GUGAH – Cuaca kering yang melanda sejumlah wilayah pertanian di Kabupaten Garut mulai memengaruhi stabilitas harga pangan. Berkurangnya hasil panen akibat minimnya pasokan air menyebabkan sejumlah komoditas hortikultura mengalami kenaikan harga di pasar tradisional.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah pasar, salah satunya Pasar Ciawitali. Pedagang menyebut kenaikan harga terjadi pada berbagai jenis sayuran dan hasil hortikultura yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah jengkol. Dalam beberapa pekan terakhir, harga eceran sempat menembus Rp80 ribu per kilogram akibat pasokan yang sangat terbatas. Saat ini harganya mulai turun, namun masih berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.
Ilyas (45), pedagang sayuran di Pasar Ciawitali, mengatakan pasokan jengkol dari pengepul dan distributor sempat sangat minim sehingga pedagang kesulitan memenuhi permintaan konsumen.
“Kalau barangnya ada pun jumlahnya sedikit. Waktu harga sampai Rp80 ribu per kilogram, pembeli juga banyak yang mengurungkan niat karena dianggap terlalu mahal,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas lain. Tomat kini dijual sekitar Rp16 ribu per kilogram, naik dari harga normal Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram. Sementara cabai merah dan cabai rawit masih bertahan di atas Rp40 ribu per kilogram karena pasokannya belum stabil.
Data pemantauan harga komoditas pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Garut menunjukkan tren kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura sepanjang Juli 2026. Tomat dan cabai menjadi dua komoditas yang mengalami peningkatan harga cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut para pedagang, musim kemarau menjadi penyebab utama berkurangnya produksi pertanian. Ketersediaan air yang semakin terbatas membuat hasil panen menurun sehingga pasokan ke pasar ikut menyusut.
“Kalau panen berkurang karena kekurangan air, otomatis barang yang masuk ke pasar juga sedikit. Ketika permintaan tetap tinggi, harga akan ikut naik,” kata Siti, salah seorang pedagang.
Pedagang lainnya, Dede, menilai tingginya kebutuhan pangan juga ikut memengaruhi dinamika pasar. Menurutnya, sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan, sejumlah komoditas lebih cepat terserap sehingga harga relatif bertahan di level tinggi.
“Menurut kami sebagai pedagang, sejak kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, beberapa komoditas lebih cepat terserap pasar sehingga harga relatif sulit turun. Namun itu merupakan pengamatan kami berdasarkan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber berdasarkan kondisi yang mereka alami di lapangan dan bukan hasil kajian resmi mengenai faktor penyebab kenaikan harga.
Di tengah kenaikan harga, pedagang justru mengaku tidak menikmati peningkatan keuntungan. Sebaliknya, omzet penjualan menurun karena banyak konsumen mengurangi jumlah pembelian untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
“Kalau harga terus naik, masyarakat biasanya membeli lebih sedikit. Akhirnya pendapatan pedagang juga ikut turun karena transaksi tidak sebanyak biasanya,” kata Dede.
Pengamat sektor pangan menilai fluktuasi harga komoditas hortikultura pada musim kemarau merupakan fenomena yang lazim terjadi ketika produksi dari sentra pertanian menurun. Untuk menjaga stabilitas harga, diperlukan kelancaran distribusi, penguatan produksi di tingkat petani, serta pasokan antardaerah yang tetap terjaga.
Masyarakat berharap kondisi produksi pertanian segera membaik sehingga pasokan sayuran kembali normal. Dengan demikian, harga kebutuhan pokok di pasar diharapkan berangsur stabil dan daya beli masyarakat dapat tetap terjaga.***



Tinggalkan Balasan