GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada pembukaan perdagangan Senin (8/6/2026). IHSG merosot 199,70 poin atau 3,57 persen ke level 5.395,07, dengan 497 saham melemah, 73 saham menguat, dan 389 saham stagnan.
Tekanan pasar dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Dari luar negeri, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel, memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan lonjakan harga energi.
Di dalam negeri, investor masih mencermati kondisi fiskal pemerintah. Defisit APBN hingga Mei 2026 tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB, meski pemerintah menegaskan kondisi fiskal tetap terkendali.
Sementara itu, indeks dolar AS menguat ke level 100,069, mendorong arus modal keluar dari negara berkembang. Rupiah yang pekan lalu menembus Rp18.000 per dolar AS juga masih berada di bawah tekanan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi konflik Timur Tengah, tingginya harga minyak, serta meningkatnya kebutuhan dolar domestik untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
Kombinasi gejolak geopolitik, penguatan dolar AS, dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal membuat pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan berat pada awal pekan ini.***



Tinggalkan Balasan