GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tren pelemahan pada perdagangan Selasa (9/6/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup anjlok 4,52 persen atau turun 252 poin ke level 5.342.
Pelemahan tajam tersebut membuat IHSG berada di titik terendah sejak November 2020. Tekanan pasar juga disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp588 miliar di pasar reguler.
BRI Danareksa Sekuritas menilai sentimen global masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan pasar domestik. Koreksi pada saham-saham teknologi dunia turut menekan sejumlah indeks utama, termasuk Nasdaq dan KOSPI.
Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga menjadi perhatian investor. Cadangan devisa Indonesia tercatat turun selama lima bulan berturut-turut menjadi US$144,9 miliar, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing.
“Dari domestik, pelemahan cadangan devisa yang turun selama lima bulan berturut-turut menjadi USD144,9 miliar turut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar dan aliran modal asing,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.
Dalam jangka pendek, BRI Danareksa memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area support di level 5.200 dan resistance di kisaran 5.600.
Menurut mereka, nilai tukar rupiah yang bertahan di atas Rp18.150 per dolar AS menjadi salah satu risiko utama bagi pasar, terutama jika diikuti berlanjutnya arus keluar dana asing.
“Di sisi lain, eskalasi kembali konflik Iran–Israel meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi mempertahankan sentimen risk-off di IHSG,” tulisnya.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG sudah berada dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), meskipun tren penurunan masih dominan.
“Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume,” ujar Nafan.
Ia menambahkan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social menyerukan penghentian konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Namun demikian, kenaikan harga minyak dunia masih menjadi perhatian. Harga minyak Brent dan WTI masing-masing tercatat menguat 0,82 persen dan 0,11 persen.
“Penguatan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan risiko terhadap fiskal negara importir energi, termasuk Indonesia,” kata Nafan.
Menurutnya, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.187,5 per dolar AS turut memicu arus keluar modal asing dari aset-aset berisiko di dalam negeri.
Meski demikian, peluang terjadinya short covering dan bargain hunting masih terbuka, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah mengalami tekanan berlebihan.
“Pelaku pasar berpotensi mulai selektif masuk ke sektor dengan visibilitas laba lebih baik seperti perbankan, konsumer, telekomunikasi, maupun komoditas yang masih ditopang harga global,” ujarnya.
Di sisi lain, MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi lanjutan.
“Posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [v] dan wave 5 sehingga masih berpotensi melemah. Cermati area 5.184-5.282 sebagai target koreksi berikutnya,” tulis MNC Sekuritas.
MNC memperkirakan area support IHSG berada pada level 5.261 hingga 5.191, sedangkan resistance berada di kisaran 5.462 hingga 5.594.
Rekomendasi Saham Hari Ini
BRI Danareksa Sekuritas
- ADMR
- MSIN
Mirae Asset Sekuritas
- ENRG
- MEDC
- PTRO
MNC Sekuritas
- ASII
- BULL
- JPFA
- NICL.
***



Tinggalkan Balasan