Pemuda Cisarua Bangun Ruang Belajar Inklusif bagi Anak Desa

|

GUGAH – Para pemuda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, membangun ruang belajar berbasis masyarakat melalui peluncuran Program Kampung Inklusif di Dusun Cibolang, Desa Kebonkalapa, Senin (6/7/2026).

Program yang diinisiasi oleh Komunitas Tunas Literasi Pelita (TULIP) dan Pravana Aksara, yang berafiliasi dengan Kelompok Literasi Seni, tersebut menjadi titik pelaksanaan kedua setelah sebelumnya dibuka di Dusun Pasir Munding, Desa Kebonkalapa, Kabupaten Sumedang.

Program Kampung Inklusif bertujuan membuka akses pendidikan yang seluas-luasnya bagi anak-anak dan pemuda tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun budaya. Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini menghadirkan pembelajaran literasi dan numerasi, penguatan ekosistem belajar berkelanjutan, serta berbagai aktivitas yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, seperti jelajah kampung, menanam tanaman pangan, permainan edukatif, dan eksplorasi potensi lokal.

Baca Juga:  Berbekal Ilmu dan Adab, 62 Siswa MA Plus Al Hikam Sumedang Terjun ke Masyarakat dalam Program PPL

Pembukaan program dihadiri Founder Kelompok Literasi Seni, perwakilan Pemerintah Desa Kebonkalapa, tokoh masyarakat, relawan, serta para pemuda penggerak literasi. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan nonformal yang tumbuh dari inisiatif masyarakat.

Perwakilan Pemerintah Desa Kebonkalapa, Ibu Dedeh, mengatakan Program Kampung Inklusif sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak, terutama selama masa libur sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi alternatif positif untuk mengurangi aktivitas yang kurang produktif, seperti menghabiskan waktu secara berlebihan di media sosial.

“Selama libur sekolah, anak-anak membutuhkan ruang yang produktif untuk belajar dan berkegiatan. Program Kampung Inklusif menjadi solusi agar waktu luang mereka diisi dengan aktivitas yang bermanfaat, bukan hanya scrolling media sosial,” ujarnya.

Baca Juga:  Dampak Kenaikan Harga Pertamax, Antrean Pertalite di SPBU Jatinangor Mengular Hingga Setengah Jam

Sementara itu, Founder Kelompok Literasi Seni, Jaelan Soheh, mengapresiasi inisiatif para pemuda yang menggagas program tersebut. Ia menilai Kampung Inklusif tidak hanya memberikan manfaat bagi anak-anak sebagai peserta, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi para pemuda dalam mengembangkan kepemimpinan dan kemampuan mengelola organisasi.

“Program ini memberikan dampak ganda. Anak-anak memperoleh ruang belajar yang berkualitas, sementara para pemuda belajar memimpin, mengelola program, membangun kolaborasi, dan mengasah kemampuan manajemen yang akan menjadi bekal penting di masa depan,” kata Jaelan.

Ia menegaskan Kelompok Literasi Seni akan terus memfasilitasi komunitas-komunitas yang berada dalam jejaringnya agar mampu menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Inspiratif! Hasbi Ridla Ilahi Jadi Wisudawan Tuli Pertama yang Sampaikan Pidato di Unpad

“Kami ingin memastikan gerakan-gerakan baik seperti Kampung Inklusif tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kelompok Literasi Seni akan terus mendampingi komunitas yang terafiliasi agar mampu menghadirkan program-program yang berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Program Kampung Inklusif diharapkan menjadi model pendidikan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai desa di Kecamatan Cisarua maupun wilayah lain di Kabupaten Sumedang.

Kolaborasi antara komunitas, pemerintah desa, dan masyarakat diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan peduli terhadap lingkungan.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran