Krapyak dan Jejak Tiga Ketua Umum PBNU: Dari Gus Dur, KH Said Aqil Siradj hingga Gus Yahya Cholil Staquf

|

Di antara sekian banyak pesantren yang menjadi pilar lahirnya ulama dan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta menempati posisi yang sangat istimewa. Pesantren yang didirikan oleh KH. Muhammad Munawwir pada awal abad ke-20 dan kemudian dikembangkan oleh KH. Ali Maksum ini dikenal sebagai salah satu pusat kaderisasi ulama yang memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan NU.

Dari rahim pesantren inilah lahir tiga tokoh yang pada masa berbeda dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Ketua Umum, yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Said Aqil Siradj, dan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Gus Dur, Ketua Umum PBNU 1984–1999

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan alumnus Krapyak yang kemudian tampil sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah NU. Pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984, ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Baca Juga:  Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid: Niat, Rukun, dan Sunnahnya

Gus Dur kemudian kembali dipercaya memimpin PBNU pada Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta, tahun 1989, dan kembali terpilih pada Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, tahun 1994.

Selama kurang lebih 15 tahun memimpin PBNU (1984–1999), Gus Dur membawa NU memasuki babak baru dengan memperkuat gerakan sosial-keagamaan, demokrasi, pluralisme, serta memperkokoh posisi NU sebagai organisasi masyarakat sipil yang independen. Masa kepemimpinannya berakhir setelah ia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1999.

KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU 2010–2021

Tongkat estafet kepemimpinan PBNU kemudian dipegang oleh sesama alumnus Krapyak, KH. Said Aqil Siradj.

Pada Muktamar NU ke-32 di Makassar tahun 2010, KH. Said Aqil Siradj terpilih sebagai Ketua Umum PBNU menggantikan KH. Hasyim Muzadi. Lima tahun kemudian, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015, ia kembali memperoleh mandat untuk memimpin PBNU hingga 2021.

Selama dua periode kepemimpinannya, KH. Said Aqil Siradj dikenal aktif memperkuat Islam Wasathiyah (moderat), memperluas jaringan internasional NU, serta mendorong penguatan ekonomi umat dan pemberdayaan warga nahdliyin.

Baca Juga:  Menakar Cara NU dalam Penentuan Lokasi Muktamar, PBNU Siap Gelar Pleno 21 Mei

Gus Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU 2021–2026

Tradisi kepemimpinan dari Krapyak kembali berlanjut ketika KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021.

Gus Yahya merupakan alumnus Pondok Pesantren Krapyak sekaligus keponakan Gus Dur. Di bawah kepemimpinannya, PBNU mengusung agenda transformasi organisasi melalui penguatan tata kelola kelembagaan, digitalisasi administrasi, pengembangan ekonomi warga, serta peningkatan peran NU dalam isu-isu global.

Menjelang Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan pada 2026, Gus Yahya kembali mendapat perhatian sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki peluang untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Tradisi Kaderisasi yang Melahirkan Pemimpin

Lahirnya tiga Ketua Umum PBNU dari lingkungan Pondok Pesantren Krapyak bukanlah sebuah kebetulan. Pesantren yang diasuh KH. Munawwir dan diteruskan oleh KH. Ali Maksum dikenal memiliki tradisi keilmuan yang kuat, memadukan pendalaman ilmu agama, pembentukan karakter, serta keterbukaan terhadap dinamika sosial kebangsaan.

Baca Juga:  Gus Yahya Serukan: “Ya Jabbar Ya Qohar, untuk Perusak NU!”

Tradisi tersebut melahirkan kader-kader yang tidak hanya menguasai ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan di tingkat nasional.

Fakta sejarah ini menjadikan Pondok Pesantren Krapyak sebagai salah satu pesantren dengan kontribusi besar dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Kehadiran Gus Dur, KH. Said Aqil Siradj, dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU pada era yang berbeda menjadi bukti nyata bahwa tradisi kaderisasi pesantren tetap menjadi fondasi penting dalam melahirkan pemimpin-pemimpin NU lintas generasi.

Oleh: Maman Rusmana – Penulis adalah Kader Muda Nahdlatul Ulama Purwakarta 

Disclaimer:Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.

 

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran