Muktamar selalu menjadi peristiwa penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Perhatian publik sering tertuju pada dinamika pemilihan kepemimpinan, peta dukungan, serta arah kebijakan organisasi setelah forum berakhir. Akan tetapi di balik semua itu, ada makna yang lebih mendasar. Di mana lebih jauhnya, Muktamar merupakan ruang tempat warga NU kembali mengingat alasan mengapa organisasi ini didirikan, nilai apa yang diwariskan para muassis, dan amanah apa yang harus dijaga oleh setiap generasi penerus.
Penyelenggaraan Muktamar di Tambakberas menghadirkan pesan yang sulit dilepaskan dari sejarah panjang NU. Pondok Pesantren itu menjadi salah satu ruang yang menyimpan jejak pengabdian para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk agama, bangsa, dan umat. Ketika ribuan nahdliyin melangkahkan kaki ke kawasan ini, mereka sebenarnya sedang memasuki ruang yang pernah menjadi saksi lahirnya gagasan, perdebatan, doa, dan ikhtiar yang membentuk watak Nahdlatul Ulama sejak masa awal.
Pilihan terhadap Tambakberas akhirnya mengandung makna yang melampaui persoalan lokasi. Ada ajakan yang halus agar Muktamar kembali berangkat dari denyut kehidupan pesantren, tempat ilmu dipelajari dengan adab dan kepemimpinan ditempa melalui pengabdian. Suasana itu mengingatkan bahwa perjalanan NU selalu bertumpu pada kekuatan moral para kiai, keluasan ilmu, dan kesediaan mengutamakan kepentingan umat di atas berbagai kepentingan yang bersifat sementara.
*Tambakberas sebagai Simbol Kembalinya NU ke Akar Perjuangan*
Tambakberas telah lama menjadi bagian dari peta sejarah Nahdlatul Ulama. Di lingkungan pesantren seperti inilah hubungan antara ilmu, akhlak, dan perjuangan tumbuh secara alami. Para santri belajar memahami kitab, menghormati guru, dan menyaksikan secara langsung bagaimana seorang kiai memimpin masyarakat dengan keteladanan. Tradisi tersebut membentuk karakter yang kelak menjadi fondasi budaya organisasi NU, yakni musyawarah, tawaduk, serta keberanian menjaga kemaslahatan bersama.
Peran Pondok Pesantren Tambakberas memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. Keterkaitan tersebut tidak dapat dilepaskan dari sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang penggerak utama lahirnya NU. Sebagai santri sekaligus orang kepercayaan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau mendapat amanah untuk membangun komunikasi dan mengonsolidasikan para kiai beserta pesantren-pesantren di berbagai daerah. Ikhtiar itu menjadi salah satu fondasi penting yang mengantarkan NU tumbuh menjadi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan di Dunia. Bersama Hadratussyaikh Rois’ul Akbar KH. Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebuireng dan KH. Bisri Syansuri dari Pesantren Denanyar, KH. Abdul Wahab Chasbullah menjadi bagian dari poros utama lahirnya NU. Perjalanan tersebut juga memperoleh dukungan banyak ulama besar dari berbagai daerah, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, mahagurunya para Ulama Nusantara, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, KH. Abdul Halim Leuwimunding, KH. Abdul Wahid Hasyim sekaligus putra tertua Hadratussyaikh mbah Hasyim As’Ary serta tokoh-tokoh lain dari berbagai Daerah di Bumi Nusantara yang memberikan kontribusi sesuai dengan peran dan zamannya.
Ketika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama diputuskan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, banyak warga NU memaknainya lebih dari sekadar penetapan lokasi penyelenggaraan. Ada pembacaan batin yang melihat keputusan tersebut sebagai isyarat untuk kembali mengingat jejak perjuangan para muassis. Dalam pandangan spiritual itu, seolah-olah Mbah Hasyim, Mbah Wahab, dan Mbah Bisri sedang mengajak seluruh keluarga besar NU berkumpul kembali di rumah perjuangan untuk menata langkah organisasi. Tambakberas dipandang sebagai tempat yang paling tepat karena memiliki hubungan historis yang kuat dengan peran KH. Abdul Wahab Chasbullah dalam membangun konsolidasi NU sejak masa awal berdirinya. Muktamar pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali persatuan, melakukan evaluasi kelembagaan, dan memastikan arah perjuangan NU tetap berjalan sesuai cita-cita para pendirinya.
Kembalinya Muktamar ke lingkungan pesantren menghadirkan kesan bahwa NU sedang menengok kembali sumber mata air yang selama ini menghidupinya. Organisasi sebesar apa pun dapat mengalami kelelahan apabila terlalu jauh dari nilai yang melahirkannya. Pesantren menghadirkan ritme yang berbeda. Kesederhanaan, kedisiplinan, dan kehidupan yang berpijak pada ilmu menjadi pengingat bahwa kekuatan NU sejak awal bertumbuh dari pembinaan manusia, bukan dari kemegahan fasilitas ataupun besarnya pengaruh politik.
Makna pulang (Mudik) dalam peristiwa ini juga layak dipahami sebagai proses memperbarui orientasi. Seseorang yang pulang bukan sedang mengulang masa lalu, melainkan mencari bekal untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Tambakberas memberikan kesempatan kepada seluruh muktamirin untuk memandang kembali wajah NU melalui cermin sejarah. Dari tempat seperti inilah lahir keyakinan bahwa masa depan organisasi akan tetap kokoh apabila akarnya terus dirawat dengan kesungguhan.
*Keteladanan Para Muassis: Warisan yang Tidak Boleh Terputus*
Para muassis NU meninggalkan jejak yang jauh lebih besar daripada bangunan organisasi. Mereka mewariskan cara memandang kehidupan, cara merawat perbedaan, dan cara menghubungkan ilmu dengan pengabdian. Sosok seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri menunjukkan bahwa kepemimpinan memperoleh kewibawaannya dari keluasan ilmu serta kematangan akhlak. Nama-nama besar itu tetap hidup karena nilai yang mereka tanamkan terus menemukan relevansinya pada setiap zaman.
Keikhlasan yang diwariskan para pendiri sering dipahami secara sederhana sebagai sikap tanpa pamrih. Padahal, keikhlasan mereka lahir melalui proses panjang yang ditempa oleh disiplin ilmu, kesabaran menghadapi perbedaan, serta keberanian memikul tanggung jawab. Mereka mampu berdialog dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip. Mereka menjaga tradisi sambil membaca perubahan masyarakat dengan pandangan yang jernih. Warisan semacam ini memerlukan upaya terus-menerus agar tidak berhenti sebagai cerita yang dikenang pada acara seremonial.
Generasi NU hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa para pendiri. Arus informasi bergerak sangat cepat, ruang publik dipenuhi persaingan opini, dan organisasi dituntut semakin profesional dalam mengelola berbagai bidang pengabdian. Keadaan tersebut membutuhkan kemampuan baru tanpa mengurangi karakter dasar yang telah dibangun para muassis. Profesionalisme akan menemukan maknanya apabila tetap berpijak pada adab, amanah, dan tanggung jawab kepada umat.
Muktamar di Tambakberas menjadi kesempatan yang berharga untuk menghadirkan kembali teladan tersebut ke dalam praktik organisasi. Keteladanan para muassis tidak berhenti pada foto yang dipasang di ruang sidang atau kutipan yang dibacakan dalam pidato pembukaan. Warisan mereka hidup ketika musyawarah dijalankan dengan kejujuran, keputusan diambil dengan kebijaksanaan, dan setiap amanah diterima sebagai bentuk khidmah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
*Muktamar sebagai Momentum Memperbarui Khidmah*
Khidmah merupakan napas yang membuat Nahdlatul Ulama tetap bertahan melewati berbagai perubahan zaman. Semangat ini mengajarkan bahwa setiap jabatan hanyalah sarana untuk melayani, sedangkan tujuan utamanya tetap berada pada kemaslahatan umat. Muktamar menjadi ruang untuk memperbarui kesadaran tersebut agar seluruh keputusan yang lahir dari forum organisasi selalu bergerak menuju kepentingan yang lebih luas daripada kepentingan pribadi ataupun kelompok.
Suasana pesantren memberi kesempatan kepada setiap peserta Muktamar untuk mengambil jarak dari hiruk-pikuk persaingan. Di tengah lantunan ayat suci, suara santri mengaji, dan kehidupan yang sederhana, ada ruang batin yang mengajak seseorang berbicara dengan dirinya sendiri. Pertanyaan mengenai alasan berkhidmat sering kali menemukan jawabannya dalam keheningan seperti itu. Pengalaman semacam ini memiliki nilai yang sulit digantikan oleh gedung-gedung pertemuan yang megah.
Harapan terbesar dari Muktamar bukan sekadar lahirnya kepengurusan baru. Yang lebih penting ialah tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa NU membutuhkan pemimpin yang mampu merawat persatuan, menjaga marwah ulama, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Keputusan-keputusan organisasi akan memperoleh kekuatan ketika dibangun di atas kepercayaan, ketulusan, dan kesediaan mendengar suara warga yang selama ini menjadi denyut kehidupan Nahdlatul Ulama.
Tambakberas akhirnya menjadi pengingat bahwa napas perjuangan NU selalu berasal dari tempat yang sama, yakni pesantren yang membentuk manusia dengan ilmu, adab, dan pengabdian. Muktamar dapat menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali semangat itu dalam setiap langkah organisasi. Ketika ruh perjuangan tetap terjaga, Nahdlatul Ulama akan terus memiliki kekuatan moral untuk menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai jam’iyah yang lahir dari tradisi keilmuan dan khidmah.
Oleh: Adhe HM Musa Said – Penulis adalah Koordinator Nasional Jaringan Alumni Muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Kornas JAM PMII).



Tinggalkan Balasan