GUGAH — Keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta menorehkan kabar membanggakan. Dr. Raden Marpu Muhidin Ilyas meraih gelar doktor pada Program Studi Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dr. Marpu dinyatakan lulus dalam Sidang Senat Terbuka Ujian Promosi Doktor di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia meraih predikat Cumlaude (Pujian) dengan IPK 3,92.
Ia tercatat sebagai doktor ke-1.206 UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan doktor ke-478 pada Program Studi Pendidikan Islam.
Teliti Hadits Tarbawi
Dr. Marpu mengangkat penelitian tentang pengembangan materi ajar mata kuliah Hadits Tarbawi berbasis Kitab Al-Ilmi dalam Kutubussitah. Ia mengambil studi kasus di STAI EZ Muttaqien dan STAI Al-Muhajirin Purwakarta.
Penelitian itu menyoroti pentingnya pendidikan Islam yang memiliki dasar keilmuan kuat sekaligus menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
“Pendidikan Islam tidak boleh sekadar menampilkan ‘casing’ atau performa luar tanpa akar keilmuan yang tulus, dan tidak boleh pula hanya berhenti pada akar tanpa menghasilkan buah kebermanfaatan bagi masyarakat. Disertasi ini berikhtiar mempertemukan keduanya—bagaimana ilmu itu mengakar ke bumi dan menjulang ke langit, berakar sekaligus berbuah nyata,” ungkapnya dikutip dari postingan Instagram Al-Muhajirin pada Jumat (14/8/2026).
Gagasan tersebut menempatkan tradisi keilmuan pesantren sebagai fondasi. Pada saat yang sama, pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Dukungan Keluarga Besar Pesantren
Sejumlah ulama, pengasuh pesantren, keluarga, dan kerabat hadir mendampingi Dr. Marpu dalam sidang tersebut.
Bagi keluarga besar Al-Muhajirin, keberhasilan itu bukan sekadar pencapaian akademik. Dukungan keluarga, doa orang tua, dan bimbingan para guru turut mengiringi perjalanan pendidikan Dr. Marpu.
Tradisi pesantren yang menjunjung ilmu, tawadhu, dan penghormatan kepada guru juga terlihat dalam momen tersebut.
Ilmu untuk Pesantren
Gelar doktor membuka ruang lebih luas bagi Dr. Marpu untuk memperkuat pengembangan pendidikan Islam, khususnya di lingkungan STAI Al-Muhajirin Purwakarta.
Capaian itu juga menjadi pesan bagi santri dan mahasiswa bahwa tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan pendidikan akademik modern.
Ilmu tidak berhenti pada gelar. Ia harus kembali menjadi manfaat.***



Tinggalkan Balasan