50 Persen Kawasan Penyangga Jabodetabek Berada di Bogor, Pemkab Perkuat Konservasi Hulu Ciliwung

|

GUGAH – Pemerintah Kabupaten Bogor menempatkan kawasan Hulu Ciliwung sebagai salah satu prioritas pelestarian lingkungan. Wilayah tersebut dinilai memiliki peran strategis sebagai daerah hulu yang menopang keberlanjutan ekosistem Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan sekitar 50 persen kawasan penyangga Jabodetabek berada di wilayah Kabupaten Bogor. Karena itu, kondisi lingkungan di daerah ini sangat menentukan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat di kawasan hilir.

“Secara geografis kita berada di area hulu dan menengah. Sekitar 50 persen kawasan penyangga Jabodetabek berada di Kabupaten Bogor dan posisinya berada di hulu,” kata Ajat saat menghadiri kegiatan penanaman bambu dan sarasehan bersama Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, di Kabupaten Bogor, Minggu (14/6).

Menurut Ajat, kerusakan lingkungan di Kabupaten Bogor akan berdampak langsung terhadap wilayah hilir. Karena itu, pelestarian kawasan hulu tidak hanya penting bagi masyarakat Bogor, tetapi juga bagi jutaan warga di kawasan Jabodetabek.

Baca Juga:  Indramayu Darurat Predator Anak: Ratusan Pelajar Geruduk Kantor Pemerintah

“Ketika kita abai terhadap kawasan Kabupaten Bogor, tentu dampaknya akan dirasakan oleh wilayah hilir,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Kabupaten Bogor memiliki luas wilayah hampir lima kali lebih besar dibandingkan DKI Jakarta sehingga memegang peranan penting sebagai daerah penyangga kawasan metropolitan. Untuk itu, pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat, komunitas lingkungan, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan hulu.

“Kami sangat senang apabila secara kolaboratif dan terintegrasi kita menata lingkungan Kabupaten Bogor, karena dampaknya memiliki nilai strategis secara nasional, khususnya bagi Jabodetabek,” katanya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan konservasi yang digelar di kawasan Telaga Saat, Hulu Ciliwung, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544.

Ajat mengatakan pelestarian lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kawasan hulu hingga hilir, karena keduanya merupakan satu kesatuan ekoregion.

Baca Juga:  Haji Anton Apresiasi Raihan Opini WTP Kota Bekasi atas LKPD Tahun Anggaran 2025

“Selama ini kita sudah melakukan langkah-langkah menjaga wilayah hilir. Ketika hilir disentuh, hulunya juga harus dijaga. Saat ini Pak Bupati ingin memberi perhatian lebih pada kawasan hulu karena sumber kehidupan kita berasal dari sana,” katanya.

Sebagai daerah tangkapan air utama, kawasan Hulu Ciliwung memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air bagi masyarakat Kabupaten Bogor maupun wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Untuk menjaga kualitas lingkungan, Pemkab Bogor menjalankan berbagai program konservasi, di antaranya penebaran eco enzyme untuk membantu meningkatkan kualitas air, penanaman pohon, pelepasliaran satwa, penebaran ikan yang sesuai dengan ekosistem setempat, serta penanaman pohon pule air guna memperkuat fungsi konservasi tanah.

“Kami ingin masyarakat melihat secara langsung bahwa menjaga lingkungan membutuhkan proses. Karena itu, langkah-langkah yang dilakukan harus memberikan manfaat nyata sekaligus membangun kesadaran masyarakat,” ujar Ajat.

Baca Juga:  Bermasalah di Tanjakan, Truk Pengangkut Kotoran Ayam Tambrak Mobil Avanza di Rumpin Bogor

Menteri LH Apresiasi Gerakan Penanaman Bambu

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, mengapresiasi berbagai inisiatif pelestarian lingkungan yang berkembang di Kabupaten Bogor, termasuk gerakan penanaman bambu yang melibatkan masyarakat dan komunitas.

Menurut Jumhur, pelestarian lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.

“Gerakan lingkungan bukan gerakan milik pemerintah saja, tetapi yang utama adalah gerakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini tengah mendorong gerakan Tobat Ekologis Nasional sebagai upaya mengajak masyarakat berpartisipasi aktif memulihkan lingkungan melalui berbagai aksi nyata, seperti penanaman bambu dan rehabilitasi lahan kritis.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus mengurangi risiko kerusakan ekosistem yang berdampak luas terhadap kawasan Jabodetabek.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran