GUAGH – Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kabupaten Garut menutup rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 melalui kegiatan Bahtsul Masail Pelajar di Pondok Pesantren Hidayatul Faizien, Bayongbong–Urug Nangoh, Kabupaten Garut, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang penguatan tradisi intelektual pesantren sekaligus mendorong pelajar dan santri untuk mengembangkan kemampuan mengkaji persoalan berdasarkan khazanah keilmuan Islam.
Bahtsul Masail Pelajar diikuti pelajar dan santri dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut. Melalui forum tersebut, peserta diajak menghidupkan tradisi diskusi, memperdalam pemahaman kitab kuning, serta membangun argumentasi yang didukung referensi dan landasan keilmuan yang kuat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua PC IPNU Kabupaten Garut, Muh. Taopik. Ia menegaskan pentingnya menjaga tradisi pesantren sebagai bagian dari warisan keilmuan Islam yang perlu terus dipelajari dan dikembangkan oleh generasi muda.
Menurut Taopik, Bahtsul Masail Pelajar memberikan kesempatan kepada santri dan pelajar untuk mendalami materi kitab kuning yang telah dipelajari di pesantren melalui diskusi bersama. Forum ini diharapkan tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga membangun kebiasaan bertukar pemikiran dan memperkuat pemahaman secara kolektif.
Sambutan berikutnya disampaikan Ketua Majelis Alumni IPNU Kabupaten Garut, H. Aceng Malki Mimar. Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut dan mendorong para santri agar terus mengembangkan diri, memperkuat ketangguhan pribadi, serta menjaga semangat dalam menuntut ilmu.
Ia juga menekankan bahwa Bahtsul Masail perlu menjadi forum diskusi yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman. Tradisi kajian harus terus dihidupkan agar santri terbiasa menelaah persoalan secara mendalam, mempertimbangkan berbagai pandangan, dan menyusun argumentasi berdasarkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penguasaan Referensi Jadi Bekal Santri
Dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat, santri dituntut untuk tidak hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga memahami konteks persoalan yang berkembang. Baik isu lokal maupun nasional memerlukan kecermatan dalam membaca keadaan, keluasan wawasan, serta kemampuan menghubungkan persoalan dengan sumber-sumber keilmuan yang relevan.
Khazanah pesantren memiliki kekuatan pada tradisi kajian kitab kuning dan kesinambungan keilmuan yang bersanad. Penguasaan terhadap referensi tersebut menjadi bekal penting bagi santri untuk memperdalam pembahasan, menyusun argumentasi, serta menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam di tengah perubahan sosial.
Semangat belajar juga menjadi pesan penting dalam kegiatan tersebut. Proses menuntut ilmu tidak berhenti di ruang kelas atau lingkungan pesantren, melainkan perlu dilanjutkan melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, menelaah referensi, dan mengikuti perkembangan persoalan masyarakat.
Melalui Bahtsul Masail Pelajar, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Garut berupaya memperkuat peran pelajar dan santri sebagai generasi penerus yang memiliki fondasi keilmuan, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial. Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya berkaitan dengan perayaan tradisi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pendidikan dan intelektualitas santri.
Penutupan rangkaian HSN 2026 melalui forum Bahtsul Masail Pelajar diharapkan menjadi titik awal bagi tumbuhnya kegiatan kajian dan diskusi keilmuan yang berkelanjutan di kalangan pelajar dan santri Garut. Dengan tetap berpijak pada tradisi pesantren serta terbuka terhadap perkembangan zaman, generasi santri diharapkan mampu memperluas wawasan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.***





Tinggalkan Balasan