GUGAH – Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 yang mulai berlaku per Rabu, 10 Juni 2026, memicu pergeseran konsumsi konsumen secara signifikan. Berdasarkan data terbaru, harga Pertamax melonjak tajam dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 merangkak naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Imbas dari selisih harga yang kian melebar tersebut terlihat nyata di lapangan. SPBU 31.453.01 Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, terpantau dipadati kendaraan roda dua dan roda empat pada Kamis malam. Alih-alih membeli Pertamax, warga justru berbondong-bondong mengantre di jalur BBM bersubsidi jenis Pertalite.
Dani Ariansyah, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang ditemui di lokasi, mengeluhkan panjangnya antrean yang terjadi di jalur Pertalite. Menurutnya, migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite menjadi penyebab utama kemacetan di area dispenser SPBU.
“Mungkin warga yang dulunya beli Pertamax jadi tumplek beli Pertalite dengan harga yang cukup jauh ini. Ada dua antrean dan cukup lama antrinya di sini, bisa lebih dari setengah jam. Kita harus sabar saja daripada beli yang mahal. Terus terang antrean ini mengganggu waktu kita pengemudi ojol yang berjuang dengan waktu,” ujar Dani dengan nada kecewa.
Keluhan serupa juga diutarakan oleh Juliawati, seorang warga setempat. Ia mengaku terpaksa harus meluangkan waktu lebih lama dan memupuk kesabaran demi mendapatkan BBM dengan harga yang lebih terjangkau bagi kantong masyarakat kecil.
“Sangat butuh kesabaran kita beli bensin ini, karena ada selisih harga yang lumayan bagi kita yang rakyat kecil ini. Saya berharap Pertamax turun lagi saja,” ungkap Juliawati.
Hingga berita ini diturunkan, kepadatan kendaraan di SPBU Jatinangor masih terus terjadi, didominasi oleh kendaraan roda dua yang setianya menunggu giliran demi mendapatkan Pertalite guna menekan biaya operasional harian mereka.*



Tinggalkan Balasan