Catatan Pedas untuk Hasanudin Wahid dan Elite PKB yang Lupa Akar.
I. Dari Rahim NU, Kemudian Menendang Rahimnya
Sejarah tidak bisa dipalsukan, Gus Hasanudin.
PKB tidak turun dari langit. PKB tidak tumbuh dari batu.
PKB lahir dari rahim NU. Lahir dari keringat kiai kampung, dari doa santri di pesantren, dari darah warga Nahdliyin yang turun ke jalan 1998.
Maka ketika seorang Sekretaris Jenderal PKB dengan enteng menyebut NU sebagai “organisasi kerumunan”, itu bukan sekadar salah ucap.
Itu adalah tindakan Malin Kundang politik.
Sudah besar, sudah punya jabatan, sudah duduk di Senayan… lalu meludah ke sumur tempat dia dulu minum.
Anda boleh doktor. Anda boleh Sekjen. Anda boleh terhormat.
Tapi ingat: gelar tidak akan pernah bisa menebus adab yang hilang.
II. “Kerumunan”? Itu Penghinaan yang Bodoh Secara Sejarah
Mari kita luruskan dengan data, bukan emosi.
NU bukan kerumunan.
Kerumunan bubar kalau hujan. NU tetap ngaji.
Kerumunan datang karena dibayar nasi bungkus. NU datang karena panggilan iman.
Kerumunan tidak punya sanad. NU punya sanad keilmuan sampai ke Rasulullah.
NU punya 28 ribu pesantren. Punya 40 banom. Punya jutaan guru ngaji.
Punya sejarah melawan penjajah, melawan komunis, menjaga NKRI.
Organisasi sekompleks itu Anda ringkas jadi “kerumunan”?
Itu bukan kritik. Itu kebodohan.
Atau lebih parah: itu penghinaan yang disengaja.
III. Bedakan Antara Kritik dan Kufur Nikmat
Kami warga NU paham politik. Kami bukan anak kemarin.
Kritik ke Gus Yahya? Silakan. Kritik ke KH Miftachul Akhyar? Silakan.
Kritik ke kebijakan PBNU? Itu malah wajib, kalau memang melenceng.
Tapi jangan pernah campur adukkan.
PBNU boleh dikritik karena ia adalah manusia dan struktur.
Tapi NU adalah tradisi, adalah pesantren, adalah para kiai yang sudah wafat, adalah darah syuhada.
Itu haram hukumnya direndahkan.
Anda boleh marah ke pengurus. Tapi jangan pernah berani menyentuh rumahnya.
Itu namanya adab. Dan adab itu yang sepertinya tidak diajarkan saat Anda sibuk mengejar gelar.
IV. Mabda Siyasi: Dibaca atau Dibuang?
PKB punya Mabda Siyasi. Di sana tertulis: Politik Khidmah, Politik Aswaja, Politik Ulama.
Pertanyaannya jujur: Masih laku nggak itu di internal PKB?
Kalau Aswaja, kenapa lisannya tidak tawassuth?
Kalau khidmah, kenapa ucapannya melukai ulama?
Kalau politik ulama, kenapa Sekjennya berani menyebut “kerumunan” kepada organisasi para ulama?
Jangan-jangan Mabda Siyasi sudah jadi pajangan.
Dipakai saat butuh suara kiai. Dibuang saat sudah dapat kursi.
Itu namanya kacang lupa kulit. Itu namanya munafik politik.
V. Tamparan Penutup: Kembalilah Sebelum Terlambat
Gus Hasanudin, dengan segala hormat:
Jabatan Sekjen itu titipan. Kursi DPR itu sementara.
Tapi cap “anak durhaka” itu akan melekat seumur hidup.
Jika Anda masih punya sisa malu, masih punya sisa iman, masih ingat siapa yang mendoakan Anda saat Anda belum jadi apa-apa…
Maka jalan satu-satunya adalah: TABAYYUN. MINTA MAAF.
Bukan minta maaf ke PBNU.
Minta maaf ke para kiai. Ke pesantren. Ke makam para pendiri NU.
Karena Anda telah melukai mereka.
Ingat pesan orang tua kita di Cirebon:
“Aja dadi wong sing ora weruh sing nggeyong.”
Jangan jadi orang yang tidak tahu siapa yang menggendong.
PKB boleh berbeda dengan PBNU. Tapi PKB haram hukumnya durhaka kepada NU.
Karena tanpa NU, PKB hanyalah partai tanpa akar.
Dan partai tanpa akar, cepat atau lambat… akan tumbang.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Cirebon, 12 Agustus 2026
Oleh: Rodia Alfarozie – Penulis adalah Mantan WK. Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jabar.



Tinggalkan Balasan