1,5 Tahun di Bawah Terpal, Anah dan Hanudin Menunggu Janji

|

Bagi para pembuat kebijakan, satu setengah tahun mungkin hanya rentang waktu dalam dokumen perencanaan, siklus anggaran, atau agenda birokrasi. Namun bagi Ibu Anah dan Bapak Hanudin, satu setengah tahun berarti 547 malam bertahan di bawah terpal, menghadapi hujan yang merembes, panas yang menyengat, serta harapan yang perlahan memudar.

Di Kampung Ciputat, Desa Gelaranyar, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, waktu seolah berhenti sejak pergeseran tanah merenggut rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka pulang. Bencana memang datang dalam hitungan menit, tetapi dampaknya dapat mengurung kehidupan seseorang selama bertahun-tahun ketika proses pemulihan berjalan terlalu lambat.

Di atas matras tipis dan beratap terpal yang mulai kusam, pasangan lanjut usia itu menjalani hari-hari yang jauh dari kata layak. Pakaian digantung pada bilah-bilah bambu, barang-barang yang tersisa ditumpuk di sudut tenda, sementara angin malam dan hawa dingin menjadi tamu yang datang tanpa pernah diundang.

Baca Juga:  Hasil Tes Keluar: Ini Daftar Lolos Seleksi BAZNAS Cianjur

Yang membuat kisah ini semakin memilukan adalah kondisi kesehatan Bapak Hanudin yang terus menurun. Dalam keterbatasan fisiknya, ia tidak beristirahat di kamar yang aman, melainkan di sebuah tenda darurat yang seharusnya hanya menjadi tempat singgah sementara. Sayangnya, tempat sementara itu telah berubah menjadi rumah selama satu setengah tahun.

Kisah Ibu Anah dan Bapak Hanudin bukan sekadar cerita tentang kehilangan rumah. Ini adalah potret tentang lambatnya proses pemulihan pascabencana yang masih menyisakan pekerjaan besar bagi negara. Ketika bantuan stimulan yang dijanjikan belum juga terealisasi, yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga martabat dan rasa aman warga negara.

Baca Juga:  MWC NU Sindangbarang Perkuat Jalinan Sinergi, Langkah Strategis Menuju Kemandirian Organisasi

Bencana alam memang tidak dapat dicegah. Namun, lambatnya penanganan setelah bencana adalah persoalan yang berada dalam kendali manusia. Negara tidak diukur hanya dari kemampuannya hadir saat keadaan darurat, tetapi juga dari kesungguhannya memastikan para penyintas dapat kembali hidup dengan layak.

Setiap hari yang berlalu tanpa kepastian menambah beban psikologis bagi mereka yang sudah kehilangan banyak hal. Janji yang tak kunjung menjadi kenyataan perlahan berubah menjadi beban baru. Bagi korban bencana, waktu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan ukuran dari seberapa lama mereka dipaksa hidup dalam ketidakpastian.

Ibu Anah dan Bapak Hanudin tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap dapat kembali tidur di bawah atap yang kokoh, tanpa dihantui hujan yang menembus terpal atau rasa cemas ketika angin bertiup kencang. Harapan yang bagi sebagian orang tampak sederhana, justru menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi mereka.

Baca Juga:  Borong 7 Penghargaan, Polres Metro Tangerang Kota Ukir Prestasi di Hari Bhayangkara ke-80 Polda Metro Jaya

Kisah dari pelosok Pagelaran ini semestinya menjadi pengingat bahwa angka-angka dalam laporan pemerintah selalu memiliki wajah manusia di baliknya. Di balik setiap data korban, terdapat keluarga yang menunggu kepastian. Di balik setiap berkas administrasi, ada kehidupan yang tidak bisa terus ditunda.

Sudah satu setengah tahun mereka menunggu. Pertanyaannya kini bukan lagi kapan bencana itu terjadi, melainkan sampai kapan para penyintas harus menunggu haknya dipenuhi.

Karena bagi mereka yang masih bertahan di bawah terpal, bantuan stimulan bukan sekadar program pemerintah. Bantuan itu adalah jalan untuk kembali hidup dengan bermartabat.

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran