MBG dan Lahirnya Borjuis Kecil Bernama Kepala SPPG di Purwakarta

|

GUGAH – Ada bau busuk moral yang menyengat dari balik piring-piring Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Purwakarta. Ketika jutaan anak di akar rumput bersusah payah mengejar ketertinggalan gizi agar terlepas dari jerat stunting, sekelompok bocah ingusan berusia 20-an tahun yang memegang stempel kekuasaan justru mengalami obesitas rekening.

Mari kita sebut nama lembaga itu dengan lantang, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebuah nomenklatur yang terdengar agung, mulia, dan penuh empati. Namun, bocoran percakapan antara Jurnalis dengan sumber yang juga sebagai pelaku dalam aktivitas MBG justru menyingkap tabir kegilaan yang mengerikan. Di lapangan, lembaga pelayan gizi rakyat ini telah disulap menjadi “kerajaan mini” bagi para borjuis kecil kemarin sore untuk bertingkah bak tuhan-tuhan baru penentu hajat hidup orang banyak.

Di republik ini, rakyat jelata harus sekolah belasan tahun dan memeras keringat hingga tipis hanya untuk bisa bertahan hidup. Tapi di lingkaran hitam SPPG Purwakarta, aturan waras itu tidak berlaku. Cukup bermodalkan pelatihan kilat selama tiga bulan—waktu yang bahkan belum cukup untuk membuat sebongkah pohon kelapa berbuah—anak-anak muda berusia 20 hingga 25 tahun ini langsung dihadiahi komando sebagai Kepala Satuan Pelayanan.

Baca Juga:  Diskominfo Garut Pantau Pelaksanaan MBG, Dorong Dapur Gizi Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Akibat karir yang instan layaknya mi rebus, mereka dilepas ke lapangan tanpa kompas moral. Sumber menyebut dengan sangat dingin bagaimana arogansi “bocah-bocah kupon” ini meledak. Karena merasa memegang penuh kendali atas rantai pasok Makan Bergizi Gratis (MBG), mereka memperlakukan para vendor makanan, peternak telur lokal, hingga pejabat daerah yang jauh lebih senior layaknya pelayan toko. Semua yang berkepentingan dengan urusan isi piring rakyat wajib merangkak dan tunduk di bawah perintah para pimpinan muda ini.

“Merka sudah berprilaku birokrat yang dibutuhkan. Seakan-akan kendali MBG dibawah mereka. Maka semua yang ada kaitan dengan SPPG harus tunduk sama mereka. Tapi dilapangan mereka sudah mulai tidak disiplin. Arogansi anak-anak usia 25 tahun mulai menonjol,” kata sumber dalam percakapannya, belum lama ini.

Mari bicara tentang ketidakadilan yang murni. Di usia di mana anak-anak muda lain pontang-panting mencari kerja kasar dengan gaji UMR, para penguasa kalori di SPPG Purwakarta ini dengan santainya mengantongi “uang resmi” sebesar Rp10 hingga Rp 20 juta per bulan.

Baca Juga:  Kebijakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein Wajibkan ASN Naik Angkutan Umum Tiap Rabu Banjir Kritik Netizen

Namun, keserakahan jarang mengenal titik kenyang. Bagi mereka yang “nakal” bermain dalam penentuan pengadaan titik distribusi gizi, nominal belasan juta itu hanyalah modal uang saku mingguan. Sumber menguliti salah satu temuan menjijikkan di Purwakarta, dalam waktu yang sangat singkat, seorang oknum kepala unit muda bisa memborong gawai seharga puluhan juta rupiah hingga membeli kendaraan mewah berharga ratusan juta rupiah secara tunai.

“Salah satu temuan Kapala SPPG di Purwakarta ada yang dalam waktu singkat beli apa yang dia mau dari mulai hp yang (harganya) puluhan juta sampai kendaraan yang ratusan juta. Mereka tidak berdarah-darah berjuang apa makna hidup yang sebenarnya. Ditengah dolar terus meroket BBM naik mereka berkehidupan hedon,” tambahnya.

Tulisan di atas bukan dongeng fiksi. Ini terjadi realita hari ini saat harga BBM mencekik leher rakyat kecil dan nilai tukar dolar melambung tinggi. Di saat rakyat dipaksa puasa berhemat, para pimpinan SPPG ini justru mabuk kemewahan dari anggaran yang seharusnya diteteskan ke mulut anak-anak balita yang kekurangan gizi.

Kekuasaan tanpa kontrol menciptakan ilusi keabadian. Para oknum kepala muda ini merasa memiliki kekebalan hukum absolut. Mereka bersikap ugal-ugalan di lapangan, mengabaikan kedisiplinan kerja, dan memandang rendah semua orang karena merasa posisinya di SPPG tak akan pernah bisa disentuh oleh tangan keadilan.

Baca Juga:  KMP Kawal Kasus Dugaan Gratifikasi dan Korupsi Dana Desa: Tegakkan Keadilan Tanpa Pandang Bulu

Namun, bualan itu berakhir tragis. Begitu petinggi dari Badan Gizi Nasional (BGN) turun gunung dan mencokok salah satu atasan mereka dalam sebuah operasi pembersihan, nyali anak-anak borjuis ini langsung menciut ke titik nadir. Tensi kesombongan yang tadinya meledak-ledak mendadak kempes. Mereka yang tadinya gemar memerintah dengan suara lantang, kini mendadak bisu dan berjalan sambil menunduk lesu.

Nasi sudah menjadi bubur, dan dalam kasus ini, buburnya telah dikorupsi. Skandal Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Purwakarta adalah bukti nyata betapa berbahayanya menyerahkan urusan perut rakyat miskin kepada sekumpulan anak muda narsistik yang tidak pernah tahu perihnya menahan lapar. Pembersihan total dan pengawasan ketat dari BGN bukan lagi sekadar rekomendasi belaka, melainkan sebuah tindakan darurat sebelum seluruh protein untuk masa depan bangsa ini habis dikunyah oleh tikus-tikus kecil berjas birokrat.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran