GUGAH – Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Senin (1/6/2026) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga minyak dunia. Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Harga emas spot tercatat turun 0,3 persen menjadi US$4.521,25 per ons troi pada pukul 12.20 WIB, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,9 persen ke posisi US$4.551,60 per ons troi.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Kenaikan nilai mata uang Negeri Paman Sam membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaannya cenderung menurun.
Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan kombinasi kenaikan harga minyak dan ketidakpastian hubungan AS-Iran membuat pergerakan emas masih fluktuatif.
“Kenaikan harga minyak, ditambah belum jelasnya kesepakatan antara AS dan Iran, cukup untuk membuat pergerakan emas tetap tidak stabil pada awal pekan ini,” ujarnya.
Pasar saat ini menyoroti perkembangan konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan segera memutuskan apakah menyetujui usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Namun hingga kini, kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan dalam sejumlah isu utama.
Ketegangan kembali meningkat setelah AS mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Iran pada akhir pekan. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menyatakan telah melancarkan serangan terhadap salah satu pangkalan militer AS.
Situasi semakin memanas ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Langkah tersebut dilakukan meski gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu.
Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah turut mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap peningkatan inflasi global dan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Dalam kondisi normal, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tarik logam mulia biasanya berkurang ketika suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi maupun instrumen investasi berbunga lainnya.
Wakil Ketua Federal Reserve untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian global masih relatif terkendali. Meski demikian, perang yang berkepanjangan berpotensi menciptakan tekanan inflasi yang lebih persisten dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Meski harga emas sedang terkoreksi, prospek jangka panjang logam mulia tersebut masih dinilai positif. Tim Waterer memperkirakan harga emas berpotensi menembus level US$5.500 per ons troi pada akhir 2026 jika didukung pelemahan dolar AS, penurunan harga minyak, serta berlanjutnya pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia.
“Emas tetap mendapat dukungan dari perannya sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi,” kata Waterer.
Sementara itu, logam mulia lainnya justru mencatatkan penguatan. Harga perak naik 0,7 persen menjadi US$75,81 per ons, platinum menguat 1,5 persen ke level US$1.945,15 per ons, dan paladium bertambah 1,4 persen menjadi US$1.372,75 per ons.***


Tinggalkan Balasan