GUGAH — Orang yang dianggap cerdas tidak selalu terbebas dari keputusan yang keliru. Pendidikan, pengalaman, dan kemampuan menganalisis persoalan memang dapat membantu seseorang menentukan pilihan. Namun, proses pengambilan keputusan juga dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk kondisi psikologis, emosi, kebiasaan, hingga tekanan lingkungan.
Dalam situasi tertentu, seseorang bahkan bisa menyadari bahwa pilihan yang diambil memiliki risiko, tetapi tetap memutuskan untuk menjalaninya.
Praktisi psikologi dan trainer, Agus Sanusi, M.Psi., mengatakan persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Menurutnya, proses pengambilan keputusan merupakan perpaduan antara kemampuan berpikir rasional dan kondisi psikologis.
“Dalam mengambil keputusan, kita tidak hanya menggunakan logika. Ada emosi, pengalaman, kebiasaan, tekanan dari lingkungan, dan bias yang kadang tidak kita sadari,” kata Agus.
Ia menjelaskan, kondisi seseorang saat menghadapi pilihan juga dapat memengaruhi keputusan yang diambil. Ketika berada dalam tekanan, terburu-buru, terlalu yakin terhadap pendapat sendiri, atau sudah memiliki penilaian tertentu terhadap sebuah persoalan, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk melihat pilihan secara utuh.
Fenomena tersebut sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang tetap melanjutkan keputusan yang berisiko karena merasa sudah terlalu jauh untuk berhenti. Ada pula yang menolak masukan bukan karena tidak memahami argumen orang lain, melainkan karena merasa dirinya sudah paling mengetahui persoalan.
Kondisi semacam itu tidak hanya terjadi dalam keputusan besar. Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat muncul ketika seseorang memilih pekerjaan, mengelola keuangan, menentukan sikap dalam hubungan, menghadapi konflik, hingga mengambil keputusan di lingkungan sosial.
Karena itu, Agus menilai kemampuan mengambil keputusan dengan baik bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan atau seberapa tinggi kecerdasan seseorang.
“Yang penting bukan bagaimana kita tidak pernah salah mengambil keputusan. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana kita sampai pada keputusan tersebut,” ujarnya.
Pembahasan mengenai fenomena tersebut akan diangkat dalam Public Insight Series bertema “Mengapa Orang Cerdas Bisa Mengambil Keputusan yang Buruk? Seni Mengambil Keputusan yang Bijaksana.”
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 4 September 2026, pukul 19.30–21.00 WIB, secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Peserta akan mendapatkan wawasan berbasis psikologi dan riset, analisis terhadap fenomena faktual, serta kesempatan berdiskusi dan mengikuti sesi tanya jawab.
Pendaftaran
Masyarakat yang ingin mengikuti Public Insight Series dapat melakukan pendaftaran melalui tautan berikut:
https://forms.gle/tzt5f4zxZbVHUtGQ6
Jumat, 4 September 2026 | 19.30–21.00 WIB | Zoom Meeting
Public Insight Series
Memahami manusia, membangun perubahan.



Tinggalkan Balasan