Menjadi Nakhoda di Tengah Badai

|

Sering kali, sekelompok orang memaksakan diri untuk merasa pantas memegang sebuah kuasa. Padahal, kekuasaan bukanlah sesuatu yang bisa diraih seperti mi instan—diseduh dan siap dinikmati kapan saja.

Kekuasaan adalah tentang kesiapan. Tentang kematangan, pengalaman, keberanian, dan kemampuan memahami tanggung jawab. Sebab, terlalu besar risiko yang harus dikorbankan dan dipertaruhkan ketika sebuah kemudi berada di tangan orang yang belum siap.

Ini bukan soal siapa mendukung siapa. Ini tentang siapa yang mampu menjalankan kemudi dengan tertib, tenang, dan patuh pada aturan di medan yang terjal.

Baca Juga:  Pelajar Bermasalah Tak Cukup Ditindak, Mereka Juga Perlu Dipulihkan

Menjadi pemimpin ibarat menjadi nakhoda sebuah kapal di tengah samudra. Ada badai yang datang tiba-tiba, cuaca yang berubah tanpa aba-aba, ombak yang mengguncang, serta batu karang yang mengintai di tengah perjalanan.

Nakhoda yang baik tidak hanya tahu bagaimana mengarahkan kapal ketika laut tenang. Ia justru diuji ketika badai datang, ketika gelombang meninggi, dan ketika arah perjalanan tidak lagi mudah dibaca.

Untuk menjadi nakhoda yang tangguh, dibutuhkan keberanian dan keteguhan. Pengalaman menjadi bekal, sementara kesabaran menjadi kekuatan untuk menghadapi tekanan yang tidak ringan.

Sekeras apa pun ujian, harus dilewati. Seberat apa pun beban, harus dipikul. Sekuat apa pun tekanan, harus dihadapi. Sekencang apa pun badai, kapal harus tetap diarahkan menuju tujuan.

Baca Juga:  Kegaduhan Sepihak dan Rusaknya Marwah Pemerintahan

Di situlah kita membutuhkan nakhoda yang teruji. Kita membutuhkan pengemudi yang tangguh, pilot yang ahli, dan masinis yang berpengalaman.

Hambatan, tantangan, gangguan, bahkan fitnah dan upaya pembusukan untuk menjatuhkan seseorang mungkin akan selalu ada. Namun, justru di situlah keteguhan seseorang diuji.

Kita membutuhkan sosok yang istiqamah, tidak mudah goyah oleh tekanan, tidak kehilangan arah karena provokasi, dan tetap berdiri teguh pada aturan. Sebab, menjaga keberlangsungan roda organisasi membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk memimpin. Dibutuhkan kedewasaan untuk bertahan.

Baca Juga:  Tolak Seluruh Eksepsi, Tim Kuasa Hukum Berharap Majelis Hakim Kabulkan Putusan Sela

Karena itu, kepantasan harus berjalan bersama kesadaran. Kekuasaan harus didahului kesiapan. Keinginan untuk memimpin harus ditempa oleh proses belajar, pengalaman, dan pengabdian.

Sebab, memimpin bukan tentang siapa yang paling berambisi berada di depan, tetapi siapa yang paling siap bertanggung jawab ketika semua mata tertuju kepadanya.

Pada akhirnya, proses tidak akan mengkhianati hasil.

Oleh: HM. Hadi Musa Said, M.Si – Penulis Adalah Kornas JAM PMII 

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran