ADA satu hal yang patut kita renungkan bersama: ketika sebuah karya mengatasnamakan rasa syukur, namun justru menjadikan perempuan sebagai pembanding yang ditempatkan pada posisi yang lebih rendah. Hal ini mengundang pertanyaan mendasar, apakah ungkapan syukur harus dibangun di atas dasar merendahkan keberadaan orang lain?
Ketika pengalaman biologis alami perempuan dijadikan daftar alasan untuk mengatakan “untung aku bukan perempuan”, maka yang terlihat bukan lagi sekadar soal kreativitas seni atau ungkapan pribadi. Di balik kalimat itu tersembunyi cara pandang yang gagal memandang manusia lain sebagai sesama makhluk yang setara nilainya.
Perempuan bukanlah versi kehidupan yang lebih buruk hanya karena memiliki struktur tubuh dan fungsi biologis yang berbeda. Menjadikan rahim, siklus menstruasi, serta seluruh bagian tubuh perempuan sebagai bahan olok-olok tidak pernah menunjukkan keunggulan laki-laki. Sebaliknya, hal itu hanya memperlihatkan betapa dangkalnya pemahaman terhadap makna kemanusiaan dan keberagaman ciptaan Tuhan.
Bersyukur atas keadaan diri sendiri adalah hak mutlak setiap orang. Namun, muncul pertanyaan yang layak dijawab: apakah rasa syukur itu harus dibangun dengan menggambarkan perempuan sebagai pihak yang hidupnya penuh kesulitan dan kekurangan? Apakah untuk merasa lebih beruntung, harus ada pihak lain yang sengaja ditempatkan seolah-olah mengalami kerugian?
Perempuan bukanlah kesalahan dalam penciptaan. Ia bukan beban, bukan pula makhluk yang derajatnya lebih rendah hanya karena memiliki rahim, mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Justru melalui tubuh perempuanlah kehidupan ini terus berlanjut. Dari rahim perempuan, setiap manusia pertama kali mengenal dunia dan menerima kasih sayang. Menjadi sangat ironis ketika fungsi agung yang menjadi dasar keberlangsungan umat manusia itu justru dipelintir maknanya hingga menjadi bahan ejekan.
Memang benar bahwa kebebasan berekspresi dan ruang bagi humor tetap harus dihargai. Namun, kebebasan itu tidak pernah berarti bebas dari tanggung jawab moral dan sosial. Setiap ungkapan, termasuk candaan, tetap membawa pesan yang akan diterima dan diingat oleh pendengarnya.
Ketika sebuah ungkapan terus-menerus mengulang gagasan bahwa perempuan adalah pihak yang merepotkan atau memiliki nasib kurang baik, maka ia tidak lagi sekadar lelucon belaka. Ia perlahan-lahan ikut membentuk cara pandang yang merendahkan martabat perempuan.
Persoalannya bukan hanya soal apakah seseorang tertawa atau tidak mendengarnya. Yang jauh lebih penting untuk direnungkan adalah: mengapa pengalaman hidup yang alami bagi separuh penduduk dunia ini begitu mudah dijadikan sasaran olok-olok?
Menghargai keberadaan laki-laki tidak pernah membutuhkan penghinaan terhadap perempuan. Memuliakan satu ciptaan Tuhan tidak perlu dilakukan dengan cara mengecilkan nilai ciptaan Tuhan yang lain. Keduanya memiliki peran, keistimewaan, dan martabat yang setara dalam tatanan kehidupan.
Karena itu, perlu ditegaskan dengan tegas: perempuan bukanlah kutukan. Perempuan adalah manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama, yang berhak dihormati, dipahami, dan dilihat secara utuh sebagai sesama manusia.*
Farah Huriyyah Permata Arafah
Penulis adalah Aktivis Perempuan di Purwakarta.




Tinggalkan Balasan