GUGAH – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 mulai menjadi perhatian masyarakat Desa Jatisari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda menilai pesta demokrasi tingkat desa tersebut harus menjadi momentum untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan desa.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jatisari, Enjang Toni, S.Pd., berharap pelaksanaan Pilkades dapat berlangsung aman, tertib, dan kondusif dengan mengedepankan adu gagasan serta program pembangunan.
“Kami berharap Pilkades berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Siapa pun yang nanti mencalonkan diri harus mampu menawarkan gagasan terbaik bagi kemajuan desa. Masyarakat juga perlu bijak dalam menentukan pilihan berdasarkan rekam jejak dan visi pembangunan, bukan semata karena kedekatan personal,” ujar Enjang Toni.
Menurutnya, masyarakat perlu menjadikan Pilkades sebagai momentum untuk memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, integritas, serta program kerja yang ditawarkan kepada warga.
Sementara itu, Ketua GP Ansor Ranting Desa Jatisari, Asep Hapizaradin, menilai kualitas demokrasi desa perlu dijaga dengan mengedepankan etika, persaudaraan, dan nilai kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.
Ia mengatakan masyarakat sebaiknya menentukan pilihan berdasarkan kapasitas, integritas, dan rekam jejak calon pemimpin, bukan karena sentimen atau isu-isu yang berpotensi memecah belah warga.
“Jika ada bakal calon yang membangun dukungan dengan cara menyebarkan kebencian, memecah belah masyarakat, atau menyerang pribadi lawan politiknya, maka masyarakat perlu menilai apakah cara-cara seperti itu mencerminkan karakter seorang pemimpin yang layak memimpin desa,” katanya.
Asep juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut menjaga suasana Pilkades tetap damai dan kondusif.
Menurutnya, pemuda memiliki peran penting tidak hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai pengawas sosial yang dapat mendorong literasi politik, melawan penyebaran hoaks, serta mengedukasi masyarakat agar memilih berdasarkan program dan kapasitas calon.
Pandangan serupa disampaikan tokoh kepemudaan Jatisari, Yudi Listiadi, S.E. Ia menilai keterlibatan generasi muda akan sangat menentukan kualitas demokrasi desa.
Yudi menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan desa ke depan.
“Generasi muda saat ini lebih kritis dan terbuka terhadap informasi. Karena itu, pemerintahan desa ke depan harus lebih transparan, akuntabel, dan melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan. Jangan sampai Pilkades diwarnai kampanye hitam, politik adu domba, penyebaran fitnah, maupun upaya menggiring opini yang dapat memecah belah masyarakat. Kontestasi harus diisi dengan adu gagasan, program, dan visi pembangunan desa,” ujarnya
“Jiika ada bakal calon yang membangun dukungan dengan cara menyebarkan kebencian, memecah belah masyarakat, atau menyerang pribadi lawan politiknya, maka masyarakat perlu menilai apakah cara-cara seperti itu mencerminkan karakter seorang pemimpin yang layak memimpin desa,” tambahnya.
Pilkades Serentak 2026 diharapkan menjadi momentum demokrasi yang sehat dan berkualitas bagi masyarakat Desa Jatisari. Selain menentukan pemimpin desa untuk periode berikutnya, pelaksanaan Pilkades juga menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan dan pelayanan publik di tingkat desa pada masa mendatang.***



Tinggalkan Balasan