GUGAH – Musim kemarau 2026 tidak hanya memicu ancaman kekeringan dan kebakaran lahan, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit di tengah masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purwakarta mengingatkan warga agar mewaspadai lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dehidrasi, hingga diare yang berpotensi muncul akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.
Cuaca panas, udara yang semakin kering, debu yang beterbangan, serta terbatasnya akses terhadap air bersih menjadi kombinasi yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai paling berisiko bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan daya tahan tubuh rendah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, dr. Asep Saepudin, mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh dampak musim kemarau terhadap kesehatan. Menurutnya, perubahan cuaca dan kondisi lingkungan dapat meningkatkan angka kesakitan apabila masyarakat tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Musim kemarau identik dengan meningkatnya debu, suhu udara yang panas, serta berkurangnya kelembapan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kasus ISPA, penyakit kulit, dehidrasi, hingga gangguan kesehatan lainnya. Karena itu masyarakat perlu lebih disiplin menjaga kesehatan diri dan lingkungan,” ujar Asep, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, penyakit kulit dapat muncul akibat kurangnya kebersihan tubuh, penggunaan air yang tidak bersih, maupun paparan panas berlebihan. Sementara ISPA rentan meningkat ketika kualitas udara memburuk akibat debu maupun asap, termasuk jika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Asep menambahkan, kekeringan yang menyebabkan berkurangnya pasokan air bersih juga dapat memicu penyakit saluran pencernaan.
“Ketika masyarakat kesulitan memperoleh air bersih, risiko penyakit seperti diare, muntah, maupun gangguan pencernaan lainnya ikut meningkat. Karena itu kami mengimbau masyarakat memastikan air yang digunakan benar-benar bersih dan layak konsumsi, serta tetap menjaga kebersihan makanan dan tangan sebelum makan,” kata Asep.
Dinkes meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, demam, ruam kulit, gatal yang tidak kunjung sembuh, diare, muntah, maupun tanda-tanda dehidrasi seperti lemas, pusing, bibir kering, dan berkurangnya frekuensi buang air kecil.
Untuk menekan risiko penyakit selama musim kemarau, Dinkes Purwakarta mengimbau masyarakat untuk:
- Memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi.
- Menggunakan masker saat beraktivitas di lingkungan berdebu.
- Menjaga kebersihan tubuh dan mandi secara teratur.
- Menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari serta memastikan air minum telah dimasak hingga matang.
- Mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet.
- Menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, terutama pada siang hari.
- Mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan makanan, dan beristirahat yang cukup.
- Tidak membakar sampah maupun lahan yang dapat memperburuk kualitas udara.
- Segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit jika muncul gejala penyakit.
Asep juga mengingatkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya berbagai penyakit selama musim kemarau.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan kedisiplinan menjaga kesehatan diri, keluarga, serta lingkungan, risiko penyakit selama musim kemarau dapat diminimalkan,” tuturnya.
Dinkes Purwakarta memastikan seluruh puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan tetap bersiaga menghadapi potensi peningkatan kasus penyakit selama musim kemarau. Masyarakat diimbau tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.***



Tinggalkan Balasan