KH. Khutib Tabrani: Mengabdikan Hidup untuk Dakwah, Pesantren, dan Nahdlatul Ulama

|

Meneladani Perjuangan Seorang Ulama Kampung yang Mengabdikan Hidup untuk Dakwah dan Pendidikan.

DI BALIK berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda Yaspinda Datarkendal, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, terdapat sosok ulama yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah, pendidikan Islam, dan perjuangan Nahdlatul Ulama. Sosok tersebut adalah KH. Khutib Tabrani bin H. Hasan Basyri, seorang pendidik sekaligus pendakwah yang dikenal karena kesederhanaan, kesabaran, serta keteguhannya dalam membina masyarakat.

Warisan terbesar beliau bukan hanya berupa bangunan pesantren yang hingga kini terus berkembang, tetapi juga nilai-nilai keikhlasan, pengabdian, dan kecintaan kepada agama yang terus hidup melalui para santri, keluarga, dan masyarakat.

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

KH. Khutib Tabrani lahir di Desa Toblong, Kecamatan Peundeuy (yang pada masa itu masih termasuk wilayah Kecamatan Singajaya), Kabupaten Garut, sekitar tahun 1950 Masehi. Beliau merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, pasangan H. Hasan Basyri dan Hj. Rasminah.

Sejak usia dini, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat mencintai ulama dan pesantren. Kedua orang tuanya tidak hanya menghormati para kiai dalam ucapan, tetapi juga membuktikannya melalui pelayanan dan pengorbanan nyata.

Salah satu kisah yang sering beliau ceritakan kepada anak-anaknya menggambarkan betapa besar penghormatan kedua orang tuanya kepada para ulama.

Suatu ketika, seorang ulama sepuh singgah di kediaman keluarga mereka. H. Hasan Basyri dan Hj. Rasminah menyambut tamu tersebut dengan penuh penghormatan serta menghidangkan makanan terbaik yang mereka miliki, mulai dari ayam goreng, pepes ikan, hingga berbagai hidangan lainnya. Padahal, pada saat yang sama seluruh anak mereka belum sempat makan.

Anak-anak kecil itu hanya bisa mengintip dari balik bilik rumah ketika sang ulama menikmati hidangan. Melihat anak-anaknya menunggu, sang ibu dengan penuh kelembutan berkata dalam bahasa Sunda:

“Sing sabar, sing ridho. Maneh mah engké sesana waé. Hawatos éta mama, atos papah tebih. Keun katuangeun dituang ku ulama mah barokah.”

Baca Juga:  Bertemu Usai Somasi, Gus Ipul dan Hamzah Sahal Berjabat Tangan, Gesturnya Jadi Sorotan

Yang berarti:

“Bersabarlah dan ikhlas. Kalian nanti makan sisanya saja. Kasihan beliau sudah menempuh perjalanan jauh. Makanan yang dinikmati seorang ulama insyaallah membawa keberkahan.”

Peristiwa sederhana tersebut membekas kuat dalam diri KH. Khutib Tabrani hingga menjadi pelajaran hidup mengenai adab kepada ulama dan pentingnya mencari keberkahan melalui penghormatan kepada orang-orang saleh.

Menimba Ilmu di Berbagai Pesantren

Berbeda dengan kebanyakan anak seusianya, KH. Khutib Tabrani tidak menempuh pendidikan formal. Sejak berusia sekitar sebelas tahun, beliau memilih mendalami ilmu-ilmu agama melalui jalur pendidikan pesantren.

Pesantren pertama yang menjadi tempat beliau menuntut ilmu adalah Pondok Pesantren Nurul Huda Cibodas, Cikajang, di bawah asuhan almarhum KH. Muhyidin bin Mama Nuh, yang merupakan menantu KH. Muhammad Nawawi dari Pesantren Sayuran.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren tersebut, beliau melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke berbagai pesantren lain di Kabupaten Garut. Tradisi berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain menjadi bagian penting dalam pembentukan keluasan wawasan keilmuan, kedalaman spiritual, serta karakter kepemimpinannya sebagai seorang ulama.

Membangun Rumah Tangga dan Merintis Dakwah

Sepulang dari masa pengembaraan menuntut ilmu, pada tahun 1975 KH. Khutib Tabrani menikah dengan Hj. Ai Marhamah, seorang perempuan asal Kecamatan Cisompet.

Dari pernikahan tersebut Allah SWT menganugerahkan dua belas orang putra dan putri.

Setelah berkeluarga, beliau mulai mengabdikan diri sebagai guru agama di Kampung Cihaurkuning, tempat asal istrinya. Selama kurang lebih tiga tahun beliau mengajar masyarakat setempat melalui pengajian, pendidikan Al-Qur’an, serta pembinaan keagamaan.

Pengabdiannya yang tulus kemudian menarik perhatian salah seorang tokoh masyarakat Cisompet, almarhum Aki Mad Husni. Melihat kebutuhan masyarakat terhadap seorang pembimbing agama, Aki Mad Husni meminta KH. Khutib Tabrani menetap di Kampung Datarkendal.

Sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan dakwah tersebut, beliau mewakafkan sebidang tanah seluas sekitar 40 bata yang diperuntukkan bagi pembangunan masjid, pondok pesantren, serta rumah tinggal keluarga KH. Khutib Tabrani.

Baca Juga:  Prediksi Idul Adha 2026: Jadwal Shalat Id, Aturan Kurban, dan Cuti Bersama

Pada tahun 1978, beliau resmi menetap di Kampung Datarkendal, Desa Cisompet, Kecamatan Cisompet. Dari tempat sederhana itulah perjuangan besar membangun Pondok Pesantren Nurul Huda Yaspinda dimulai.

Merintis Pesantren di Tengah Berbagai Ujian

Perjalanan membangun pesantren tidak pernah berlangsung mudah. Pada masa-masa awal berdirinya pesantren, jumlah santri terus bertambah, tetapi berbagai tantangan juga datang silih berganti.

Salah satu ujian yang cukup berat adalah adanya gangguan terhadap para santri pada malam hari. Beberapa orang yang tidak dikenal kerap melakukan teror untuk menakut-nakuti para santri, terutama ketika ada warga kampung yang baru meninggal dunia.

Di sekitar asrama panggung (kobong), sering terdengar suara tawa menyeramkan yang menyerupai suara hantu. Bahkan pernah ditemukan sabut kelapa yang dibakar bersama kemenyan di bawah bangunan asrama sehingga menimbulkan ketakutan luar biasa di kalangan santri.

Banyak santri yang menangis histeris karena merasa diteror. Melihat kondisi tersebut, KH. Khutib Tabrani memilih berjaga hampir setiap malam demi memberikan rasa aman kepada anak-anak didiknya. Kesabaran dan keberanian beliau akhirnya membuahkan hasil setelah berhasil menangkap pelaku yang selama ini melakukan aksi teror tersebut.

Peristiwa itu menjadi salah satu bukti bahwa seorang kiai tidak hanya mengajar ilmu agama, tetapi juga hadir sebagai pelindung dan pengayom bagi para santrinya.

Keteguhan Menghadapi Fitnah

Kesabaran KH. Khutib Tabrani kembali diuji pada sekitar tahun 1984. Saat sedang menyampaikan khutbah Jumat, beliau dihentikan dan diminta turun dari mimbar oleh aparat dari Koramil setempat. Tindakan tersebut terjadi karena adanya tuduhan dan fitnah yang menyebut beliau mengajak masyarakat menolak program Keluarga Berencana (KB) serta dianggap menghina partai penguasa pada masa itu.

Meskipun mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, beliau tidak memilih jalan konfrontasi. Dengan penuh kebijaksanaan, beliau menerima ujian tersebut dengan kesabaran, tetap melanjutkan dakwah, dan tidak pernah menyimpan rasa dendam.

Baca Juga:  Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Bacaan Arab, Latin, Arti, serta Waktu Membacanya

Sikap tersebut menjadi teladan tentang bagaimana seorang ulama menghadapi tekanan dengan akhlak yang mulia dan mengedepankan kedamaian.

Pengabdian untuk Nahdlatul Ulama

Selain aktif membina pesantren, KH. Khutib Tabrani juga dikenal sebagai penggerak organisasi Nahdlatul Ulama. Beliau pernah mengemban amanah sebagai salah seorang pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut.

Kepada anak-anak dan para santrinya, beliau selalu berpesan agar menjadikan khidmah kepada Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari pengabdian kepada agama.

Sejak kecil, putra-putrinya sering diajak menghadiri kegiatan NU, baik di tingkat MWCNU maupun PCNU. Melalui cara tersebut beliau menanamkan kecintaan terhadap perjuangan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Setiap kali ada kegiatan yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama maupun kepentingan umat, beliau selalu berusaha memberikan bantuan sesuai kemampuan.

Semangat berkhidmah, kepedulian sosial, dan kecintaan kepada NU menjadi warisan nilai yang terus hidup hingga saat ini.

Wafat dan Warisan Perjuangan

Pada hari Jumat, 17 Ramadan 1434 Hijriah atau bertepatan dengan 26 Juli 2013 Masehi sekitar pukul 16.30 WIB, KH. Khutib Tabrani berpulang ke rahmatullah.

Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, alumni, dan masyarakat luas. Namun perjuangan yang telah dirintisnya tidak berhenti bersama wafatnya beliau.

Pondok Pesantren Nurul Huda Yaspinda terus melanjutkan kiprah pendidikan Islam yang berlandaskan akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Tongkat estafet kepemimpinan pesantren kini diteruskan oleh salah seorang putra beliau, KH. Asep Saeful Holik, yang meneruskan cita-cita sang ayah dalam membina generasi berilmu, berakhlak, dan mengabdi kepada umat.

Jejak kehidupan KH. Khutib Tabrani menjadi bukti bahwa ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan seorang ulama mampu melahirkan warisan yang jauh melampaui usia. Melalui pesantren yang beliau dirikan, nilai-nilai dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat akan terus hidup, memberi manfaat bagi generasi demi generasi.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran