Skrining Temukan 8.184 Kasus TBC di Garut, 87 Orang Dilaporkan Meninggal

|

GUGAH – Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menemukan 8.184 kasus positif tuberkulosis (TBC) dari hasil skrining terhadap 65.789 warga melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dalam data yang disampaikan Dinas Kesehatan, sebanyak 87 orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Asep Surachman, mengatakan skrining dilakukan sejak April hingga awal Oktober 2026. Pemeriksaan menyasar 360 titik lokasi, dengan 230 titik di antaranya telah dijangkau.

“Dari mulai bulan April hingga awal Oktober 2026 ini, kami sudah melakukan skrining kepada puluhan ribu warga Garut. Dari 360 titik lokasi yang menjadi target, kini sudah mencapai 230 titik lokasi,” kata Asep.

Baca Juga:  Manuskrip 1961 Membuka Tabir Berdirinya Pesantren Sumursari, Jejak Ulama dan Gotong Royong yang Bertahan Lebih dari Seabad

Dari hasil pemeriksaan tersebut, petugas menemukan 39.370 orang yang masuk kategori suspek TBC. Sebanyak 8.184 orang kemudian dinyatakan positif TBC dan tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Garut.

Asep menyebutkan, dari jumlah kasus positif tersebut, sebanyak 8.103 orang dapat menjalani pengobatan. Sementara itu, data yang disampaikan juga mencatat 8.358 orang telah dinyatakan sembuh.

Namun, angka-angka tersebut merupakan data dengan kategori berbeda. Diperlukan penjelasan lebih lanjut mengenai periode pencatatan dan status pasien untuk memastikan keterkaitan antara jumlah kasus positif, pasien yang menjalani pengobatan, pasien sembuh, dan angka kematian.

Baca Juga:  Pelantikan MWCNU Cikajang, PCNU Garut Tekankan Percepatan Layanan dan Penguatan Ranting

Pengobatan TBC Membutuhkan Konsistensi

Asep mengingatkan bahwa pengobatan TBC membutuhkan waktu panjang dan kedisiplinan pasien. Pengobatan umumnya berlangsung sekurang-kurangnya enam bulan, sesuai kondisi pasien dan regimen yang ditetapkan tenaga kesehatan.

Menurut dia, pasien yang menghentikan pengobatan tanpa arahan tenaga medis berisiko mengalami kegagalan pengobatan. Kondisi tertentu juga dapat memicu resistansi obat sehingga penanganan menjadi lebih sulit dan berlangsung lebih lama.

“Namun, tidak sedikit penderita TBC yang putus obat atau resisten terhadap obat sehingga pengobatannya berkepanjangan, bahkan hingga meninggal dunia,” tuturnya.

Temuan tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini dan kesinambungan pengobatan. Warga yang mengalami gejala yang mengarah pada TBC perlu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, sementara pasien yang sedang menjalani terapi harus mengikuti petunjuk tenaga medis hingga pengobatan dinyatakan selesai.

Baca Juga:  Dari Panas Ekstrem hingga Blue Fire Papandayan, Climate Corner Garut Baca Ancaman Iklim

Di sisi lain, tindak lanjut terhadap hasil skrining juga menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC. Pemeriksaan perlu diikuti konfirmasi diagnosis, akses pengobatan, pemantauan kepatuhan pasien, serta penelusuran kontak erat sesuai prosedur kesehatan.

Dengan cakupan skrining yang masih berlangsung, perluasan pemeriksaan dan pendampingan pasien menjadi langkah penting agar kasus dapat ditemukan lebih dini, pasien memperoleh pengobatan, dan risiko penularan di masyarakat dapat ditekan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran