan tinggi seperti HBM.
Berkat penguasaan teknologi tersebut, Korea Selatan berhasil bertransformasi dari negara dengan PDB yang pada 1950-an lebih rendah dibanding beberapa negara Afrika menjadi ekonomi terbesar ke-13 di dunia saat ini. Jika dibandingkan berdasarkan luas wilayah maupun jumlah penduduk dengan Indonesia, capaian mereka terlihat jauh lebih mencolok. Semua itu lahir dari nilai tambah teknologi yang dibangun melalui penguasaan ilmu berbasis STEM.
Jika membahas kemajuan Korea Selatan secara menyeluruh, tentu akan sangat panjang. Namun mari melihat kondisi alamiahnya.
Saya memiliki seorang teman asal Korea bernama A-yeong, yang biasa saya panggil Jeng Yeong. Menurutnya, sebagai negara dengan empat musim, masyarakat Korea harus bekerja dan menabung lebih keras saat musim semi dan musim gugur. Sebab ketika musim panas dan musim dingin datang, suhu menjadi terlalu ekstrem sehingga aktivitas pertanian menjadi sangat sulit. Tanah membeku atau mengeras, sementara tanaman enggan tumbuh.
Dulu, sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, kata Jeng Yeong, masyarakat Korea harus “berhibernasi” di rumah selama musim dingin.
Bandingkan dengan Indonesia yang tidak mengenal empat musim. Kita hanya mengenal musim durian, musim rambutan, musim langsat, bahkan musim pilkada. Kita dapat bekerja hampir sepanjang tahun tanpa hambatan iklim yang ekstrem.
Bagaimana dengan sumber daya alam?
Dibanding Indonesia, perbedaannya bagaikan bumi dan langit. Bahkan mungkin kita berada di langit ketujuh. Korea Selatan nyaris tidak memiliki apa-apa. Wilayahnya kecil, hanya sekitar 20 persen daratannya yang subur, tidak memiliki hutan seperti Indonesia, tidak kaya minyak bumi, hampir tidak memiliki nikel, batu bara, gas alam, emas, maupun timah. Singkatnya, mereka miskin sumber daya alam.
Belum lagi persoalan konflik dengan Korea Utara.
Perang Korea memang berhenti pada 1953, tetapi secara teknis kedua negara masih berada dalam status perang karena yang disepakati hanyalah gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Indonesia bahkan telah merdeka delapan tahun lebih dahulu.
Jika melihat semua kondisi itu, seharusnya Korea Selatan lebih sulit berkembang dibanding Indonesia. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mengapa?
Hampir semua pakar yang membahas syarat kemajuan sebuah bangsa tidak pernah menjadikan kekayaan sumber daya alam sebagai faktor utama.
Paul Michael Romer, peraih Nobel Ekonomi 2018 asal Amerika Serikat, melalui teori endogenous growth, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh modal fisik seperti mesin, tanah, atau sumber daya alam. Faktor yang jauh lebih menentukan adalah modal manusia (human capital), yakni pendidikan, kesehatan, keterampilan, inovasi, dan ide. Di sinilah STEM menjadi inti. Inovasi berbasis STEM adalah “koentji”.
Lalu bagaimana kondisi Indonesia?
Berdasarkan data World Bank dan OECD, Indonesia saat ini hanya mengalokasikan sekitar 0,28 persen dari PDB untuk riset dan pengembangan. Kepadatan penelitinya pun hanya sekitar 395 orang per satu juta penduduk.
Bandingkan dengan rata-rata negara maju yang mengalokasikan sekitar 2–3 persen PDB, rata-rata dunia sebesar 1,9 persen, Malaysia sekitar 1,4 persen, sedangkan Korea Selatan mencapai sekitar 4,5 persen.
Sulit mengharapkan lahirnya inovasi kelas dunia jika investasi untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru hanya sepersepuluh dari negara-negara lain. Itu baru persoalan riset. Bagaimana dengan pendidikan STEM?
Hasil PISA 2022 menunjukkan hanya 18 persen siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimal Level 2 dalam matematika. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 69 persen.
Nilai rata-rata Indonesia juga masih berada di bawah rata-rata OECD, yakni matematika 366, membaca 359, dan sains 383, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 472. Bahkan hasil tersebut mengalami penurunan dibandingkan PISA 2018.
Negara dengan skor PISA terbaik masih ditempati Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Indonesia bahkan masih berada di bawah Malaysia dan Thailand.
Rendahnya skor PISA bukan sekadar angka. Itu merupakan indikator lemahnya fondasi berpikir kritis, logika, dan sains sejak pendidikan dasar hingga menengah.
Ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahwa tanpa investasi yang besar dan berkelanjutan pada pendidikan STEM, Indonesia akan kesulitan bertransformasi dari ekonomi berbasis ekstraksi sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Saya sering menjadikan Korea Selatan sebagai pembanding karena kondisi alam mereka yang jauh lebih miskin dibanding Indonesia justru membuat kita semakin merasa bersalah.
Lemahnya penguasaan STEM membuat banyak masyarakat tidak memahami bagaimana mengekstraksi mineral secara benar. Padahal nikel, bijih besi, maupun emas berada di sekitar lingkungan mereka sendiri.
Banyak yang menggali lahan sangat luas hanya untuk memperoleh emas dalam jumlah yang sangat kecil.
Mari kita hitung.
Jika empat unit excavator bekerja di tambang emas terbuka, mereka dapat menggali sekitar 100–200 meter kubik tanah. Hasilnya mungkin hanya sekitar 2–6 kilogram emas per bulan.
Bukankah itu hanya sekitar 0,03 gram per ton, bahkan tidak mencapai 0,1 gram per ton?
Siapa yang mau menambang dengan kadar seperti itu?
Ternyata banyak.
Siapa mereka?
Sebagian adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan untuk menghitung kadar, potensi, maupun metode pengambilan emas yang benar.
Saya selalu mengatakan bahwa pertambangan adalah pekerjaan yang sepenuhnya saintifik. Jika tidak mampu berhitung, jangan menambang.
Namun kenyataannya, perut yang lapar sering kali lebih kuat daripada perhitungan ilmiah. Itu adalah pilihan mereka, terlepas dari benar atau salah caranya.
Bayangkan jika masyarakat memiliki pengetahuan STEM yang memadai. Mereka tentu akan memilih lokasi dengan potensi lebih tinggi, menggunakan metode yang lebih efisien, sekaligus mampu meminimalkan dampak lingkungan. Semua itu adalah penerapan STEM.
Sementara negara sering kali hanya mampu melarang tanpa menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Masih belum cukup?
Mari bercermin pada sejarah Eropa sebelum abad ke-19.
Bangsa-bangsa seperti Spanyol, Inggris, Portugis, Belanda, dan Prancis menguasai dunia melalui kemajuan teknologi pelayaran samudra serta keunggulan teknologi persenjataan. Mereka menjelajah, menyeberangi, dan menguasai lautan karena memiliki penguasaan STEM yang unggul.
Padahal, bukankah pelaut sejati adalah nenek moyang kita, bukan nenek moyang mereka?
Apakah benar nenek moyang kita seorang pelaut?
Ataukah takdir itu hanya milik nenek moyang kita?
Jika pada bidang yang dahulu menjadi keunggulan leluhur pun kita kini tertinggal, bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang menguasai STEM dan melahirkan para insinyur?
Bukankah nenek moyang kita bukan seorang insinyur?
Atau jangan-jangan lagu itu keliru, bahwa nenek moyang kita ternyata bukan seorang pelaut?
Ke mana nenek moyang kita?
Masih di laut dan belum kembali?
Pernahkah kita melakukan kesalahan hingga mereka mengutuk dan mengeluarkan kita dari “kartu keluarga”, sehingga pengetahuan dan kesaktian itu tak lagi dapat kita warisi?
Atau…
Mungkin kita memang harus menuliskan takdir kita sendiri.
Agar kelak, kitalah yang menjadi nenek moyang yang membanggakan bagi cucu-cicit kita di masa depan.
Oleh: Alamsyah Palenga – Penulis adalah Founder The Celebes Initiative.



Tinggalkan Balasan