COBA hitung pakai jari aja, sampai kram pun mungkin belum kelar: di Purwakarta tunjangan transportasi pimpinan DPRD capai Rp25 juta sebulan! “Waduh, kalau begini hitungannya, setahun udah bisa nyicil Pajero, sisanya masih cukup buat beli helm moge tiap hari,” celetuk warga yang lagi nongkrong ngopi, matanya melotot kayak lihat kucing bawa helm.
Terus terang deh, bukannya lebih baik Pemda belikan mobil dinas aja? Nanti kan jadi aset daerah juga, nggak cuma kasih uang tunai fantastis yang akhirnya jadi milik pribadi begitu saja.
Emang sih aturannya tertulis rapi di Perbup Nomor 6 Tahun 2025, tapi lihat angkanya rasanya kayak mimpi bangun tidur masih bingung. Cek lagi daftarnya:
– Ketua DPRD: Perumahan Rp47 Juta + Transportasi Rp25 Juta = Rp72 Juta per bulan!
– Wakil Ketua: Rp39,4 Juta + Rp23,5 Juta = Rp62,9 Juta per bulan!
– Anggota: Rp32,7 Juta + Rp20 Juta = Rp52,7 Juta per bulan!
“Kalau saya dapat segitu, setahun nggak usah kerja udah aman, tapi ingat ya ini uang rakyat!” kata Kang Agus sambil geleng-geleng kepala sampai pecinya hampir jatuh.
“Jangan cuma jawab ‘kan udah ada Perbup’, kayak anak kecil bilang ‘kata Ibu boleh dong’. Aturan itu kan juga harus masuk akal, nggak boleh asal jadi aja!”
PP Nomor 18 Tahun 2017 beserta revisinya aja jelas bilang harus patut, wajar, dan sesuai harga pasar setempat. Nah pertanyaannya: di Purwakarta ini ada rumah sewa standar dinas yang harganya Rp47 juta sebulan? Itu rumahnya ada kolam renang sekolahan atau gimana? Terus kendaraannya harus sewa sampai Rp25 juta? Itu mobilnya sekalian sama sopir plus asisten pribadi ya?
Sementara itu, jalan desa masih ada yang bergelombang kayak ombak selatan, biaya sekolah naik terus bikin orang tua utang sana-sini, harga beras kadang bikin pusing tujuh keliling.
“Masa rakyat disuruh hemat, pejabatnya malah ‘hemat’ pas terima uangnya aja,” canda warga, tapi nadanya nggak bisa dibilang sepenuhnya bercanda.
“Makanya Bupati harus cek ulang nih aturannya,” saran Kang Agus sambil tersenyum getir. “Buka aja hitungannya, survei pasarnya mana, siapa yang ngitung sampai dapat angka segitu. Kalau memang beneran wajar, tunjukkan biar kita juga belajar. Tapi kalau ternyata angkanya meleset jauh kayak kompas kena besi, ya diperbaiki dong. Jangan sampai Perbup malah jadi singkatan ‘Peraturan Bikin Bingung’.”
Intinya, peraturan itu bukan cuma buat ditulis dan disimpan rapi di lemari, tapi harus bisa diterima logika dan hati nurani. Jangan sampai rakyat yang taat aturan malah jadi yang paling berat bebannya.
“Kalau wajar, ayo buka. Kalau nggak wajar, ayo benahi. Jangan sampai kita lebih sayang sama kertas aturan daripada sama orang yang bayar pajak!” pungkasnya sambil menyesap kopi yang udah dingin.
Yuslipar
Penulis adalah Koordinator Forum Komunikasi Jurnalis Purwakarta (Fokus JP).




Tinggalkan Balasan