‎Dari Surau Sederhana Menuju Peradaban: Kisah Masjid Al Ubaidillah Gunung Engang Mencetak Generasi Qurani untuk Masa Depan Bangsa

|

Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan berbagai tantangan moral yang mengintai generasi muda, masih ada tempat yang tetap teguh menjaga cahaya peradaban. Tempat itu adalah Masjid Al Ubaidillah di Kampung Gunung Engang, Desa Bojongkondang.

‎Bagi masyarakat setempat, masjid ini bukan sekadar bangunan tempat menunaikan salat. Lebih dari itu, Masjid Al Ubaidillah telah menjadi pusat pendidikan Islam, ruang pembinaan akhlak, tempat tumbuhnya kecintaan kepada Al-Qur’an, sekaligus benteng moral bagi anak-anak dan remaja.

‎Perjalanan dakwah di masjid ini bukanlah kisah yang lahir dalam semalam. Sejak era 1990-an, Ajengan Solihin dengan penuh keikhlasan telah mengabdikan diri membimbing masyarakat dan anak-anak melalui pengajian rutin. Beliau menjadi pelopor yang menanamkan pondasi pendidikan agama di lingkungan Gunung Engang. Dari tangan beliau, lahirlah tradisi mengaji yang terus hidup hingga sekarang.

‎Tongkat estafet perjuangan itu kemudian diteruskan oleh Ahmad Abdul Ro’uf Izaz. Sejak tahun 2013, beliau istiqamah mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mendidik generasi muda di Masjid Al Ubaidillah. Selain dikenal sebagai Ketua Ranting GP Ansor Desa Bojongkondang periode 2019–2025, beliau juga merupakan tokoh agama yang konsisten menghidupkan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

‎Tanpa mengenal lelah, setiap hari beliau membimbing anak-anak membaca Al-Qur’an, mempelajari tata cara ibadah, menghafal doa-doa harian, memahami dasar-dasar ilmu agama, hingga belajar membaca kitab sebagai bekal kehidupan. Pengajian dilaksanakan secara rutin setelah salat Magrib, setelah Isya, dan setelah Subuh. Waktu-waktu yang bagi sebagian orang menjadi saat beristirahat justru berubah menjadi momen terbaik untuk menanamkan ilmu, iman, dan akhlak kepada generasi penerus.

‎Keikhlasan yang dijaga selama bertahun-tahun melahirkan kepercayaan yang semakin besar dari masyarakat. Para orang tua dengan penuh keyakinan menitipkan putra-putri mereka agar memperoleh pendidikan agama yang kokoh. Dukungan pun terus mengalir, baik berupa doa, tenaga, pemikiran, maupun bantuan materi demi menjaga keberlangsungan pengajian.

‎Kini sekitar 50 santri aktif belajar di Masjid Al Ubaidillah. Mereka berasal dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak hingga para pemuda. Yang diajarkan bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an, melainkan juga adab, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, serta kecintaan kepada masjid sebagai pusat kehidupan umat.

‎Perjalanan panjang tersebut memasuki babak baru pada Kamis, 9 Juli 2026. Melalui musyawarah bersama masyarakat, lahirlah sebuah keputusan bersejarah untuk mewajibkan para santri mengikuti program menginap di lingkungan masjid atau kobong yang dibangun secara gotong royong oleh warga.

‎Program kobong bukan sekadar menginapkan anak-anak di masjid. Lebih dari itu, program ini merupakan ikhtiar bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang berlangsung sepanjang hari. Dalam suasana kebersamaan, para santri dibiasakan menjaga salat berjamaah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperkuat disiplin, belajar hidup mandiri, saling menghormati, serta membangun karakter Islami yang kuat sejak usia dini.

‎Langkah ini lahir dari keyakinan bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya diajarkan, tetapi juga harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter mulia tumbuh melalui keteladanan, kebersamaan, dan lingkungan yang baik.

‎Masjid Al Ubaidillah membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Dari surau sederhana di sebuah kampung, cita-cita besar sedang dibangun. Sebuah cita-cita untuk melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, memiliki kepedulian sosial, serta siap menjadi pemimpin yang berakhlak mulia di masa depan.

‎Gerakan pengajian ini sesungguhnya adalah gerakan seluruh masyarakat. Ia lahir dari semangat gotong royong, dipelihara oleh keikhlasan para guru ngaji, diperkuat oleh dukungan para orang tua, dan dijaga oleh kecintaan warga terhadap masjid. Karena itu, keberhasilannya bukan hanya menjadi tanggung jawab para pengajar, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

‎Sudah saatnya semakin banyak pihak memberikan dukungan, baik melalui doa, tenaga, gagasan, maupun rezeki. Sebab setiap huruf Al-Qur’an yang dipelajari anak-anak, setiap ilmu yang diamalkan, setiap akhlak mulia yang tumbuh, dan setiap generasi saleh yang lahir dari masjid adalah investasi peradaban yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang zaman.

‎Membangun masjid adalah amal yang agung. Namun, menghidupkan masjid dengan ilmu, pendidikan, dan lahirnya generasi Qur’ani merupakan warisan yang nilainya jauh melampaui usia bangunan itu sendiri.

‎Semoga dari Masjid Al Ubaidillah Gunung Engang terus lahir generasi yang menjadi penyejuk keluarga, kebanggaan masyarakat, penjaga nilai-nilai Islam, serta penerus perjuangan agama dan bangsa. Sebab sejarah telah membuktikan, banyak peradaban besar berawal dari sebuah masjid. Dan bukan tidak mungkin, dari kampung kecil ini akan lahir generasi yang kelak memberi cahaya bagi Indonesia.

Baca Juga:  Kita, Tembok dan Bunga-bunga – Seri 2

‎Oleh : Najmul Umam 

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran