Pendapatan Melonjak, Anthropic Resmi Bersiap Melantai di Bursa

|

GUGAH – Investor swasta berlomba-lomba untuk mendapatkan porsi kepemilikan di Anthropic seiring pertumbuhan perusahaan pengembang model kecerdasan buatan (AI) tersebut yang melesat sangat cepat. Sejumlah investor mengatakan kepada TechCrunch bahwa pendanaan senilai US$65 miliar dengan valuasi US$965 miliar yang diumumkan pekan lalu mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) yang signifikan. Di tengah tingginya minat investor swasta tersebut, Anthropic kini mengungkapkan langkah menuju penawaran saham perdana (IPO) dengan mengajukan dokumen secara rahasia.

Salah satu pendiri Anthropic, Daniela Amodei, dalam konferensi Bloomberg Tech pada Kamis (4/9), mengatakan keputusan tersebut didorong oleh kebutuhan pendanaan. Menurutnya, pengembangan model AI membutuhkan biaya awal yang sangat besar, baik untuk melatih model maupun melayani kebutuhan inferensi.

“Biaya untuk melatih model dan melayani inferensi sangat besar di tahap awal. Saya memperkirakan perusahaan-perusahaan yang berada di garis depan pengembangan teknologi ini pada akhirnya akan membutuhkan akses terhadap modal dalam jumlah besar, dan pasar publik sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Amodei.

Baca Juga:  Serangan Drone Israel Tewaskan 9 Orang di Pinggiran Kota Beirut Lebonan

Anthropic mencatat pertumbuhan bisnis yang sangat pesat. Perusahaan itu mengumumkan pendapatan tahunan yang disetahunkan (annualized revenue) telah menembus US$47 miliar pada Mei 2026, melonjak tajam dibandingkan sekitar US$9 miliar pada akhir 2025.

Meski demikian, laju pertumbuhan tersebut akan menghadapi tantangan. Sejumlah perusahaan, termasuk Uber, menilai bahwa meskipun AI mampu memberikan manfaat, tidak semua belanja AI yang mereka keluarkan menghasilkan produktivitas sesuai harapan. Kondisi ini memunculkan kemungkinan perusahaan-perusahaan mulai menekan anggaran AI mereka, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan industri.

Baca Juga:  Jeritan Tahanan Perempuan Palestina di Penjara Israel: Dipukul, Diisolasi, dan Dipermalukan

Namun, Amodei menilai dunia usaha masih berada pada tahap awal dalam memahami cara memanfaatkan AI secara efektif.

“Kasus penggunaan AI saat ini masih akan menjadi pendorong utama efisiensi dan kreativitas, baik di bidang pemrograman, jasa keuangan, hukum maupun kesehatan. Seiring komunitas bisnis semakin akrab dengan teknologi ini, kita akan belajar bersama. Harapan saya, AI akan semakin terintegrasi dalam aktivitas kerja sehari-hari manusia dan menghasilkan nilai yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Amodei juga menjelaskan alasan Anthropic tidak membangun pusat data (data center) sendiri seperti yang dilakukan OpenAI maupun xAI milik Elon Musk untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang terus meningkat.

Menurut dia, Anthropic memilih bersikap hati-hati dalam merencanakan kapasitas komputasi agar tidak membeli sumber daya yang melebihi kebutuhan aktual perusahaan.

Baca Juga:  Parlemen Uni Eropa Desak Penangguhan Kerja Sama dengan Israel Usai Penculikan Aktivis Global Sumud Flotilla

“Pandangan Anthropic sejak awal adalah mempersiapkan diri untuk hasil terbaik tanpa mengambil risiko berlebihan dengan membeli kapasitas komputasi lebih banyak daripada yang bisa dimanfaatkan secara produktif. Sangat sulit memprediksi kebutuhan tersebut secara tepat. Kami lebih memilih menghadapi permintaan yang sedikit lebih tinggi daripada kapasitas yang bisa kami layani, dibandingkan kondisi sebaliknya,” kata Amodei.

Pada bulan lalu, Anthropic mengejutkan industri AI dengan menjalin kerja sama bersama xAI untuk memperoleh kapasitas komputasi tambahan. Kesepakatan tersebut kemudian terungkap dalam dokumen pendaftaran saham (S-1) SpaceX, yang menyebut Anthropic mengeluarkan biaya sekitar US$1,25 miliar per bulan untuk kerja sama tersebut.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran