Manufaktur Global Menghijau, Sinyal Positif Bagi Ekspor dan Emiten Saham Indonesia

|

JAKARTA – Geliat aktivitas manufaktur dunia yang mulai merangkak naik membawa angin segar bagi perekonomian domestik. Kementerian Keuangan menangkap adanya sinyal pemulihan ekonomi global seiring kembalinya mayoritas industri manufaktur dunia ke zona ekspansif.

Grafik Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur per Mei 2026 menunjukkan performa yang menjanjikan. Komposisi sebaran aktivitas produksi di negara-negara G20 dan kawasan ASEAN kini didominasi oleh warna hijau. Sebanyak 75 persen negara terpantau berada di zona ekspansi, sementara hanya 25 persen sisanya yang masih berkubang di zona kontraksi.

Kondisi ini dibenarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 pada Jumat (5/6/2026). Purbaya menyebut, negara-negara motor utama ekonomi dunia seperti Amerika Serikat, India, Korea Selatan, Jepang, Inggris, Kanada, hingga Italia mencatatkan angka indeks di atas level psikologis 50,0.

Purbaya menjelaskan bahwa setelah sempat tertahan di zona negatif pada Maret dan April, aktivitas manufaktur Indonesia kini telah kembali menembus ambang batas aman. Pemulihan ini memberikan harapan baru bagi performa industri dalam beberapa bulan ke depan.

“Kalau Anda lihat itu di bulan sebelumnya kan itu negatif terus PMI-nya; Maret, April. Mei sudah balik lagi ke 50. Jadi kira-kira ada prospek perbaikan di aktivitas sektor manufaktur di bulan-bulan ke depan,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Baca Juga:  BREAKING NEWS: IHSG Anjlok 3 Persen, Terendah Selama 2026

Bertahannya performa manufaktur di level ekspansif ini mengindikasikan bahwa roda industri di negara-negara mitra dagang utama Indonesia kembali berputar kencang. Purbaya menilai, meluasnya zona hijau di kancah internasional menandakan bahwa permintaan di pasar global mulai merangkak pulih secara merata.

“Kita lumayan tuh, Indonesia di 50. Yang lain ada yang di bawah, tapi sebagian besar dunia itu sudah mulai hijau lagi. Artinya kalau melihat gambar seperti ini; Amerika, India, Korea Selatan, Jepang, Inggris, Kanada, itu, Italia, dan sebagainya, itu di atas 50 semua, sudah ekspansi lagi. Artinya, global economic sebagian besar tumbuh. Artinya international demand rupanya membaik,” urai Purbaya menambahkan.

Sinyal Awal Sektor Riil Mulai Mendaki

Dikutip dari Kontan, laporan S&P Global memperlihatkan data PMI Manufaktur Indonesia merangkak naik ke level netral 50,0 pada Mei 2026 dari bulan sebelumnya yang sempat terjerembap di level 49,1.

Investment Specialist Bahana Sekuritas, Yazid Muamar, menilai lompatan dari zona kontraksi ke zona ekspansi ini menjadi sinyal awal yang sangat positif bagi prospek kinerja emiten, khususnya di sektor riil dan manufaktur.

Namun, pelaku pasar diminta tidak terburu-buru bereuforia. “Kenaikan ini tidak serta-merta langsung mendongkrak laba bersih emiten seketika, melainkan ada proses transmisi dan beberapa faktor risiko yang perlu dicermati,” kata Yazid kepada Kontan, Rabu, 3 Juni 2026.

Baca Juga:  IHSG Dibuka Menghijau Tipis, Aksi Ambil Untung Jelang Libur “May Day” Bayangi Pergerakan

Menurut Yazid, perbaikan ini setidaknya akan memicu perbaikan laporan keuangan emiten yang pada gilirannya mengerek kinerja saham di bursa. Ada tiga sektor utama yang paling menarik untuk dicermati saat ini:

  • Sektor Otomotif dan Komponen: Menjadi penerima manfaat awal. Peningkatan aktivitas pabrik umumnya berjalan linear dengan kenaikan volume penjualan kendaraan dan utilisasi kapasitas produksi emiten seperti ASII, IMAS, dan VKTR.

  • Sektor Barang Konsumsi: Emiten seperti ICBP, INDF, dan MYOR ikut diuntungkan karena ekspansi manufaktur mencerminkan daya beli domestik yang mulai kokoh.

  • Sektor Logistik dan Bahan Baku: Kebutuhan distribusi barang dan permintaan bahan baku penolong otomatis naik seiring geliat pabrik. Emiten seperti ASSA, SMDR, dan TMAS berpotensi diuntungkan.

Yazid secara khusus menjatuhkan pilihan rekomendasinya pada saham ASII untuk jangka panjang dengan target harga di posisi Rp7.300 per saham.

Hati-hati Sengatan Kurs Rupiah

Di balik optimisme tersebut, bayang-bayang risiko belum sepenuhnya sirna. Secara terpisah, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas, Ike Widiawati, mengingatkan bahwa posisi netral 50,0 ini masih menyisakan tantangan berat berupa peningkatan beban operasional emiten.

Baca Juga:  Target Akhir 2026, Indonesia Mulai Ekspor Listrik Hijau ke Singapura

Biang keroknya tak lain adalah tingginya biaya impor bahan baku dan barang modal akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan ini terjadi.

“Strategi terbaik untuk sektor manufaktur saat ini adalah trading jangka pendek memanfaatkan pantulan teknikal singkat, atau wait and see jika trennya masih turun tajam,” jelas Ike kepada Kontan.

Untuk menyiasati situasi ini, Ike menyarankan pelaku pasar melirik emiten dengan fundamental kokoh yang memiliki benteng pertahanan terhadap fluktuasi valuta asing, seperti ICBP dan SMSM.

SMSM dinilai prospektif karena berhasil membukukan margin laba bersih yang stabil tinggi berkat porsi ekspor mereka yang masif menembus 70 persen ke lebih dari 100 negara. Sementara ICBP memiliki keunggulan berupa arus kas operasional yang tebal serta kontribusi pendapatan valuta asing yang kuat dari anak usahanya di luar negeri.

Purbaya Yudhi Sadewa sendiri tetap optimistis bahwa kembalinya geliat industri di pasar internasional lambat laun akan meredam volatilitas.

“Pelan-pelan pasti akan berdampak ke ekspor kita dan ke aktivitas manufacturing maupun perekonomian kita. Jadi global yang tadinya uncertainty banget, kalau lihat dari sini sih kelihatannya sih akan berekspansi lagi,” pungkas Purbaya.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran